Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AFP__20260214__97KU99U__v1__HighRes__FblItaSerieaInterJuventus.jpg
Bek Juventus asal Prancis, Pierre Kalulu, melayangkan protes kepada wasit Federico La Penna setelah diganjar kartu merah saat Inter Milan bentrok dengan Juventus dalam laga Serie A 2025/26 di Stadion San Siro, Milan, 14 Februari 2026. (Foto: AFP)

Intinya sih...

  • Keputusan wasit Serie A Federico La Penna mengusir Pierre Kalulu dari Inter Milan pada menit ke-42 memicu protes keras dari Juventus.

  • Insiden tersebut tidak bisa ditinjau ulang melalui VAR karena regulasi hanya mengizinkan intervensi pada kartu merah langsung, bukan akumulasi kartu kuning.

  • Kepala Komisi Wasit Serie A, Gianluca Rocchi, mengakui kesalahan La Penna dan menyatakan perlunya evaluasi regulasi VAR di Serie A setelah insiden tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Derby d’Italia antara Inter Milan kontra Juventus kembali memantik polemik. Duel panas yang berlangsung di Giuseppe Meazza pada Minggu (15/2/2026) dini hari WIB, tak cuma menyajikan hujan gol, tetapi juga kontroversi kartu merah yang berbuntut panjang.

Inter memenangkan duel melawan Juventus dengan skor 3-2. Namun sorotan utama tertuju pada keputusan wasit Federico La Penna yang mengusir Pierre Kalulu pada menit ke-42, usai menerima kartu kuning lantaran dianggap melanggar Alessandro Bastoni.

Keputusan tersebut langsung memicu protes keras dari kubu Juventus. Walau dianggap melakukan pelanggaran saat duel dengan Alessandro Bastoni, tayangan ulang menunjukkan kontak sangat minim. Banyak pihak menilai Bastoni terjatuh terlalu mudah.

1. Insiden yang tidak bisa ditinjau ulang melalui VAR

Wasit Federico La Penna mengacungkan kartu merah kepada bek Juventus asal Prancis, Pierre Kalulu, saat Inter Milan bentrok dengan Juventus dalam laga Serie A 2025/26 di Stadion San Siro, Milan, 14 Februari 2026. (Foto: AFP)

Masalahnya, insiden itu tidak bisa ditinjau ulang melalui VAR. Sesuai regulasi, Video Assistant Referee hanya dapat mengintervensi kartu merah langsung, bukan akumulasi kartu kuning.

Protokol IFAB hanya mengizinkan intervensi pada gol, penalti, kartu merah langsung, dan salah identitas pemain.

Menurut laporan Football Italia, secara regulasi, wasit tak bisa menggunakan VAR untuk situasi seperti ini. Meski keputusan dianggap keliru, prosedur tetap dijalankan. Celah aturan inilah yang kemudian menjadi perdebatan luas.

Kontroversi ini kembali menempatkan Serie A dalam sorotan. Kompetisi tertinggi Italia tersebut beberapa musim terakhir kerap dihantui perdebatan soal kualitas kepemimpinan wasit. Reputasi liga pun kembali dipertanyakan.

2. Kepala Komisi Wasit Serie A, Gianluca Rocchi, minta maaf

ilustrasi wasit mengecek VAR (pinterest.com/HITC Football)

Kepala Komisi Wasit Serie A, Gianluca Rocchi, akhirnya angkat bicara. Ia mengakui adanya kekeliruan dalam keputusan yang diambil di laga Inter vs Juventus tersebut.

“Kami sangat menyesalkan insiden itu, soal keputusan La Penna yang mana jelas salah, dan untuk fakta bahwa kami tak bisa memakai VAR untuk memperbaikinya,” ujar Rocchi, dilansir kantor berita Italia ANSA.

Rocchi menegaskan La Penna menyadari kesalahannya dan merasa terpukul. Namun ia juga menilai insiden tersebut tidak berdiri sendiri dan melibatkan aspek lain dalam pertandingan.

“La Penna menyesal dan kami dekat dengannya, tapi saya harus mengatakan yang sebenarnya bahwa dia bukanlah satu-satunya yang membuat kesalahan, sebab kemarin jelas ada simulasi (diving),” kata Rocchi kepada ANSA.

3. Perlunya evaluasi regulasi VAR di Serie A

ilustrasi logo Juventus (unsplash.com/yamiable)

Pernyataan itu memicu diskusi baru mengenai perlunya evaluasi regulasi VAR di Serie A. Banyak pihak menilai teknologi seharusnya dapat membantu mencegah keputusan yang berpotensi mengubah jalannya laga besar seperti Derby d’Italia.

Bermain dengan 10 orang sejak akhir babak pertama jelas memengaruhi Juventus. Inter mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk menjaga intensitas dan mengamankan tiga poin penting dalam perburuan gelar.

Kejadian itu membuat Direktur Juventus, Damien Comolli, meluapkan kemarahannya. 

“Apa yang terjadi hari ini memalukan. Ini merupakan sesuatu yang telah dilihat di seluruh dunia. Ini tidak boleh terjadi lagi, dan apa yang terjadi malam ini hanyalah yang terbaru dari banyak hal yang telah terjadi musim ini,” ujarnya.

Ia menilai, Juventus sulit menerima ketidakadilan di lapangan. 

“Kita tidak bisa membicarakan sepak bola hari ini. Pelatih dan para pemain sangat frustrasi setelah apa yang terjadi malam ini,” bebernya.

Editorial Team