Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi router wifi
ilustrasi router wifi (unsplash.com/Compare Fibre)

Intinya sih...

  • Proses transaksi elektronik menjadi tertunda

  • Uang tunai menjadi satu-satunya opsi pembayaran yang paling bisa diandalkan

  • Sektor pelayanan publik dan layanan esensial juga terdampak ketika internet mati total

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Layanan internet Telkomsel, IndiHome, dan Indibiz dilaporkan mengalami gangguan massal pada Kamis (22/1/2026). Keluhan itu pun ramai dibicarakan di media sosial X karena linimasa dipenuhi unggahan warganet yang menyebut layanan internet mendadak eror dan tidak bisa digunakan secara normal. Berdasarkan pantauan melalui situs DownDetector, gangguan pada layanan IndiHome mencapai puncaknya sekitar pukul 11:34 WIB dengan total 4.440 laporan dari pengguna.

Situasi ini menjadi refleksi betapa tingginya ketergantungan masyarakat terhadap koneksi internet. Dalam hitungan satu jam saja, akses untuk bekerja, mengikuti pembelajaran daring, berkomunikasi, hingga melakukan transaksi digital langsung lumpuh. Banyak pekerja Work From Home dan pelajar terpaksa menghentikan aktivitas karena sistem yang mereka andalkan tidak dapat diakses sama sekali.

Lalu, bagaimana jika kejadian serupa kembali terulang? Bahkan, skenarionya lebih ekstrem yaitu internet benar-benar mati total? Apakah uang tunai akan kembali menjadi alat transaksi paling andal saat sinyal tumbang? Dari sinilah muncul proyeksi skenario terburuk dan refleksi tentang dampaknya terhadap keseharian masyarakat di era serbadigital.

1. Proses transaksi elektronik menjadi tertunda

ilustrasi transfer QRIS (unsplash.com/Markus Winkler)

Masyarakat Indonesia semakin terbiasa dengan sistem cashless dan cardless, sebuah pola transaksi yang dikenal sebagai cashless society. Perubahan ini lahir seiring berkembangnya ekonomi digital dan layanan digital banking yang kian masif digunakan. Tingkat literasi keuangan masyarakat pun meningkat, sehingga pembayaran digital menjadi pilihan utama dalam berbagai aktivitas transaksi sehari-hari. Alhasil, uang elektronik perlahan menggantikan peran uang tunai dalam banyak konteks transaksi.

Namun, ketergantungan tinggi terhadap pembayaran digital menyimpan risiko tersendiri. Ketika internet mengalami gangguan atau bahkan mati total, metode pembayaran yang memerlukan verifikasi daring langsung tidak dapat berfungsi karena gagal terhubung dengan server bank maupun sistem pembayaran terkait. Tanpa koneksi internet, proses transaksi elektronik tidak dapat dilanjutkan sehingga roda perdagangan berpotensi melambat secara luas.

Pelaku UMKM terpaksa menolak pembayaran digital karena sistem tidak bisa digunakan, sementara gerai ritel besar menghadapi antrean panjang akibat proses pembayaran yang harus dilakukan secara manual. Sistem self-checkout otomatis dan aplikasi point of sales (POS) juga ikut terdampak jika tidak memiliki mode offline. Di sisi konsumen, mereka yang jarang membawa uang tunai berisiko mengalami kebingungan dan ketidakmampuan bertransaksi sehingga memperlihatkan pentingnya keseimbangan antara kemudahan digital dan kesiapan menghadapi kondisi darurat.

2. Uang tunai menjadi satu-satunya opsi pembayaran yang paling bisa diandalkan

ilustrasi uang tunai (pixabay.com/Iqbal Nuril Anwar)

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat yang masih menyimpan uang tunai langsung menyadari keuntungannya. Uang fisik menjadi alat pembayaran yang paling dapat diandalkan ketika sistem digital tidak dapat digunakan. Saat transaksi berbasis internet lumpuh, pelaku usaha yang masih menerima pembayaran tunai tetap bisa melayani pembeli tanpa bergantung pada jaringan. Situasi ini kembali menegaskan bahwa meski kerap dianggap usang di era digital, uang tunai masih memegang peran penting sebagai alat tukar yang krusial.

Sebaliknya, gangguan internet juga memicu antrean panjang di ATM dan tempat penarikan tunai lainnya. Masyarakat yang terbiasa bertransaksi menggunakan QRIS atau dompet digital, tetapi jarang membawa uang fisik, terpaksa berupaya keras agar tetap bisa berbelanja. Kondisi ini menunjukkan perlunya kebiasaan membawa uang tunai dalam jumlah tertentu sebagai langkah antisipasi. Di sisi pedagang, ketersediaan opsi pembayaran tunai tetap menjadi kunci agar aktivitas transaksi dapat berjalan meski internet mati total.

3. Sektor pelayanan publik dan layanan esensial juga terdampak ketika internet mati total

ilustrasi aktivitas pelayanan publik (unsplash.com/CDC)

Gangguan internet tidak hanya menghambat transaksi dan komunikasi pribadi, tetapi juga berdampak langsung pada layanan publik yang kini semakin bergantung pada sistem daring. Berbagai fasilitas seperti pendaftaran administrasi online, rekam medis elektronik, layanan telemedicine, hingga sistem antrean di rumah sakit berpotensi lumpuh ketika koneksi internet terputus total. Jika kondisi ini berlangsung lama, penumpukan data dan proses yang tertahan dapat memicu keterlambatan signifikan dalam pelayanan yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Dampak serupa juga dirasakan oleh layanan esensial, baik di sektor pemerintahan maupun swasta, yang mengandalkan data real-time untuk pengambilan keputusan dan penanganan situasi darurat. Terputusnya akses internet membuat koordinasi antarlembaga menjadi tidak optimal, bahkan berisiko menimbulkan kegagalan respons pada kondisi kritis. Situasi ini menegaskan pentingnya kesiapan infrastruktur digital yang tangguh. Ketahanan sistem tidak semata diukur dari kecepatan koneksi, tetapi juga dari kemampuan layanan tetap berjalan ketika jaringan mengalami gangguan.

4. Produktivitas pekerja work from home dan pelajar yang mengikuti pembelajaran daring juga ikut terganggu

ilustrasi pekerja remote (unsplash.com/Jason Strull)

Pekerja jarak jauh dan pelajar yang tengah mengikuti pembelajaran daring menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya. Rapat virtual tidak dapat berlangsung, materi pembelajaran gagal diakses, dan kolaborasi tim berbasis cloud mendadak terhenti karena koneksi terputus. Dalam kondisi seperti ini, produktivitas dapat merosot tajam hanya dalam hitungan jam. Komunikasi antartim pun menjadi tidak efektif karena saluran utama koordinasi tidak lagi berfungsi.

Di sisi lain, gangguan internet turut memukul perusahaan yang mengandalkan sistem cloud untuk menjalankan operasional digital sehari-hari. Berbagai layanan berbasis HRIS ikut terhenti, mulai dari pencatatan absensi yang tidak berjalan secara real time, pengajuan cuti yang tertunda, hingga terganggunya akses data payroll dan administrasi sumber daya manusia. Sistem manajemen proyek, email korporat, dan aplikasi layanan pelanggan juga terdampak, mengingat seluruh proses tersebut sangat bergantung pada kestabilan jaringan internet.

5. Risiko kepanikan informasi yang mengandung hoaks

ilustrasi pencarian dan sumber informasi melalui situs web (unsplash.com/Glenn Carstens-Peters)

Saat internet bermasalah, kebutuhan masyarakat untuk segera mengetahui apa yang sedang terjadi sering kali membuka ruang bagi beredarnya informasi yang belum terverifikasi. Media sosial kerap menjadi rujukan utama untuk mencari jawaban, terutama ketika akses ke layanan resmi atau kanal pengaduan sulit dijangkau. Dalam situasi seperti ini, spekulasi dan asumsi pribadi mudah bercampur dengan fakta, sehingga berpotensi menyesatkan publik. Ketidakpastian informasi pun dapat memicu kepanikan yang sebenarnya tidak perlu.

Di sisi lain, ketika akses internet terganggu, masyarakat harus bergantung pada sumber informasi alternatif seperti televisi, radio, atau komunikasi dari mulut ke mulut. Sayangnya, kanal-kanal ini tidak selalu mampu menyajikan pembaruan secara cepat dan serempak. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mengandalkan kabar tidak resmi, yang berisiko memperbesar penyebaran hoaks dan memperkeruh situasi di tengah gangguan jaringan.

Beruntung, Telkomsel kemudian mengumumkan bahwa layanan data bagi pelanggan secara nasional telah kembali normal. Sebelumnya, perusahaan mengakui sempat terjadi penurunan kualitas layanan pada sebagian pengguna. Mengutip IDN Times Kamis (22/1/2026), VP Corporate Communications and Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menyatakan bahwa gangguan telah berhasil ditangani melalui langkah pemulihan yang dilakukan tim teknis secara intensif dan terkoordinasi. Saat ini, performa jaringan Telkomsel telah kembali beroperasi secara optimal.

6. Upaya mitigasi yang bisa dilakukan ketika internet mati total

ilustrasi laptop dan koneksi internet (freepik.com/freepik)

Untuk menekan dampak ketika internet mengalami gangguan atau bahkan mati total, edukasi mengenai kesiapan transaksi tunai menjadi penting. Masyarakat perlu membiasakan diri menyediakan uang tunai dalam jumlah tertentu sebagai antisipasi kebutuhan darurat. Pasalnya, sistem pembayaran digital dapat langsung terhenti begitu koneksi internet tidak tersedia. Kesiapan ini bukan hanya membantu individu tetap beraktivitas secara ekonomi, tetapi juga memberi ruang bagi pelaku usaha kecil agar tetap bisa beroperasi saat sistem digital tidak berfungsi.

Di luar kesiapan uang tunai, penerapan pendekatan hybrid (penggabungan antara sistem digital dan prosedur manual) perlu diperkuat di berbagai sektor, termasuk lembaga pemerintah dan dunia usaha. Pelatihan mengenai skema operasional alternatif saat internet terganggu penting untuk menjaga kesinambungan layanan publik maupun aktivitas bisnis. Dari sisi teknologi, penyedia layanan keuangan dan infrastruktur digital juga dituntut mengembangkan sistem cadangan berbasis offline atau semi-offline. Meski teknologi pembayaran offline sepenuhnya masih dalam tahap pengembangan secara global, pendekatan hybrid yang memungkinkan pencatatan transaksi secara lokal dan sinkronisasi setelah jaringan pulih dapat menjadi solusi sementara yang realistis.

Gangguan internet yang sempat dialami pelanggan Telkomsel, IndiHome, dan Indibiz menjadi pengingat bahwa konektivitas telah menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat yang makin bergantung pada sistem cashless. Dalam skenario terburuk, ketika internet mati total dalam waktu lama, uang tunai akan kembali menjadi alat transaksi paling andal. Kondisi ini sekaligus menegaskan pentingnya sistem cadangan dan strategi mitigasi yang matang. Kesiapsiagaan masyarakat dan perencanaan strategis oleh pihak penyedia layanan dan pemerintah diperlukan agar kita tidak lumpuh saat infrastruktur digital mengalami kegagalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team