Pasalnya, pemerintah Indonesia membandingkan investasi yang Apple lakukan di Indonesia dengan negara lainnya, misalnya Vietnam. Sebelumnya, Apple hanya menggelontorkan Rp158 miliar di Indonesia dengan wujud pembentukan akademi. Sementara untuk Vietnam, Apple mengucurkan Rp256,22 triliun dengan 200 ribu lapangan pekerjaan.
Riefky menjelaskan jika Apple adalah perusahan bisnis dan tentu akan memilih tempat investasi yang menguntungkan mereka.
“Apple akan melakukan investasi dan menempatkan uangnya jika mereka merasa mendapatkan keuntungan. Mereka melihat Vietnam lebih baik daripada Indonesia,” ujarnya.
Sehingga tidak masuk akal jika Apple mau melakukan investasi di Indonesia dengan alasan kita memiliki pasar yang besar, kemudian memaksa mereka untuk investasi. Padahal, Apple tidak akan melakukan investasi karena tidak menguntungkan untuk perusahaan. Dia menyebut bahwa Vietnam, Taiwan, Thailand dan Malaysia punya aspek tertentu yang lebih unggul dibanding Indonesia.
Terdapat sejumlah hambatan jika ingin berinvestasi di Indonesia seperti sektor ketenagakerjaan, inovasi, pembiayaan, kepastian hingga tingkat korupsi. Ekonom UI itu menyebut jika dibandingkan Vietnam, prosedur administrasi untuk memulai usaha di Indonesia ternyata lebih panjang dan lebih rumit.