Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi memantau postingan Instagram
ilustrasi memantau postingan Instagram (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Instagram resmi meluncurkan fitur Instagram Stories tahun 2016

  • Instagram perlahan mulai menghadirkan fitur boomerang, polling, sampai question

  • Fitur sorotan (highlights) Instagram mulai populer

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki 2026, linimasa media sosial mendadak bak mesin waktu. Warganet di Instagram ramai-ramai bernostalgia lewat tren “Post You in 2016” atau "throwback my 2016 era", baik melalui carousel di feed, Reels, maupun template Add Yours yang beredar di Stories. Tren ini seolah membangkitkan kembali memori lama dan mengajak pengguna menyelami ulang momen-momen yang berkesan di satu dekade lalu. Tanpa benar-benar menolak kenyataan bahwa waktu terus berjalan, ingatan itu kembali hadir lewat sentilan Google Photos atau arsip lama yang tiba-tiba muncul di layar.

Pada masa itu, generasi Z angkatan awal (khususnya yang lahir tahun 1997) hampir memasuki usia 20 tahun. Aktivitas bermedia sosial pun masih terasa ringan dan tidak serumit sekarang. Kamu cukup menulis cuitan di Twitter yang kala itu belum berganti nama menjadi X atau mengunggah satu foto ke Instagram. Belum ada carousel, belum ada Reels, apalagi konten berbasis AI yang mendominasi linimasa. Di saat yang sama, musik EDM mulai mendominasi tangga lagu Billboard hingga playlist para penikmat musik di Indonesia.

Jika kamu termasuk orang yang pertama kali menjajal fitur Instagram Stories saat awal dirilis, artikel ini mengajakmu untuk bernostalgia sekaligus melakukan kilas balik bersama. Mari rangkai kembali cerita dan mengingat bagaimana sensasi bermedia sosial yang terasa begitu sederhana. Bisa jadi, kamu pernah berada di fase itu atau justru baru merasakannya belakangan ketika semuanya sudah berubah.

1. Instagram resmi meluncurkan fitur Instagram Stories tahun 2016

ilustrasi penonton story Instagram (about.instagram.com)

Pada Agustus 2016, Instagram resmi memperkenalkan fitur Instagram Stories. Fitur ini memungkinkan pengguna membagikan foto dan video vertikal yang hanya bertahan selama 24 jam. Konsepnya terasa akrab karena mengadopsi format konten sementara yang sebelumnya dipopulerkan Snapchat ketika sedang berada di puncak popularitas.

Instagram menempatkan Stories tepat di bagian paling atas layar. Lingkaran ungu yang mengelilingi foto profil membuat fitur ini langsung mencuri perhatian, bahkan sebelum pengguna menggulir feed. Perlahan, Stories mulai menggeser kebiasaan bermedia sosial yang sebelumnya terpusat pada unggahan feed. Sejak saat itu, pengalaman menggunakan Instagram pun mengalami perubahan signifikan dan tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.

Satu dekade berselang, nostalgia terhadap era tersebut kembali mencuat. Pada 16 Januari 2026, CEO Instagram Adam Mosseri, membagikan sebuah unggahan bertuliskan “heard we’re posting photos from 2016”. Postingan tersebut didedikasikan seolah merujuk langsung pada tahun 2016 yang kini kembali diperbincangkan.

Narasi nostalgia itu dilanjutkan melalui caption di akun @creators yang menyebut “Tampaknya tahun 2025 adalah tahun 2016 yang baru.” Pengguna pun diajak ikut ambil bagian dalam tren tersebut dengan membagikan carousel favorit mereka yang terjadi pada tahun 2016. Unggahan ini tidak hanya membungkus bingkisan kenangan, tetapi juga menegaskan betapa kuatnya jejak era awal Instagram yang masih menempel di memori penggunanya sampai hari ini.

2. Instagram perlahan mulai menghadirkan fitur boomerang, polling, sampai question

fitur Superzoom Instagram (about.instagram.com)

Pada tahap awal, Instagram Stories hanya dibekali fitur-fitur dasar. Pengguna dapat mengunggah foto atau video berdurasi singkat, menambahkan teks sederhana, dan menggambar langsung di layar. Tak lama berselang, Instagram memperkenalkan Boomerang, format video loop singkat yang cepat digemari karena tampilannya yang dinamis. Kehadiran fitur ini menjadikan Stories sebagai ruang berekspresi yang lebih santai dan spontan dibandingkan feed Instagram yang cenderung terkurasi.

Perubahan signifikan mulai terlihat pada periode 2017 hingga 2018. Instagram menghadirkan fitur polling pada Oktober 2017, disusul Superzoom yang menawarkan efek dramatis menggunakan musik dan zoom-in untuk menghasilkan efek kejutan. Efek ini kerap digunakan sebagai elemen hiburan dan memperkuat kesan meme-like dalam Stories. Selain itu, Instagram juga menambahkan emoji slider yang memungkinkan pengguna berinteraksi secara lebih variatif.

Puncak evolusi terjadi pada Juli 2018 melalui kehadiran fitur Questions. Fitur ini mengubah Instagram Stories menjadi ruang tanya jawab secara langsung antara pengguna dan audiensnya. Untuk pertama kalinya, interaksi di Instagram terasa benar-benar lebih dekat lewat membangun percakapan dibanding memamerkan momen secara visual.

3. Fitur sorotan (highlights) Instagram mulai populer

fitur Highlights Instagram (about.instagram.com)

Musik kemudian menjadi elemen penting dalam memperkuat storytelling visual di Instagram. Pada periode yang sama, Instagram menghadirkan stiker musik berlisensi yang memungkinkan pengguna menambahkan lagu ke dalam Stories untuk mengabadikan keseharian. Pilihan genre pun sangat beragam, mulai dari ballad, mellow, RnB, pop, dangdut, jazz, hingga anthem pesta. Kehadiran musik membuat Stories terasa lebih hidup karena mampu merepresentasikan suasana hati dan emosi penggunanya.

Memasuki tahun 2018, fitur Highlights atau sorotan mulai populer dan mengubah cara pengguna membangun personal branding di Instagram. Stories yang sebelumnya menghilang dalam waktu 24 jam kini bisa disimpan secara permanen di profil, sehingga tidak lagi terlewat oleh pengikut. Identitas digital pengguna pun tak lagi hanya tercermin dari postingan, tetapi juga dari deretan lingkaran kecil yang tampil tepat di bawah bio.

Bagi pengguna yang gemar jalan-jalan atau traveling, Highlights kerap disusun berdasarkan destinasi yang pernah dikunjungi, dilengkapi ikon bendera sesuai negara tujuan. Sampul sorotan pun bisa disesuaikan dengan kreativitas masing-masing, mulai dari emoji hingga ilustrasi sederhana. Masih di tahun yang sama, Instagram juga meluncurkan fitur Close Friends, yang memungkinkan pengguna membagikan Stories khusus untuk teman-teman terdekat. Fitur ini ditandai adanya lingkaran hijau yang khas dimana berbeda dari Stories umum yang berwarna keunguan.

4. Instagram mulai memonetisasi fitur Stories

ilustrasi menonton story Instagram (unsplash.com/Alex Ware)

Perubahan besar kian terasa ketika Instagram mulai memonetisasi Stories. Sekitar 2019 hingga 2021, fitur belanja terintegrasi langsung ke dalam Stories. Konten kreator dan pelaku bisnis bisa menandai produk pada konten yang awalnya hanya dirancang untuk terlihat santai dan fun. Dari sinilah muaranya fitur Stories mulai bertransformasi menjadi tools bisnis yang efektif.

Pandemik COVID-19 pada 2020 mempercepat pergeseran tersebut. Ketika aktivitas banyak orang kian terhambat dan ruang geraknya sempit, fitur Instagram Stories melonjak drastis. Stories menjadi ruang berbagi keseharian, aktivitas Work From Home, hingga behind the scenes kehidupan pribadi. Fitur link sticker menggantikan swipe up dan memudahkan pengguna mengarahkan audiens ke berbagai tautan seperti menautkan artikel, barang endorse, situs web tertentu, di Instagram Stories.

5. Fitur Instagram Stories memasuki fase matang dimana algoritma mulai menyeleksi dan menilai interaksi pengguna

fitur "Add Note" di postingan atau reels Instagram (instagram.com/@mosseri)

Memasuki periode 2022 hingga 2025, Instagram Stories berada pada fase matang. Algoritma semakin cerdas dalam menilai interaksi seperti balasan (reply) dan berbagi (share) sebagai indikator penting untuk menentukan konten yang ditampilkan. Stories pun semakin terintegrasi dengan fitur lain seperti Reels dan DM, sehingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman bermedia sosial di Instagram.

Apalagi, Instagram juga memperpanjang durasi video di Instagram Stories per tahun ini. Dari sebelumnya 15 detik menjadi 60 detik per unggahan. Perubahan ini memberi pengguna lebih banyak ruang untuk membagikan momen video yang lebih panjang dalam satu Stories, tanpa harus memecahnya menjadi beberapa postingan.

Selain itu, Instagram meluncurkan fitur Stories Subscription pada 2022. Fitur ini memungkinkan kreator untuk memonetisasi konten Stories eksklusif melalui sistem langganan. Jika ditarik ke belakang, perjalanan Instagram Stories menunjukkan bagaimana fitur yang awalnya dianggap tiruan dari Snapchat berhasil tumbuh menjadi tulang punggung platform. Bahkan, konsep Stories kini juga diadopsi sebagai fitur utama di WhatsApp dan Facebook.

Dari tren throwback 2016 era, banyak pengguna berharap agar algoritma Instagram bisa kembali seperti dulu, yang dianggap lebih “bersahabat” dan organik. Hal ini masuk akal karena linimasa kala itu masih tersusun secara kronologis, bebas dari intervensi algoritma berbasis engagement, dan belum dipenuhi konten promosi atau rekomendasi yang terkesan dipaksakan. Pengalaman bermedia sosial terasa lebih alami, karena unggahan yang muncul benar-benar berasal dari akun yang diikuti, bukan dari apa yang dianggap “menarik” oleh sistem.

Selain itu, postingan nostalgia juga menyoroti logo pertama Instagram, berupa kamera Polaroid gaya retro yang mirip foto asli, lengkap dengan lensa, jendela bidik, senter, dan pita pelangi vertikal bertuliskan “Instagram” kecil di samping. Logo ini menjadi simbol era ketika Instagram masih berfokus pada fotografi dan ekspresi personal, bukan sekadar etalase konten atau alat distribusi viral.

Sejak Instagram Stories mulai berjaya, cara kita bermedia sosial pun tidak pernah benar-benar sama lagi. Apakah kamu termasuk orang yang mengikuti tren throwback untuk membagikan momen nostalgia tersebut atau justru memilih menyimpan rapat-rapat kenangan itu untuk diri sendiri? Yuk, bagikan pendapatmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team