Luka Modric mengunjungi rumah masa kecilnya di Kroasia. (twitter.com/IntChampionsCup)
Modric dan keluarganya segera melarikan diri dari zona peperangan. Mereka menetap di sebuah hotel yang ditujukan khusus untuk menampung pengungsi di Zadar yang berjarak sekitar 40 kilometer. Hotel tersebut bernama Kolovare yang kini sudah disulap menjadi hotel bintang empat, dilansir SportBible.
Di tempat inilah hari demi hari terus dilalui Modric. Walaupun kabar burung mengenai perang terus bergema, sang ibu selalu memastikan agar Modric tetap menjalani hidup seperti biasanya. Apalagi, saat itu mereka sudah berada di tempat yang aman.
Seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, Modric selalu bermain setiap saat. Ia hobi bermain sepak bola. Kebetulan, hotel di tempatnya mengungsi memiliki tempat parkir dan aula yang cukup luas. Modric dan teman-temannya sering bermain bersama setiap hari, bahkan hingga mengenai kaca hotel.
"Dia (Modric) telah memecahkan lebih banyak kaca di jendela hotel daripada yang terkena bom. Dia bermain sepak bola tanpa henti di sekitar aula hotel," kata seorang juru bicara Hotel Kolovare, seperti dikutip Daily Mail.
Modric menghabiskan tujuh tahun lamanya tinggal di hotel tersebut. Setelah perang resmi berakhir pada 1995, orangtua Modric ditawari kesempatan untuk kembali ke rumah asalnya. Hanya saja, mereka menolak dan tetap tinggal di Zadar demi kebaikan Modric yang masih belia.
Terlepas dari keputusan itu, orangtua Modric sejatinya tak berpikir apa-apa mengenai masa depan sang anak, apalagi menjadi pemain sepak bola profesional. Ditambah situasi finansial yang masih belum mencukupi tak dapat mendukung karier Modric nantinya.
“Orang tuaku tidak kepikiran bahwa aku akan menjadi pesepak bola terkenal. Mereka hanya ingin membantu anak mereka," ujar Modric seperti dikutip dari Give Me Sport.