ilustrasi suasana brainstorming para developers menggunakan otomatisasi AI (freepik.com/pressfoto)
Pertanyaan besar yang muncul dari fenomena ini adalah apakah kecerdasan buatan (AI) benar-benar siap menggantikan peran manusia dalam moderasi konten? Secara teknis, AI memang unggul dalam hal kecepatan analisis sehingga mampu menyeleksi jutaan konten dalam waktu singkat, serta mendeteksi pelanggaran berdasarkan pola data. Namun, tantangan utama justru hadir pada konten yang memerlukan pemahaman mendalam terhadap konteks, sensitivitas budaya, dan pertimbangan etis yang hanya dapat dipahami oleh manusia. Inilah alasan mengapa banyak pihak meragukan klaim bahwa AI bisa sepenuhnya mengambil alih tugas moderator.
Sejak era revolusi industri, selalu ada kekhawatiran bahwa mesin akan merebut pekerjaan manusia. Dalam beberapa kasus, manusia masih mampu beradaptasi dan tetap memegang peran penting. Namun, situasi kini berbeda. Dengan semakin luasnya penerapan AI, ancaman kehilangan pekerjaan menjadi lebih nyata. Laporan Goldman Sachs pada Maret 2023 bahkan menyebutkan bahwa AI yang mampu menghasilkan konten dapat menggantikan seperempat pekerjaan manusia yang ada saat ini, dengan potensi hilangnya hingga 300 juta lapangan kerja akibat otomatisasi.
Penulis buku Rule of the Robots: How Artificial Intelligence Will Transform Everything, Martin Ford, menegaskan bahwa dampak ini bukan hanya dirasakan oleh individu, melainkan dapat bersifat sistemik. Menurutnya, penggantian tenaga kerja manusia oleh AI bisa terjadi pada banyak orang sekaligus dalam waktu singkat. Hal ini berimbas besar terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dengan kata lain, masalah ini tidak hanya soal kehilangan pekerjaan secara personal, tetapi juga guncangan sosial dan ekonomi dalam skala luas.
Meski begitu, kabar ini tidak sepenuhnya buruk. Para pakar meyakini masih ada ranah yang sulit dijangkau AI, terutama pekerjaan yang membutuhkan kualitas khas manusia seperti kecerdasan emosional, empati, hingga kreativitas dalam berpikir di luar kebiasaan. Tugas-tugas yang menuntut pemahaman relasional dan intuisi tetap menjadi keunggulan manusia yang sulit ditandingi oleh algoritma.
Di sisi lain, perusahaan teknologi seperti TikTok memandang penggunaan AI sebagai simbol efisiensi dan modernisasi. Mereka berargumen bahwa algoritma mampu mengurangi kesalahan manusia sekaligus meningkatkan standar keamanan platform. Namun, keputusan untuk menggantikan tenaga kerja tanpa menyeimbangkannya dengan peran manusia justru memperlihatkan sisi gelap transformasi digital. Fenomena ini seakan menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan perlahan berubah menjadi pengganti nyata bagi pekerjaan manusia.