Seiring risiko siber yang semakin saling terhubung dan berdampak luas, penipuan berbasis siber telah muncul sebagai salah satu kekuatan paling mengganggu dalam ekonomi digital, merusak kepercayaan, mendistorsi pasar, dan secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat.
"Tantangan bagi para pemimpin kini bukan hanya memahami ancaman, tetapi bertindak secara kolektif untuk tetap selangkah lebih maju. Membangun ketahanan siber yang bermakna memerlukan aksi terkoordinasi lintas pemerintah, dunia usaha, dan penyedia teknologi demi melindungi kepercayaan dan stabilitas di dunia yang semakin digerakkan oleh AI," ujar Jeremy Jurgens, Managing Director World Economic Forum dalam rilis resmi.
Kesenjangan antara organisasi yang memiliki ketahanan tinggi dan mereka yang tertinggal masih sangat mencolok, dengan kekurangan keterampilan dan keterbatasan sumber daya yang memperbesar risiko sistemik. Di sisi lain, rantai pasok global menjadi semakin saling terhubung dan kurang transparan, sehingga ketergantungan pada pihak ketiga berubah menjadi kerentanan sistemik. Dinamika ini terjadi di saat ketimpangan kapabilitas siber semakin melebar, membuat organisasi kecil dan negara berkembang menghadapi paparan risiko yang tidak proporsional.
“Persenjataan AI, friksi geopolitik yang persisten, dan risiko sistemik pada rantai pasok mengguncang pertahanan siber tradisional. Bagi para pemimpin tingkat C-suite, keharusannya sudah jelas, mereka harus beralih dari perlindungan siber konvensional menuju pertahanan siber yang didukung AI canggih dan bersifat agentic agar tangguh menghadapi pelaku ancaman berbasis AI,” kata Paolo Dal Cin, Global Lead Accenture Cybersecurity.