Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
VIDEO: 6 Gol Spektakuler yang Dicetak Oleh Kiper
pexels.com/ Pixabay

Dalam sebuah pertandingan sepakbola, lazimnya tugas penyerangan untuk mencetak gol sejatinya diserahkan kepada striker, gelandang serang atau pemain sayap. Dan kiper adalah pemain yang sepanjang 90 menit hanya berada di wilayah sekitar gawang guna mencegah bola hasil sepakan atau sundulan pemain lawan untuk masuk.

Tapi berbeda dengan Colin Coosemans, kiper klub sepakbola Belgia KV Mechelen. Seperti diberitakan oleh FourFourTwo Australia, ada pertandingan melawan klub Excel Mouscron hari Minggu (1/10/2017) lalu. Kiper berusia 25 tahun itu memutuskan untuk meninggalkan daerah yang harus dia jaga guna membantu penyerangan. Hal itu terpaksa dilakukannya sebab menjelang pertandingan usai, KV Mechelen tertinggal skor 1-2.

Hal yang sebenarnya sangat berisiko ini rupanya berakhir manis. Sempat kehilangan bola usai menyambut tendangan bebas, Coosemans akhirnya melepaskan umpan silang mendatar yang akhirnya dimanfaatkan rekan setimnya untuk mencetak gol. Skor pun berubah menjadi 2-2.

Uniknya, meski yang mencetak gol adalah Elias Cobbaut, namun kamera tetap menyorot pemain berjuluk "The Magnet" tersebut saat merayakan gol sembari membuka kausnya. Mungkin saja si kameramen masih tidak percaya dengan pemandangan yang dia baru saja saksikan.

Kiper ikut menyerang sebenarnya bukan hal baru dalam sepakbola. Banyak juga yang lihai membobol gawang lawan. Bahkan ada yang mengoleksi lebih dari 100 gol. Berikut ini beberapa kiper tersebut.

Peter Schmeichel (Manchester United)

Kiper legendaris Manchester United dan Timnas Denmark ini mencetak gol penyeimbang pada menit terakhir saat melawan klub asal Rusia, Rotor Volgograd, di ajang UEFA Cup musim 1996-97.

Memanfaatkan tendangan sudut Ryan Giggs, kiper bertubuh raksasa itu melompat menyundul bola tanpa bisa dicegah oleh tim lawan. Skor berakhir seri 2-2, namun United harus menelan pil pahit karena Volgograd menang berkat keunggulan gol tandang.

Sepanjang karirenya, ayah dari kiper Kasper Schmeichel ini mencetak 10 gol dari 748 pertandingan. 

Sinan Bolat (Standard Liege)

Pertandingan terakhir di grup H ajang Liga Champions Eropa musim 2009-10 mempertemukan dua tim terbawah di papan klasemen, Standard Liege asal Belgia dan AZ Alkmaar dari Belanda. Mereka memperebutkan posisi 3 klasemen, tiket otomatis ke babak 32 besar Piala UEFA.

Skor 0-1 untuk tim tamu masih terpampang di layar membuat fans Liege mulai cemas. Peluang terakhir mereka peroleh setelah salah satu penyerang mereka dilanggar oleh bek Alkmaar tepat pada menit 95, menit terakhir.

Kiper asal Turki itu kemudian maju membantu penyerangan. Tak disangka, dia mampu mencetak gol sundulan memanfaat umpan hasil tendangan bebas. Liege memperpanjang nafas di kancah antarklub Eropa.

Gol ini sendiri menjadi satu-satunya sepanjang karir Sinan. Kini pria bekepala plontos itu memperkuat satu klub sepakbola Belgia, Royal Antwerp.

Andres Palop (Sevilla)

Palop menjadi tokoh protagonis pada pertandingan leg kedua pertandingan babak 16 besar Piala UEFA 2006-07 antara timnya, Sevilla, melawan Shakhtar Donetsk asal Ukraina.

Kemenangan dibutuhkan oleh kedua tim agar bisa melaju ke babak 8 besar. Hingga menit ke-94, skor 2-1 untuk tuan rumah Donetsk. Peluang terakhir Sevilla melalui tendangan sudut Dani Alves dikonversi menjadi gol oleh Palop lewat sundulan kepala. Skor menjadi 2-2, dan agregat berubah 4-4. Palop memberi harapan untuk timnya di menit terakhir.

Pertandingan tersebut dimenangkan oleh tim tamu setelah penyerang Javier Chevanton mencetak gol pada menit ke-105 babak perpanjangan waktu, merubah agregat menjadi 4-5. Sevilla keluar menjadi kampiun untuk Piala UEFA musim itu.

Palop yang pensiun pada tahun 2014 lalu sempat menjadi pelatih untuk tim sepakbola divisi tiga CD Alcoyano.

Rogerio Ceni (Sao Paulo)

Tidak ada yang bisa mengelahkan kesetiaan Rogerio Ceni. Dia hanya memperkuat satu klub sepanjang 25 tahun karier sepakbola profesionalnya, yaitu Sao Paulo FC.

Selain piawai menjaga gawang, Ceni juga dikenal sebagai eksekutor tendangan bebas yang akurat. Dia mampu membuat 132 gol dari 1.257 penampilannya, sebagian besar dicetak melalui tendangan bebas dan sebagian lagi lewat tendangan penalti. Bahkan pada musim 2005, dia mampu mengemas 21 gol dari 75 penampilan.

Kiper yang pensiun tahun 2015 lalu itu ditahbiskan sebagai kiper dengan koleksi gol terbanyak sepanjang sejarah sepakbola versi International Federation of Football History & Statistics (IFFHS). Luar biasa!

Jose Luis Chilavert (Tim Nasional Paraguay dan Velez Sarsfield)

Mungkin hanya Jose Luis Chilavert yang mampu menandingi keahlian Rogerio Ceni dalam masalah mencetak gol. Kiper berjuluk "The Bulldog" ini selalu menjadi andalan Timnas Paraguay jika kemampuan tendangan bebas atau penaltinya sedang diperlukan.

Dari 74 penampilannya bersama Paraguay dari tahun 1989 hingga 2003, Chilavert mengemas 8 gol. Setengahnya dia cetak pada fase kualifikasi Piala Dunia 2002.

Di level klub, Chilavert mengumpulkan 59 gol dari 728 penampilan. Ada dua momen yang paling diingat oleh publik saat dia memperkuat klub sepakbola Argentina, Velez Sarsfield. Pertama, saat dia mencetak hattrick melawan Ferro Carril Oeste pada tahun 1999 yang semuanya lewat titik penalti. Kedua, gol tendangan bebasnya dari tengah lapangan saat melawan River Plate tahun 1996.

Kiper yang dikenal temperamental tersebut kini bekerja menjadi komentator sepakbola sejak pensiun pada tahun 2003.

Oscarine Masuluke (Baroka FC)

Tidak familiar dengan namanya? Itu wajar karena Masuluke hanya memperkuat Baroka FC, klub sepakbola asal Afrika Selatan. Namun dirinya sempat mencuri perhatian pecinta sepakbola seluruh dunia.

Pada pertandingan melawan Orlando Pirates akhir November 2016 lalu, Masuluke mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-96 melalui bicycle kick! Baroka yang sempat tertinggal menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Alhasil, gol cantik tersebut menjadi nominator penerima FIFA Puskas Award 2017, sebuah penghargaan dari FIFA untuk gol yang lahir melalui proses luar biasa.

Maaf, Coosemans. Apa yang kamu lakukan jelas kalah dengan kenekatan Masuluke.

Editorial Team