Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
MacBook Neo Jadi Bukti Taji Apple di Era John Ternus
MacBook Neo (apple.com)
  • John Ternus tampil sebagai wajah baru Apple lewat peluncuran MacBook Neo, menandai transisi kepemimpinan menuju era baru yang lebih berani dan inklusif.
  • MacBook Neo hadir dengan harga terjangkau sekitar Rp10,3 juta, membuka akses bagi pelajar dan pengguna baru untuk masuk ke ekosistem Apple tanpa kehilangan kualitas khasnya.
  • Langkah ini menunjukkan strategi Apple di bawah Ternus yang berfokus pada inovasi berani, efisiensi produk, serta menjaga keseimbangan antara harga kompetitif dan pengalaman premium.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sosok calon CEO Apple baru, John Ternus, mulai menonjol saat perusahaan memperkenalkan MacBook Neo ke hadapan publik dalam sebuah acara media. Mengutip situs Engadget (27/4/2026), Ternus memosisikan MacBook Neo sebagai perangkat transformatif berkat harga terjangkau, yakni 599 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp10,3 juta. Ia juga tampil dalam wawancara di program Good Morning America yang biasanya ditangani langsung oleh CEO Apple, Tim Cook.

Kehadiran Ternus tak berhenti di atas panggung peluncuran. Ketika sejumlah pekerja Apple ditanya soal MacBook Neo dalam acara tersebut, mereka hampir selalu menyinggung visi Ternus terhadap laptop ini. Dalam banyak hal, Ternus menjadi wajah utama Apple untuk MacBook Neo.

Hal ini terasa penting karena Ternus dijadwalkan naik sebagai CEO Apple per 1 September 2026. Peluncuran MacBook Neo jadi bukti taji Apple di era John Ternus dan merupakan pertanda arah Apple di masa depan. Lantas, seperti apa wajah Apple di bawah kepemimpinan John Ternus?

1. Apple mulai berani keluar dari zona nyaman

iPhone 16e (apple.com)

Selama ini Apple sangat bergantung pada citra premium yang melekat kuat pada mereknya. Perusahaan tersebut praktis meninggalkan pasar iPhone murah seperti era SE dan 5C. Bahkan iPhone 16e dan 17e yang dibanderol seharga Rp10,3 juta tetap lebih mahal dibanding banyak smartphone Android kelas menengah.

Karena itu, kehadiran MacBook Neo terasa berbeda. Apple mengambil langkah berani untuk memasukkan prosesor mobile ke komputer penuh, sebuah keputusan yang berisiko membuat performanya dianggap kurang kuat. Perusahaan juga bertaruh untuk tetap memakai RAM 8 GB karena spesifikasi yang bagi banyak penggemar teknologi dinilai terlalu minim.

Neo memang tidak menciptakan kategori produk baru. Namun, cukup sebagai laptop murah, perangkat ini sudah terasa tidak biasa untuk standar Apple. Selama bertahun-tahun, perusahaan tersebut lebih identik dengan harga tinggi dan segmentasi premium

2. MacBook Neo berpotensi sukses besar

MacBook Neo (apple.com)

Meski margin keuntungannya diyakini lebih tipis dibanding MacBook Air atau Pro, MacBook Neo berpotensi memberi nilai strategis yang jauh lebih besar bagi Apple. Produk ini bisa menjadi pintu masuk ke ekosistem Apple bagi anak-anak, pelajar, dan mahasiswa yang sebelumnya sulit menjangkau lini MacBook. Selain itu, MacBook Neo juga berpotensi menggoda pengguna Windows untuk berpindah.

Harga yang lebih terjangkau membuat hambatan untuk masuk ke ekosistem Apple menjadi lebih rendah. Jika strategi ini berhasil, Apple bukan hanya menjual satu perangkat. Perusahaan juga membuka peluang penjualan layanan digital dan produk lain di masa depan, mulai dari iPhone, iPad, hingga Apple Watch.

3. Harga boleh murah, tetapi tetap terasa kualitas khas Apple

MacBook Neo (apple.com)

Yang membuat MacBook Neo menonjol bukan hanya harganya, melainkan kualitas yang tetap terus dijaga. Mengutip situs Engadget (27/4/2026), perangkat ini dinilai memiliki build quality, layar, keyboard, speaker, dan trackpad terbaik di kelas laptop Rp10 jutaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Apple tak serta-merta memangkas kualitas demi menekan harga.

MacBook Neo menjadi bukti bahwa perangkat terjangkau tak harus terasa murahan. Apple mampu memanfaatkan integrasi hardware dan software untuk menghasilkan pengalaman penggunaan yang tetap mulus. Jika biasanya laptop murah identik dengan kompromi besar, Neo justru hadir sebagai anomali. Ia membuka kemungkinan baru bahwa laptop entry-level juga bisa tampil solid dan menyenangkan untuk digunakan.

4. Taji John Ternus mulai terlihat

John Ternus menjadi CEO Apple per 1 September 2026 (apple.com)

Walau MacBook Neo jadi bukti taji Apple di era John Ternus, seluruh kredit tidak bisa diberikan kepada dirinya saja. Di belakangnya ada tim manajer produk dan insinyur yang menangani desain dan pengembangan perangkat. Namun, sulit menampik pencapaian menghadirkan laptop di kisaran Rp10 jutaan yang tidak terasa murahan.

John Ternus sendiri bukan nama baru di Apple. Selama 25 tahun berkarier, ia terlibat dalam pengembangan hampir semua lini produk utama, mulai dari Mac, iPad, iPhone, hingga Apple Watch. Pengalaman itu memberinya sudut pandang luas mengenai arah masa depan Apple.

Mampukah Apple di bawah Ternus terus berinovasi tanpa mengorbankan kualitas dan perhatian pada detail yang selama ini menjadi ciri khas perusahaan? Jika Neo menjadi gambaran awal, maka era John Ternus bisa menjadi masa ketika Apple lebih berani bereksperimen, tetapi tetap menjaga standar kualitas tinggi yang selama ini menjadi kekuatannya. Kita tunggu saja gebrakannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team