iPhone Air (commons.wikimedia.org/Ahmad Ali Karim)
Apple memprioritaskan rancangan bodi setebal 5,6 milimeter dengan baterai berkapasitas 3.149 mAh pada iPhone Air. Pilihan desain itu menghasilkan iPhone dengan kapasitas suplai daya terkecil dalam seluruh lini iPhone 17. Hasilnya, mereka harus memotong pesanan produksi komponen hingga 80 persen untuk merespons angka penjualan pasar yang mengecewakan.
Apple menolak memakai teknologi silicon-carbon termutakhir sejak awal perancangan iPhone Air. Padahal, senyawa silicon-carbon nano bisa menyimpan lithium-ion sepuluh kali lebih besar dari material grafit tradisional. Oleh karena itu, mereka membuang peluang emas untuk mempertahankan desain super tipis dengan ketahanan baterai sepanjang hari.
Berbagai produsen HP dari China sudah menerapkan inovasi baterai silicon-carbon ke pada produk ultratipis. Sebagai perbandingan, TECNO berhasil menanamkan baterai berkapasitas 5.160 mAh dalam bodi setebal 5,95 milimeter pada Pova Slim 5G. Sementara, Apple tetap memilih penggunaan sel lithium-ion tradisional untuk menghindari risiko tekanan sasis bodi dari pemuaian senyawa baru itu.
Kesimpulannya, berbagai pihak mengkritik keras rancangan super tipis iPhone Air karena kapasitas baterai yang sangat kecil. Oleh karena itu, pengguna selalu membutuhkan powerbank untuk menyuplai daya tambahan. Pada akhirnya, powerbank itu menambah ketebalan fisik iPhone ini saat dipakai.