Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Robot Humanoid China Kini Bisa Main Tenis, Ini Teknologi di Baliknya
aksi robot humanoid yang bisa main tenis (youtube.com/Galbot)
  • Robot humanoid hasil kolaborasi Galbot dan Tsinghua University berhasil bermain tenis secara real-time, menunjukkan kemajuan embodied AI yang mampu meniru koordinasi dan respons manusia dalam permainan kompleks.
  • Teknologi LATENT memungkinkan robot mempelajari gerakan tenis dari data manusia tidak sempurna, membangun keterampilan bertahap hingga menghasilkan gerakan natural dan adaptif di lapangan.
  • Dukungan ekosistem inovasi di distrik Haidian, Beijing—melibatkan universitas, industri, serta investasi besar pemerintah—mendorong percepatan riset robotika dan penerapan kecerdasan buatan di berbagai sektor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kemajuan kecerdasan buatan mulai merambah ke arena olahraga. Sebuah robot humanoid hasil kolaborasi antara Galbot dan Tsinghua University berhasil mendemonstrasikan kemampuan bermain tenis secara real-time. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa teknologi embodied AI berkembang pesat dan kian mampu meniru kemampuan manusia secara kompleks.

Mengutip laporan China Daily, robot ini dikembangkan di distrik Haidian, Beijing, yang dikenal sebagai pusat inovasi teknologi di China. Kawasan tersebut tengah mendorong percepatan riset dan penerapan kecerdasan buatan di berbagai sektor. Dalam dunia robotika, tenis menjadi salah satu tantangan paling kompleks karena menuntut koordinasi presisi dan respons cepat terhadap pergerakan bola.

Berkat penelitian tersebut, robot humanoid China kini bisa main tenis. Penasaran dengan proses pengembangan robot ini? Berikut aksi menarik robot humanoid hasil pengembangan Galbot dan Tsinghua University.

1. Robot humanoid mampu melacak bola dan menentukan posisi terbaik sebelum melakukan pukulan

aksi robot humanoid mampu melacak arah bola (youtube.com/Galbot)

Robot humanoid ini dirancang untuk menghadapi permainan tenis yang serba cepat dan dinamis. Ia mampu melacak pergerakan bola, memperkirakan lintasan, dan menempatkan diri di posisi paling optimal sebelum melakukan pukulan. Seluruh proses tersebut berjalan melalui pembelajaran mandiri, koordinasi tubuh secara menyeluruh, dan pengambilan keputusan dalam waktu nyata. Berkat kemampuan ini, robot dapat merespons jalannya permainan tanpa campur tangan manusia.

Tak hanya itu, robot juga sanggup mempertahankan rally dalam beberapa pukulan melawan pemain dengan gaya permainan yang beragam. Dalam pengujian, tingkat keberhasilan pengembalian forehand mencapai 90,9 persen. Tenis dikenal sebagai salah satu tantangan tersulit dalam robotika karena menuntut kecepatan, akurasi, dan interaksi kompetitif. Hasil ini menegaskan bahwa robot mulai mampu beradaptasi dalam situasi kompleks layaknya pertandingan nyata.

Kemampuan adaptasi robot juga terlihat dari caranya menyesuaikan ritme permainan sesuai lawan. Ia dapat merespons perubahan arah bola dan tempo permainan secara fleksibel. Hal ini menunjukkan bahwa robot bisa belajar dari kondisi yang dihadapi.

2. Keberhasilan robot ini tidak lepas dari teknologi LATENT

ilustrasi robot humanoid (youtube.com/Galbot)

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran sistem pelatihan bernama LATENT (Learning Athletic Humanoid Tennis Skills from Imperfect Human Motion Data). Teknologi ini memungkinkan robot mempelajari gerakan dari data manusia yang tidak sempurna, alih-alih hanya mengandalkan data profesional yang presisi tinggi. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih efisien sekaligus mendekati kondisi nyata di lapangan. Robot pun dapat memahami pola gerakan dasar tanpa bergantung pada data ideal.

LATENT bekerja dengan memecah permainan tenis menjadi elemen-elemen dasar, seperti membaca arah bola, memprediksi lintasan, bergerak ke posisi tertentu, hingga mengeksekusi pukulan. Setiap komponen dipelajari secara terpisah sebelum disatukan menjadi satu rangkaian aksi yang utuh. Metode ini membantu robot membangun keterampilan secara bertahap dan tetap terstruktur. Hasil akhirnya adalah gerakan yang lebih natural dan responsif.

Dihimpun dari Interesting Engineer, sistem ini hanya memanfaatkan sekitar 5 jam data gerakan manusia yang dikumpulkan dari pemain amatir. Meski tidak sempurna, data tersebut tetap menyimpan pola yang bisa diolah menjadi pembelajaran bermakna. Dari sinilah robot mampu mengembangkan gerakan yang lebih kompleks.

3. Pengembangan robot humanoid membuka peluang di dunia olahraga

robot humanoid Galbot (youtube.com/Galbot)

Pengembangan robot humanoid ini membuka peluang luas di berbagai sektor. Menurut pendiri sekaligus CTO Galbot, Wang He, robot berkaki memiliki potensi besar dalam bidang hiburan, pendidikan, hingga pelatihan olahraga. Dalam konteks tenis, robot dapat menjadi partner latihan yang konsisten bagi pemain dari berbagai level kemampuan.

Selain itu, robot juga berpotensi digunakan sebagai media pembelajaran interaktif. Siswa dapat memahami konsep gerakan dan koordinasi melalui simulasi langsung. Sementara itu, sektor hiburan bisa memanfaatkan teknologi ini untuk menciptakan pengalaman yang lebih menarik dan imersif.

Di sisi komersial, Galbot telah mengoperasikan lebih dari 100 toko ritel otomatis di berbagai kota di China. Sistem ini mampu menangani lebih dari 300.000 pesanan dan menjual sekitar 1 juta produk hingga saat ini. Implementasinya sudah mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.

4. Kunci sukses keberhasilan robot humanoid di Haidan

potret Haidian Huangzhuang (commons.wikimedia.org/Yaroslav Blanter)

Keberhasilan ini juga didukung oleh ekosistem teknologi yang kuat di distrik Haidian, Beijing. Wilayah ini telah menarik lebih dari 300 inovator robotika berbasis embodied intelligence, termasuk 24 produsen robot humanoid, 3 perusahaan terdaftar, 5 unicorn, dan 19 perusahaan spesialis. Data tersebut mencerminkan pesatnya pertumbuhan industri robotika di kawasan tersebut.

Selain itu, terdapat 21 universitas dan lembaga riset yang berkontribusi dalam pengembangan teknologi ini. Total talenta yang terlibat mencapai sekitar 19.000 orang, menciptakan ekosistem inovasi yang solid. Kolaborasi antara dunia akademik dan industri berjalan secara intensif sehingga inovasi dapat segera diuji dalam kondisi nyata. Hal ini menjadikan Haidian sebagai salah satu pusat teknologi terpenting di China.

Pemerintah setempat turut memperkuat ekosistem ini melalui dukungan investasi besar. Salah satunya adalah penyediaan dana hingga 10 miliar yuan (sekitar 25 triliun rupiah) untuk pengembangan teknologi jangka panjang. Investasi ini difokuskan pada sektor kecerdasan buatan dan teknologi strategis lainnya. Dukungan tersebut memberi ruang lebih luas bagi perusahaan untuk terus berinovasi.

Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan komunitas juga mempercepat adopsi teknologi di masyarakat. Perusahaan dapat menguji produknya langsung kepada pengguna, sementara masyarakat memperoleh akses lebih cepat terhadap inovasi. Ekosistem yang terintegrasi ini menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan robot humanoid di China.

Selain penemuan robot humanoid China kini bisa main tenis, ke depannya perkembangan robot tersebut diperkirakan akan terus melaju seiring dukungan teknologi dan investasi yang kuat. Potensi pemanfaatannya pun semakin luas, mulai dari olahraga hingga industri. Kehadiran robot dalam kehidupan sehari-hari kini bukan lagi sekadar wacana. Pasalnya, dunia mulai memasuki era baru di mana manusia dan mesin dapat berkolaborasi secara nyata dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team