Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wonderkid Panahan Indonesia dan Mimpi Medali Emas Olimpiade
Potret Ahmad Khoirul Baasith. (IDN Times/Tino).
  • Ahmad Khoirul Baasith, atlet panahan 20 tahun, sudah meraih medali perunggu Asian Games 2022 dan emas SEA Games 2025, kini menargetkan emas Olimpiade sebagai puncak kariernya.
  • Basith terinspirasi dari film '3 Srikandi', tetap santai menghadapi tekanan pertandingan, serta menjadikan dirinya sendiri sebagai sosok idola dalam perjalanan kariernya di panahan.
  • Sambil kuliah di FEB Universitas Budi Luhur dan latihan pelatnas, Basith menyoroti minimnya jam terbang internasional atlet Indonesia serta fokus mengejar top 100 dunia dan tiket Olimpiade 2028.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Usianya memang baru menginjak 20 tahun, namun Ahmad Khoirul Baasith sudah menjadi salah satu ujung tombak masa depan panahan Indonesia. Pria yang akrab disapa Basith ini telah membuktikan tajinya dengan menyabet medali perunggu di Asian Games 2022 dan medali emas SEA Games 2025 di nomor beregu.

Di balik wajah santainya, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Budi Luhur ini menyimpan ambisi besar yang tak main-main. Basith tak sekadar puas dengan medali level Asia, melainkan sudah menargetkan kepingan emas Olimpiade sebagai tujuan utama dalam kariernya.

1. Makin mantap di panahan gara-gara film tiga Srikandi

Siapa sangka, perjalanan Basith di dunia panahan ternyata berawal dari sebuah film layar lebar. Setelah sempat mencicipi ekstrakurikuler panahan saat SD, motivasinya benar-benar meledak usai menonton film legendaris "3 Srikandi."

"Dulu tuh nonton film 3 Srikandi, terus kayak, kok keren gitu ya dimasukin film. Dari situ saya kepicu, saya mau jadi juara Olimpiade," kenang Basith dalam wawancara khusus bersama IDN Times.

Namun, perjalanannya tidaklah mudah dan murah, mengingat panahan tergolong salah satu cabang olahraga dengan modal yang cukup menguras kantong. Beruntung, dukungan penuh dari orang tua membuat Basith merasa pantang menyia-nyiakan kepercayaan tersebut.

"Awal-awal emang berat, karena kan panahan mahal ya. Termasuk olahraga mahal. Beli alat ini itu, ini itu. Alat kecil aja kayak mahal banget gitu. Terus kebetulan ada rezeki, cobain beli yang high-end-nya. Terus saya seriusin. Soalnya kan lumayan juga udah buang-buang duit, tapi enggak diseriusin kan sayang aja," ujar Basith.

2. Santai hadapi turnamen, idola adalah diri sendiri

Sebagai atlet muda, Basith punya cara unik dalam menghadapi tekanan jelang tampil di panggung besar. Alih-alih tegang atau melakukan ritual khusus, atlet berusia 20 tahun itu memilih santai dan tidak terlalu memusingkan pertandingan.

"Kalau kebanyakan mikir, mau itu tanding atau saat lagi nembak, nanti malah ambyar. Jadi saya usahakan saat pertandingan teknik nembaknya sama kayak pas latihan," beber Basith.

Menariknya lagi, saat ditanya siapa sosok yang menjadi idolanya di dunia panahan, Basith memberikan jawaban yang cukup percaya diri. Bukan nama legenda macam Kusuma Wardhani atau Leane Suniar, tetapi dirinya sendiri.

"Enggak ada sih, idola mah saya sendiri," jawab Basith.

Potret Ahmad Khoirul Baasith. (indonesiaarchery.org).

3. Bagi waktu antara pelatnas dan jadwal kuliah

Saat ini, Basith dan rekan-rekannya di pelatnas sedang menjalani program desentralisasi dengan latihan di daerah masing-masing. Jadwal latihannya cukup padat, mulai dari latihan fisik hingga menembak dari Senin hingga Sabtu.

Di sela-sela kesibukan membidik sasaran, Basith masih harus membagi pikiran dan fokusnya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Semua demi rencana masa tuanya, untuk mengembngkan bisnis keluarga.

"Saya mau bantuin bisnis orang tua sih paling, makanya ambil FEB," tutur Basith.

Potret Ahmad Khoirul Baasith. (indonesiaarchery.org).

4. Sentil minimnya jam terbang internasional

Basith juga menyentil salah satu kendala utama yang menghambat perkembangan atlet panahan Indonesia, yakni minimnya jam terbang. Padahal, negara lain, rutin mengirim atletnya beradu akurasi di kejuaraan internasional.

"Kalau di Indonesia tuh kayak sekali berangkat harus dapat medali. Sebenarnya Indonesia bisa maju kalau ngikutin negara lain, ngikut semua event," curhatnya Basith

Kondisi ini membuat Basith kadang merasa belum menemukan cara paten untuk mengatasi rasa grogi saat bertanding di level internasional. Padahal, pengalaman bertanding di berbagai cuaca dan tekanan lawan jauh lebih mahal nilainya ketimbang sekadar berlatih setahun penuh di pelatnas.

5. Kejar top 100 dunia dan tiket Olimpiade 2028

Untuk tahun ini, target terdekat Basith adalah mendongkrak peringkatnya agar bisa tembus ke jajaran 100 besar dunia. Ia juga berharap bisa memperbaiki catatan individunya di Asian Games 2026 mendatang, minimal bisa menembus babak perempat final nomor individu.

Misi besarnya tentu saja adalah merebut tiket menuju Olimpiade Los Angeles 2028 yang masih terbuka lebar. Ada dua jalur kualifikasi yang bisa ditempuh, yakni melalui peringkat dan perebutan tiket di kualifikasi.

Menutup obrolan, Basith memberikan satu kutipan motivasi yang selalu ia pegang teguh. "Terus berusaha sampai suara ejekan menjadi suara tepuk tangan," ujarnya dengan mantap.

Editorial Team