Penentuan awal Ramadan 1447 H selalu menjadi momen penting yang dinantikan umat Islam setiap tahun. Hal ini berkaitan langsung dengan dimulainya ibadah puasa dan acuan perhitungan berdasarkan penanggalan Hijriah. Dahulu, proses ini identik dengan pengamatan visual hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam. Seiring perkembangan teknologi, kini hadir aplikasi astronomi berbasis data sains dan komputasi yang mampu menampilkan posisi bulan, matahari, serta parameter visibilitas hilal sesuai lokasi pengamatan.
Di Indonesia, penetapan awal Ramadan tetap mengacu pada metode hisab dan rukyat yang dimusyawarahkan dalam sidang isbat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Aplikasi astronomi ditempatkan sebagai pendukung analisis berbasis data, bukan sebagai penentu awal bulan Hijriah. Perannya lebih menekankan pada penyediaan informasi astronomis yang terukur sebelum observasi dilakukan di lapangan. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara kerja, tingkat ketelitiannya, dan batasan penggunaannya agar tidak terjadi kesalahpahaman antara aspek sains dan ketentuan syariat.
