Memasuki 2026, linimasa media sosial mendadak bak mesin waktu. Warganet di Instagram ramai-ramai bernostalgia lewat tren “Post You in 2016” atau "throwback my 2016 era", baik melalui carousel di feed, Reels, maupun template Add Yours yang beredar di Stories. Tren ini seolah membangkitkan kembali memori lama dan mengajak pengguna menyelami ulang momen-momen yang berkesan di satu dekade lalu. Tanpa benar-benar menolak kenyataan bahwa waktu terus berjalan, ingatan itu kembali hadir lewat sentilan Google Photos atau arsip lama yang tiba-tiba muncul di layar.
Pada masa itu, generasi Z angkatan awal (khususnya yang lahir tahun 1997) hampir memasuki usia 20 tahun. Aktivitas bermedia sosial pun masih terasa ringan dan tidak serumit sekarang. Kamu cukup menulis cuitan di Twitter yang kala itu belum berganti nama menjadi X atau mengunggah satu foto ke Instagram. Belum ada carousel, belum ada Reels, apalagi konten berbasis AI yang mendominasi linimasa. Di saat yang sama, musik EDM mulai mendominasi tangga lagu Billboard hingga playlist para penikmat musik di Indonesia.
Jika kamu termasuk orang yang pertama kali menjajal fitur Instagram Stories saat awal dirilis, artikel ini mengajakmu untuk bernostalgia sekaligus melakukan kilas balik bersama. Mari rangkai kembali cerita dan mengingat bagaimana sensasi bermedia sosial yang terasa begitu sederhana. Bisa jadi, kamu pernah berada di fase itu atau justru baru merasakannya belakangan ketika semuanya sudah berubah.
