Pola serangan seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware masih menjadi metode utama. Namun pendekatannya kini jauh lebih canggih.
Serangan phishing, misalnya, kini dapat disusun secara sangat personal. Pesan yang dikirim tidak lagi terlihat generik, melainkan disesuaikan dengan konteks pekerjaan, jabatan, bahkan gaya komunikasi target. Hal ini membuat serangan menjadi jauh lebih meyakinkan dan sulit dikenali.
Setelah kredensial berhasil diperoleh, pelaku dapat masuk ke dalam sistem dan bergerak secara tersembunyi. Dalam banyak kasus, serangan tidak langsung dilakukan. Pelaku justru menunggu momen yang paling kritis seperti akhir kuartal atau periode bisnis sibuk untuk meluncurkan ransomware dan memaksimalkan dampak terhadap operasional.
Ancaman siber kini tidak lagi terbatas pada perusahaan besar. Organisasi dari berbagai skala, termasuk sektor finansial, layanan pemerintah, manufaktur, hingga kesehatan, menjadi target yang sama-sama rentan.
Semakin luasnya adopsi teknologi digital, batasan infrastruktur IT menjadi semakin kompleks dan terdistribusi. Akibatnya, permukaan serangan juga semakin besar dan sulit dikendalikan.
“Kompleksitas IT yang meningkat karena AI selalu datang bersama peningkatan risiko. Semakin banyak sistem dan data, semakin besar pula permukaan serangan yang harus diamankan,” ujar Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology Inc.