Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara Merawat Baterai Lithium agar Tak Mudah Terbakar
ilustrasi perbaikan smartphone (unsplash.com/Joel Rohland)
  • Kebakaran di Gedung Terra Drone, Kemayoran, menewaskan 22 orang dan diduga dipicu baterai lithium yang digunakan untuk perangkat drone.
  • Baterai lithium umum dipakai di berbagai perangkat elektronik namun berisiko tinggi terbakar jika tidak dirawat sesuai prosedur keselamatan.
  • Pencegahan dilakukan dengan memakai charger resmi, menghindari overcharge, menjaga sirkulasi udara saat pengisian, serta menyimpan baterai pada suhu ideal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Baterai lithium sempat kembali menjadi perhatian publik pasca kebakaran di Gedung Terra Drone, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 9 Desember 2025 silam. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 22 orang dan berlangsung sangat cepat, sehingga banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri. Berdasarkan informasi awal, sumber api diduga berasal dari baterai lithium yang digunakan untuk mengoperasikan perangkat drone.

Meski insiden yang terjadi di Gedung Terra Drone melibatkan baterai pada perangkat khusus drone, pada dasarnya jenis baterai yang digunakan tidak jauh berbeda. Baterai lithium merupakan sumber daya yang umum dipakai pada berbagai perangkat elektronik, mulai dari smartphone, laptop, tablet, dan smartwatch, hingga drone. Namun, di balik efisiensi dan kepadatan energinya yang tinggi, baterai lithium menyimpan potensi risiko serius apabila tidak digunakan dan dirawat sesuai prosedur keselamatan.

Temuan riset dari Large Battery mengungkap bahwa 45 persen pengguna kerap mengisi daya baterai secara berlebihan sehingga mengabaikan dampak kerusakan akibat kebiasaan pengisian yang tidak tepat. Praktik tersebut dapat meningkatkan suhu baterai. Melalui langkah pencegahan yang tepat dan kebiasaan penggunaan yang benar, risiko kebakaran akibat baterai lithium dapat ditekan.

1. Gunakan charger resmi dan sesuai spesifikasi

ilustrasi pengisian daya tablet (unsplash.com/Mike Winkler)

Penggunaan charger resmi sesuai rekomendasi pabrikan menjadi dasar penting dalam menjaga keamanan baterai lithium. Charger tersebut dirancang untuk menyalurkan arus dan tegangan secara presisi agar baterai tetap bekerja dalam batas aman. Saat charger yang tidak sesuai spesifikasi digunakan, aliran listrik berpotensi menjadi tidak stabil dan memicu kenaikan suhu berlebih. Kondisi ini dapat mempercepat kerusakan sel baterai sekaligus meningkatkan risiko kegagalan sistem proteksi internal.

Sebaliknya, charger palsu kerap mengabaikan standar keselamatan yang semestinya. Sebagian charger jenis ini tidak dilengkapi fitur pemutus daya otomatis (auto cut off) ketika baterai telah terisi penuh. Akibatnya, baterai terus menerima pasokan daya meski kapasitasnya sudah maksimal. Dalam jangka panjang, praktik tersebut dapat meningkatkan risiko overheating dan memicu kebakaran.

2. Hindari overcharge dan kebiasaan mengisi daya semalaman

ilustrasi pengisian daya smartphone (unsplash.com/Onur Binay)

Overcharge merupakan salah satu faktor utama penyebab kebakaran pada baterai lithium. Pengisian daya yang berlangsung terlalu lama dapat meningkatkan suhu internal baterai secara bertahap. Saat panas tidak terdisipasi dengan optimal, risiko terjadinya thermal runaway pun meningkat. Thermal runaway merupakan kondisi ketika suhu baterai meningkat tak terkendali akibat reaksi kimia internal. Kondisi ini sangat berbahaya karena mampu memicu percikan api hingga ledakan kecil.

Kebiasaan mengisi daya semalaman juga perlu mendapat perhatian serius. Banyak pengguna membiarkan perangkat tetap tersambung ke sumber listrik meskipun kapasitas baterai telah penuh. Akibatnya, baterai terus mengalami tekanan panas dalam waktu lama. Melepas charger setelah baterai terisi penuh merupakan langkah yang efektif untuk mencegah risiko tersebut.

3. Perhatikan lokasi dan sirkulasi udara saat mengisi daya

Siklus pengisian daya baterai yang baik untuk menjaga kesehatan baterai (apple.com)

Lokasi pengisian daya berpengaruh besar terhadap kestabilan suhu baterai lithium. Saat pengisian dilakukan di ruang tertutup atau area yang memiliki ventilasi terbatas, panas cenderung terperangkap di sekitar baterai. Kondisi tersebut membuat suhu meningkat lebih cepat hingga melampaui batas aman. Situasi seperti ini sering terjadi ketika perangkat diisi daya di atas kasur, sofa, atau bantal yang menyerap dan menahan panas.

Sebaliknya, pengisian daya sebaiknya dilakukan di permukaan keras dan rata dengan sirkulasi udara memadai. Ruang terbuka membantu pelepasan panas secara alami sehingga suhu baterai tetap terkendali. Menjauhkan perangkat dari bahan mudah terbakar, seperti kain dan kertas, juga dapat menekan risiko jika terjadi gangguan pada baterai. Kebiasaan sederhana ini kerap menjadi faktor penentu antara penggunaan yang aman dan potensi insiden berbahaya.

4. Rutin memeriksa kondisi fisik baterai

ilustrasi baterai LiPo (Lithium Polymer) (commons.wikimedia.org/Rhorton4549)

Pemeriksaan rutin terhadap kondisi fisik baterai merupakan langkah pencegahan yang krusial. Tanda-tanda seperti baterai mengembung, retak, bocor, atau mengeluarkan bau tidak normal menunjukkan adanya kerusakan internal. Dalam kondisi ini, baterai menjadi sangat tidak stabil dan berisiko tinggi mengalami kebakaran. Mengabaikan tanda-tanda tersebut dapat berujung pada insiden serius.

Jika kerusakan terdeteksi, penggunaan baterai harus segera dihentikan. Mengganti baterai yang bermasalah jauh lebih aman dibanding mempertahankannya demi alasan efisiensi biaya. Baterai rusak sebaiknya dibuang melalui jalur daur ulang resmi agar tidak membahayakan lingkungan. Langkah cepat dan tegas dapat mencegah risiko yang lebih besar di kemudian hari.

5. Simpan baterai di suhu ruang dan hindari suhu ekstrem

ilustrasi baterai lithium (unsplash.com/Tyler Lastovich)

Menyimpan baterai lithium di lingkungan yang sejuk dan kering berperan penting dalam menjaga kestabilan reaksi kimia di dalamnya. Mengacu pada rekomendasi dari situs Large Battery, baterai lithium idealnya disimpan pada rentang suhu 15 derajat Celcius hingga 40 derajat Celcius. Suhu di bawah −25 derajat Celcius maupun di atas 65 derajat Celcius sebaiknya dihindari karena dapat mempercepat degradasi sel dan meningkatkan risiko keselamatan. Paparan panas berlebih mempercepat reaksi kimia internal, sehingga baterai lebih rentan mengalami overheating. Situasi ini kerap terjadi ketika baterai terpapar sinar matahari langsung atau dibiarkan di dalam kendaraan yang tertutup.

Suhu ekstrem dingin pun membawa risiko tersendiri, terutama saat proses pengisian daya berlangsung. Kondisi ini dapat memicu kerusakan internal yang berpotensi menyebabkan korsleting. Menjaga baterai tetap berada dalam rentang suhu yang direkomendasikan membantu memperpanjang usia pakai sekaligus menekan kemungkinan terjadinya kebakaran. Penyimpanan yang tepat menjadi bagian penting dari perawatan baterai lithium dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi baterai lithium, pengguna tetap memegang peran besar dalam menjamin keamanannya. Seluruh langkah perawatan tersebut sebaiknya diterapkan secara konsisten demi menjaga daya tahan dan performa baterai tetap optimal. Melalui kebiasaan yang disiplin dan perawatan rutin, risiko insiden serius akibat baterai lithium dapat diminimalisasi secara signifikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team