ilustrasi menggunakan AI (pexels.com/Matheus Bertelli)
Laporan Senat Amerika Serikat pada Oktober 2025 memprediksi bahwa teknologi terbaru berpotensi menghancurkan hampir 100 juta lapangan kerja dalam 1 dekade. Pengembangan AI oleh miliarder memungkinkan korporasi menghapus puluhan juta pekerjaan dengan upah layak. Kekhawatiran itu makin nyata karena automasi menggantikan peran lama dan menghambat terciptanya berbagai peluang kerja.
Kelangsungan sistem ekonomi global dipertanyakan jika masyarakat tidak lagi memiliki penghasilan untuk membeli barang atau jasa. Ada sorotan besar terhadap berbagai dampak negatif AI, mulai dari penggantian tenaga kerja sampai ancaman pencurian identitas yang makin marak. Sebagian pengamat merasa skeptis terhadap klaim kemajuan teknologi karena melihat adanya risiko ketimpangan yang makin lebar antara pemilik modal dan tenaga kerja.
Selain memaparkan mengenai dua kelompok orang yang bisa hadapi ancaman AI, Alex Karp juga memprediksi munculnya gerakan kuat untuk melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan teknologi jika krisis lapangan kerja tidak segera teratasi. Dirinya menganggap perkembangan teknologi sangat berbahaya bagi para pekerja kerah putih yang selama ini merasa posisi mereka cukup aman. Ketegangan politik terus meningkat saat partai-partai besar saling berdebat tentang nasib konstituen yang kehilangan mata pencaharian karena efisiensi AI.
Dunia kerja memasuki fase krisis yang akan mengubah masa depan secara permanen dan drastis. Revolusi teknologi itu berpotensi memicu ketegangan sosial besar jika para pemimpin tidak segera melakukan reformasi kebijakan menyeluruh. Akhirnya, individu mesti bersiap menghadapi realitas bahwa keunikan berpikir adalah modal utama untuk bertahan.