Adapun beberapa poin utama temuan meliputi:
Kelompok ransomware dan pemerasan yang aktif melonjak 49 persen secara tahunan yang menandai fragmentasi dalam ekosistem, sementara jumlah korban yang diketahui secara publik meningkat sekitar 12 persen.
Kebocoran besar pada rantai pasok dan pihak ketiga meningkat hampir empat kali lipat sejak 2020, seiring pelaku serangan semakin mengeksploitasi sistem tempat perangkat lunak dibangun dan diterapkan maupun adanya integrasi SaaS.
Eksploitasi kerentanan menjadi penyebab utama serangan dan menyumbang 40 persen dari insiden yang diamati oleh X-Force pada 2025.
Di kawasan Asia Pasifik, pelaku serangan kerap menggunakan malware (45 persen), spam (15 persen), alat yang sah atau legitimate tools (15 persen), dan akses server (10 persen) sebagai tindakan utama dalam mencapai tujuan serangan.
Eksploitasi aplikasi yang digunakan publik (50 persen) dan penggunaan akun yang valid (30 persen) tetap menjadi vektor akses awal utama, menunjukkan adanya kerentanan dalam infrastruktur digital regional.
Dampak utama yang tercatat meliputi pencurian data (14 persen), kerusakan reputasi merek (14 pesen), dan pengumpulan kredensial (7 persen) dengan sektor manufaktur (65 persen), keuangan dan asuransi (17 persen), serta transportasi (7 persen) yang termasuk di antara sektor yang paling banyak menjadi sasaran.