Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilmuwan TU Wien Berhasil Membuat QR Code Terkecil di Dunia
TU Wien masuk dalam "Guinness Book of Records" karena memproduksi kode QR terkecil (tuwien.at)
  • Ilmuwan TU Wien bersama startup Cerabyte menciptakan QR code terkecil di dunia berukuran 1,98 mikrometer persegi dan tercatat di Guinness World Records sebagai pencapaian baru dalam bidang nanoteknologi.
  • QR code nano ini dibuat dengan teknik focused ion beam pada lapisan keramik tipis, menghasilkan pola presisi tinggi yang hanya bisa diamati melalui mikroskop elektron berteknologi canggih.
  • Teknologi penyimpanan berbasis keramik ini menawarkan ketahanan ekstrem dan efisiensi energi, membuka peluang baru untuk arsip data jangka panjang yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Para ilmuwan dari Technische Universität Wien (TU Wien) berhasil menciptakan QR code terkecil di dunia dengan ukuran kurang dari dua mikrometer persegi. Mengutip TU Wien, Sabtu (21/2/2026), inovasi ini dikembangkan bersama startup Austria-Jerman Cerabyte dan tercatat dalam Guinness World Records sebagai rekor baru di bidang nanoteknologi. Ukurannya sangat kecil bahkan lebih kecil dibandingkan banyak jenis bakteri.

QR code nano ini memiliki luas sekitar 1,98 mikrometer persegi dimana struktur tersebut hanya bisa diamati menggunakan mikroskop elektron. Skala mikro yang ekstrem menunjukkan bagaimana informasi kini dapat ditanamkan langsung pada material fisik. Lalu, teknologi apa yang berperan di balik QR code terkecil ini? Simak penjelasannya berikut!

1. Teknologi Nano di balik QR code terkecil di dunia

Asisten peneliti USTEM, Thomas Schachinger, sedang mengambil pengukuran untuk kode QR terkecil di dunia (tuwien.at)

QR code ini dibuat menggunakan teknik focused ion beam yang mengukir pola kode pada lapisan keramik tipis dengan presisi tingkat nano. Struktur kode terdiri dari 29 x 29 modul, di mana setiap piksel berukuran sekitar 49 nanometer. Ukuran tersebut jauh melampaui batas pengamatan visual manusia sehingga hanya dapat dianalisis melalui perangkat mikroskop elektron berteknologi tinggi. Pendekatan ini menunjukkan kemampuan manipulasi material modern dalam menciptakan struktur informasi ultra-mini.

Pengukuran dan verifikasi ukuran QR code nano dilakukan oleh asisten peneliti USTEM, Thomas Schachinger, yang berperan penting dalam proses observasi mikroskopis. Ia bekerja bersama Prof. Paul Mayrhofer serta mahasiswa Erwin Peck dan Balint Hajas dari Institute of Materials Science and Technology. Kolaborasi tim riset ini memastikan akurasi teknis sekaligus validasi ilmiah terhadap ukuran dan struktur kode yang dihasilkan. Kontribusi mereka turut mengantarkan institusi tersebut mencatatkan rekor dunia atas penciptaan QR code terkecil.

2. Peran material keramik dalam stabilitas data

ilustrasi mikroskop (unsplash.com/Logan Moreno Gutierrez)

Lapisan keramik tipis yang digunakan sebagai media ukiran bukanlah material biasa, melainkan bahan yang umum dipakai untuk melapisi alat berperforma tinggi. Material ini dikenal memiliki ketahanan luar biasa terhadap panas, tekanan, dan kondisi ekstrem lainnya. Risiko kerusakan data akibat faktor lingkungan dapat ditekan secara signifikan dengan menanamkan informasi pada lapisan keramik. Hal ini menjadikannya kandidat kuat untuk teknologi penyimpanan data jangka panjang.

Berbeda dengan media penyimpanan magnetik atau elektronik konvensional, keramik tidak memerlukan pasokan energi untuk mempertahankan data setelah proses penulisan selesai. Media penyimpanan tradisional biasanya memiliki masa pakai terbatas dan membutuhkan pendinginan dan migrasi data berkala. Sementara itu, penyimpanan berbasis keramik berpotensi menjaga integritas informasi dalam waktu yang sangat lama.

3. Potensi nano storage untuk masa depan berkelanjutan

Thomas Schachinger membuat kode QR terkecil pada mikroskop elektron ThermoFisher Scios II USTEM (tuwien.at)

Teknologi nano storage berbasis keramik dinilai mampu menyimpan informasi penting selama ratusan hingga ribuan tahun tanpa listrik, pendinginan, maupun perawatan rutin. Potensi penggunaannya mencakup arsip ilmiah, dokumen pemerintahan, catatan budaya, hingga data penelitian yang membutuhkan pelestarian permanen. Teknologi ini dapat menjadi solusi atas tantangan degradasi data digital modern. Selain itu, kebutuhan energi yang sangat minim setelah penyimpanan juga menjadi keunggulan utama.

Dari sisi keberlanjutan, inovasi ini berpotensi mengurangi konsumsi energi pusat data yang selama ini sangat besar. Penyimpanan data tanpa kebutuhan daya jangka panjang dapat menekan emisi karbon dan dampak lingkungan dari infrastruktur digital global. Jika terus dikembangkan, nano storage berbasis keramik dapat menjadi fondasi baru bagi ekosistem penyimpanan data yang lebih ramah lingkungan.

Penciptaan QR code terkecil di dunia ini menunjukkan bahwa miniaturisasi teknologi informasi terus bergeser seiring kemajuan nanoteknologi. Inovasi tersebut membuktikan bahwa data dapat disimpan dalam struktur fisik berskala nano tanpa bergantung sepenuhnya pada perangkat elektronik konvensional. Melalui presisi tinggi dan stabilitas material yang kuat, teknologi ini menghadirkan pendekatan baru dalam pengarsipan digital. Hal ini sekaligus memperluas cakupan riset lintas disiplin antara sains material dan teknologi informasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team