Setiaji mengatakan bahwa PeduliLindungi memiliki product manager yang bertanggung jawab mengawal produknya. Mereka berdiskusi dengan business analyst untuk menentukan business flow. Lalu, ke tim UI dan UX untuk desain. Setelahnya, masuk ke tahap development untuk menambahkan fitur.
Lalu, para product manager diskusi ke divisi infrastruktur. Untuk integrasi data, akan didiskusikan dengan data engineer untuk memastikan API-nya bisa di-supply atau apakah butuh dikoneksikan ke sistem. Hal ini harus dipastikan oleh product manager agar konsolidasi program sesuai dengan jalannya.
Untuk website PeduliLindungi, update sering rilis cepat (3 hari hingga 1 minggu). Ini karena PeduliLindungi dibangun secara modular atau berbentuk microservice. Namun, untuk aplikasi HP, waktu rilisnya cukup lama karena membutuhkan verifikasi dari Google.
“Setelah bagus di-development, jika cukup singkat, seminggu kita bisa rilis. Yang cukup makan waktu adalah verifikasi oleh Google itu sendiri, bisa sampai 2 minggu kadang,” ujarnya.
ilustrasi pengerjaan web development (pexels.com/sora-shimazaki)
Setiaji menjelaskan bahwa mengenai keberadaan divisi DevOps di PeduliLindungi, yang adalah kolaborasi divisi development dan operational. Mengapa ada? Pertama, untuk mendapatkan feedback dari masyarakat. Ini juga penting untuk mendapatkan feedback dari pengguna, sekecil apa pun isunya harus di-manage dengan baik.
“Jadi kita menggabungkan antara tim komunikasi, tim user complaint, dengan product. Jika ada keluhan, maka informasi bisa didapat dan PeduliLindungi bisa diperbarui sesuai dengan keluhan,” kata Setiaji.
Selain itu, ia membeberkan bahwa seluruh divisi PeduliLindungi juga rutin mengikuti townhall meeting untuk menyelaraskan program. Jadi, semua divisi memaparkan apa yang dikerjakan oleh tiap divisi dan apa yang bisa dilakukan divisi lainnya untuk membantu.