Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi produk Virtual Reality Meta
ilustrasi produk Virtual Reality Meta (freepik.com/freepik)

Meta, perusahaan induk Facebook, secara resmi mengalihkan fokus strategisnya dari pengembangan metaverse. Langkah ini diwujudkan dengan pengurangan tim dan restrukturisasi besar-besaran pada divisi Reality Labs, yang secara langsung berdampak pada ekosistem Virtual Reality (VR) yang telah mereka investasikan selama bertahun-tahun.

Perubahan kebijakan ini terlihat jelas dalam tiga hal, yaitu penutupan sejumlah studio pengembang game VR ternama, penghentian pembaruan konten untuk aplikasi VR populer, serta pergeseran prioritas investasi ke pengembangan perangkat wearable berbasis AI dan pengalaman berbasis mobile. Keputusan Meta tutup 3 studio VR aset Metaverse ini menandai perubahan dalam pengembangan konten dan perangkat VR ke depannya. Seperti apa informasi selengkapnya? Simak informasi berikut.

1. Restrukturisasi PHK 10% karyawan dan penutupan studio VR

ilustrasi headset virtual reality meta (freepik.com/benzoix)

Meta melakukan restrukturisasi besar dengan memutuskan hubungan kerja lebih dari 1.000 karyawan di divisi Reality Labs, yang mencakup sekitar 10 persen dari total tenaga kerjanya di divisi tersebut. Menurut memo internal pimpinan perusahaan, langkah ini bertujuan untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien, sederhana, dan berkelanjutan.

Selain mengurangi personel, Meta juga menutup tiga studio pengembang game Virtual Reality (VR) andalannya, yaitu Armature Studio, Sanzaru Games, dan Twisted Pixel. Keputusan ini menjadi penegasan atas pengurangan investasi perusahaan dalam pengembangan konten VR eksklusif, menyusul kerugian yang mencapai sekitar $50 miliar atau sekitar Rp792 triliun yang dialami divisi ini dari tahun 2020 hingga 2024.

2. Fokus ke perangkat mobile dan AI wearables

ilustrasi produk VR Metaverse (freepik.com/freepik)

Strategi dan fokus Meta telah mengalami perubahan signifikan. Perusahaan menyatakan akan tetap melanjutkan pengembangan metaverse, tetapi tidak lagi menempatkan headset Virtual Reality (VR) yang sepenuhnya imersif sebagai pusat pengalaman utamanya. Sebagai gantinya, prioritas baru dialihkan ke pengembangan platform berbasis perangkat mobile serta perangkat wearable yang mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Juru bicara Meta menegaskan bahwa langkah restrukturisasi dan pengurangan investasi ini merupakan bagian dari realokasi sumber daya dari pengembangan metaverse menuju pengembangan wearables. Dana yang dihemat akan digunakan kembali untuk mendorong pertumbuhan lini produk wearables mereka tahun ini. Pergeseran strategi ini mengindikasikan pengakuan bahwa headset VR belum mencapai apa yang diharapkan, sehingga perusahaan kini fokus pada produk teknologi yang lebih terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari pengguna, seperti kacamata pintar.

3. Tantangan AI wearable Meta kedepannya

ilustrasi produk Threads Meta (unsplash.com/Julio Lopez)

Transisi strategis ini tidak secara otomatis membuka jalan menuju kesuksesan. Para analis dan pengamat mempertanyakan langkah baru Meta, terutama menyoroti dua tantangan mendasar. Pertama, warisan dari era metaverse yang kini dianggap sebagai investasi yang keliru arah. Visi besar metaverse yang pernah digadang-gadang sebagai masa depan internet, pada kenyataannya dinilai gagal memenuhi ekspektasi yang dibangun.

Kedua, rintangan yang menghadang produk wearable berbasis AI, yang kini menjadi fokus baru Meta. Produk seperti kacamata pintar Ray-Ban Meta menghadapi kritik terkait harga premium, desain yang belum tentu diterima luas, ketergantungan fungsional pada ponsel, dan kekhawatiran serius akan privasi pengguna. Tantangan-tantangan ini berpotensi menjerumuskan Meta kembali ke dalam situasi serupa dengan era metaverse, yaitu menggelontorkan dana besar untuk teknologi yang belum terbukti diterima pasar.

Dari langkah-langkah strategis tersebut, terbukti bahwa keputusan Meta tutup 3 studio VR aset Metaverse menandai akhir dari era eksperimen teknologi internet besar-besaran. Perusahaan kini memasuki fase baru dengan harapan bahwa teknologi AI yang terintegrasi pada perangkat sehari-hari akan membuka pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Kalau menurutmu, apakah strategi dari Meta ini akan memberikan profit besar bagi perusahaan ke depannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team