Survei dari Boston Consulting Group (BCG) menemukan bahwa sebanyak 78 persen profesional di Asia Pasifik sudah menggunakan AI setidaknya setiap minggu. Angka ini lebih tinggi dari rata rata global yang berada di angka 72 persen. Adopsi yang cepat ini mendorong efisiensi kerja, tetapi juga membuka ruang ancaman baru.
Para ahli keamanan siber dari Kaspersky menilai percepatan AI ikut mempercepat evolusi kejahatan digital, termasuk deepfake. Menjelang 2026, teknologi AI generatif dan LLM tidak hanya memperkuat sistem pertahanan, tetapi juga memberi pelaku ancaman alat yang lebih murah, cepat, dan sulit dideteksi. Bagi individu dan bisnis, deepfake diprediksi menjadi salah satu risiko siber paling serius di era adopsi AI massal.
