Baterai lithium sempat kembali menjadi perhatian publik pasca kebakaran di Gedung Terra Drone, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 9 Desember 2025 silam. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 22 orang dan berlangsung sangat cepat, sehingga banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri. Berdasarkan informasi awal, sumber api diduga berasal dari baterai lithium yang digunakan untuk mengoperasikan perangkat drone.
Meski insiden yang terjadi di Gedung Terra Drone melibatkan baterai pada perangkat khusus drone, pada dasarnya jenis baterai yang digunakan tidak jauh berbeda. Baterai lithium merupakan sumber daya yang umum dipakai pada berbagai perangkat elektronik, mulai dari smartphone, laptop, tablet, dan smartwatch, hingga drone. Namun, di balik efisiensi dan kepadatan energinya yang tinggi, baterai lithium menyimpan potensi risiko serius apabila tidak digunakan dan dirawat sesuai prosedur keselamatan.
Temuan riset dari Large Battery mengungkap bahwa 45 persen pengguna kerap mengisi daya baterai secara berlebihan sehingga mengabaikan dampak kerusakan akibat kebiasaan pengisian yang tidak tepat. Praktik tersebut dapat meningkatkan suhu baterai. Melalui langkah pencegahan yang tepat dan kebiasaan penggunaan yang benar, risiko kebakaran akibat baterai lithium dapat ditekan.
