Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Statistik Menyakitkan Bayern saat Disingkirkan PSG, Apa yang Salah?
Duel Bayern Munich versus Paris Saint-Germain di semifinal leg 2 Liga Champions, Kamis dini hari WIB (7/5/2026) (AFP / Odd Andersen)
  • Bayern Munich tersingkir di semifinal Liga Champions 2025/26 setelah imbang 1-1 lawan PSG, kalah agregat 5-6 meski mendominasi penguasaan bola dan jumlah umpan.
  • Serangan agresif Bayern dengan 64 upaya dan 18 tembakan gagal berbuah hasil karena kurang kreatif di sepertiga akhir serta hanya mendapat satu sepak pojok sepanjang laga.
  • Kerja keras Bayern dengan jarak tempuh 116,8 km tak cukup menembus pertahanan disiplin PSG, berkat lima penyelamatan penting kiper Matvey Salonov yang menjaga keunggulan agregat timnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bayern Munich gagal ke final Liga Champions musim 2025/26. Langkah mereka terhenti di semifinal, setelah hanya mampu menahan imbang Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 1-1 di Allianz Arena, Kamis (7/5/2026) dini hari WIB.

Hasil imbang itu membuat Die Roten tersingkir dengan skor agregat 5-6. Jika membedah data statistik resmi UEFA, Bayern sebenarnya begitu mendominasi duel. Namun, apa penyebab mereka gagal menaklukkan PSG di hadapan publiknya sendiri?

1. Gol cepat PSG guncang mental Bayern?

Petaka bagi Bayern sudah datang sejak peluit kick-off dibunyikan. Mereka gagal meredam efek kejut PSG, yang pada akhirnya dihukum Ousmane Dembele saat duel baru berusia tiga menit.

Gol kilat ini praktis mengganggu rencana pasukan Vincent Kompany, yang menambah tekanan. Mereka harus menang dengan selisih minimal tiga gol di waktu normal jika ingin lolos tanpa melewati drama perpanjangan waktu dan adu penalti.

Meski tersengat lebih dulu, Bayern mencoba bangkit dengan mendominasi penuh penguasaan bola yang menyentuh 62 persen. Mereka dengan sabar mengalirkan 495 umpan sukses dari 571 percobaan, berbanding jauh dibandingkan PSG yang hanya 229 dari 308.

Sayangnya, dominasi yang kontras itu nyatanya tak mampu membongkar struktur pertahanan berlapis Les Parisiens. Gol balasan yang ditunggu-tunggu baru tercipta pada menit 90+4, lewat kaki Harry Kane, namun semua itu sudah sangat terlambat.

2. Agresif mengurung pertahanan, tapi lini depan tumpul

Selain dominan dalam menguasai bola, para pemain Bayern juga tampil begitu agresif dalam menggempur pertahanan tim asuhan Luis Enrique. Mereka sukses melakukan 64 serangan, dua kali lipat dibandingkan dengan PSG.

Namun, minimnya kreativitas di sepertiga akhir lapangan membuat serangan bergelombang tersebut menjadi jarang klimaks dan mudah dipatahkan. Dari 18 kali percobaan tembakan yang dilepaskan para pemain Bayern, hanya enam yang mengarah ke gawang.

Uniknya, meski menguasai permainan dan terus mengurung lawan, Bayern justru minim mendapatkan keuntungan dari skema bola mati. Mereka hanya mendapat sekali sepak pojok, jauh lebih sedikit ketimbang PSG, yakni delapan kali.

3. Kerja keras tanpa hasil dan ketangguhan Matvey Salonov

Dari segi etos kerja, Joshua Kimmich dan kolega sebenarnya pantas mendapat acungan jempol, karena berlari tanpa henti mengejar defisit gol. Daya jelajah lari mereka menyentuh 116,8 km, sedikit lebih rajin ketimbang para pemain PSG yang menempuh 112,4 km.

Akan tetapi, kerja keras Bayern dibuat frustrasi oleh penampilan impresif Matvey Salonov di bawah mistar gawang PSG. Dia melakukan lima penyelamatan krusial yang membantu rekan-rekannya mempertahankan skor agregat.

Di sisi lain, pertahanan PSG juga tampil spartan dengan jatuh bangun untuk merebut kembali penguasaan bola, dengan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. Meski digempur total, mereka hanya mendapat tiga kartu kuning, dan cuma melakukan tiga pelanggaran di area dekat kotak penalti.

Editorial Team