Membangun hype yang tinggi sebelum perilisan sebuah gadget baru, menjadi strategi ampuh untuk menarik emosi dan ekspektasi calon pengguna. Masalahnya, ekspektasi ini harus seimbang dengan kenyataan. Jika terlalu dibesar-besarkan malah bisa menjadi bumerang ketika produknya tidak memenuhi janji. Di industri teknologi, praktik semacam ini sudah menjadi budaya tersendiri. Memang ada gadget yang tetap sukses meski terlalu dipromosikan, tapi tidak sedikit juga yang gagal total karena janji di awal terlalu tinggi untuk benar-benar terealisasi. Berikut beberapa di antaranya.
6 Gadget Overhype yang Berujung Gagal Ketika Dirilis

1. Humane AI Pin
Kemunculan chatbot AI modern seperti ChatGPT dan Google Gemini sempat memicu ide perangkat wearable khusus AI dalam bentuk alat kecil yang dibekali “mata dan telinga” serta siap membantu kapan saja. Secara konsep memang terdengar menarik, meski sebenarnya kebutuhan itu sudah bisa ditangani secara langsung di HP, tanpa perangkat tambahan. Akan tetapi, Humane mencoba mewujudkan konsep itu lewat AI Pin, perangkat mahal yang diposisikan sebagai pengganti HP. Sayangnya, eksekusinya jauh dari harapan. Performanya lemot, cepat panas, baterainya boros dan alih-alih membantu malah membuat frustrasi. Alhasil, setelah dirilis pada 2024 dengan hype besar, AI Pin langsung dihujani kritik hingga akhirnya dianggap gagal total dan “mati” di 2025.
2. Microsoft Kin
Nama Microsoft berasal dari gabungan “microcomputer” dan “software,” dan memang perusahaan ini besar karena software, bukan hardware. Tapi ironisnya, Microsoft berkali-kali gagal ketika mencoba masuk ke pasar hardware atau gadget. Salah satu contohnya adalah HP bernama Kin yang ditargetkan untuk pengguna remaja yang suka bermain media sosial. Masalahnya, Kin bukan HP sungguhan karena tidak ada aplikasi atau game, tapi tetap butuh paket data yang mahal. Hasilnya, penjualan Kin sangat rendah (disebut-sebut hanya terjual sekitar 500 unit saja), dan produksinya akhirnya dihentikan dalam waktu kurang dari empat bulan sejak pertama kali dirilis pada April 2010.
3. Google Glass
Google Glass sempat menjadi bahan olok-olokan publik sebagai pertanda jelas bahwa produk ini tidak diterima dengan baik. Dirilis ke publik pada 2014, Google Glass merupakan salah satu perangkat wearable berbasis AR pertama yang cukup canggih pada masanya, dengan desain minimalis sekaligus ringan, touchpad, kamera depan dan layar kecil yang diproyeksikan langsung ke mata untuk menampilkan informasi. Namun, masalah utama langsung muncul, terutama soal privasi karena pengguna khawatir mereka bisa direkam diam-diam, bahkan di tempat sensitif seperti kamar mandi atau ruang ganti. Meski penjualannya mengecewakan, kini perangkat berjenis kacamata pintar mulai lebih diterima dan Google pun dikabarkan akan mencoba lagi.
4. OUYA
Dulu, situs crowdfunding seperti Kickstarter sempat dianggap sebagai gebrakan besar. Salah satu produk yang melakukan penggalanan dana lewat Kickstarter adalah OUYA, sebuah konsol berbasis Android yang menjanjikan platform terbuka bagi studio game indie. Sayangnya, meski sempat hype dan didukung pendanaan besar, OUYA cepat gagal dalam waktu sekitar dua tahun. Masalah utamanya bukan hanya spesifikasi yang biasa saja, tapi juga minimnya game eksklusif yang benar-benar menarik. Kebanyakan game yang tersedia hanyalah game Android yang notabene yang sudah bisa dimainkan di HP. Meski begitu, pada masanya tetap ada beberapa pengguna yang menyukainya sebagai emulator untuk memainkan game lawas di TV.
5. Apple Vision Pro
Apple Vision Pro mungkin belum resmi “gagal” karena sampai sekarang masih dijual, tapi banyak tanda yang mengarah ke sana. Rumor menyebut bahwa Apple tidak akan melanjutkan ke Vision Pro 2 atau versi lebih murah, dan beralih fokus ke kacamata pintar seperti yang dikembangkan Meta dan Google. Masalah utama Vision Pro ada di harga yang sangat mahal, tanpa nilai kegunaan yang benar-benar jelas bagi kebanyakan pengguna. Selain itu, para developer juga belum tertarik mengembangkan aplikasi khusus di Vision Pro, sehingga ekosistem aplikasinya masih kalah jauh dari kompetitor seperti Meta Quest. Hal tersebut akhirnya menciptakan lingkaran masalah di mana pengguna enggan beli karena aplikasinya minim, sementara developer tidak mau mengembangkan aplikasi karena penggunanya sedikit.
6. Xbox One
Perilisan Xbox One pada 2013 sering dianggap sebagai salah satu momen paling kacau dalam sejarah industri gaming. Microsoft seolah menjatuhkan diri mereka sendiri setelah sebelumnya sukses besar dengan Xbox 360 yang mampu bersaing ketat hingga bahkan mengungguli PS3. Antusiasme tinggi dari para pemain berubah menjadi kekecewaan ketika Microsoft lebih banyak membahas fitur hiburan seperti menonton TV daripada bermain game. Selain itu, ada kebijakan kontroversial seperti keharusan selalu online dan pembatasan jual-beli game bekas. Meski Microsoft akhirnya menarik beberapa kebijakan tersebut, Sony sudah lebih dulu memanfaatkan momentum ini lewat strategi pemasaran yang kuat, sehingga PS4 bisa mendominasi penjualan hingga dua kali lipat.
Itulah tadi ulasan mengenai beberapa gadget overhype yang berujung gagal ketika dirilis. Selain beberapa gadget di atas, gadget apa lagi yang menurutmu langsung gagal ketika baru diluncurkan?