Tren jualan takjil online makin ramai saat Ramadan atau menjelang waktu berbuka puasa. Jika sebelumnya penjualan takjil identik dengan lapak dadakan di pinggir jalan, kini banyak pelaku usaha semakin masif beralih ke platform digital untuk menjangkau pembeli. Perubahan pola konsumsi masyarakat yang makin akrab dengan layanan pesan antar turut mendorong tren ini berkembang pesat.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Januari 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang tetap berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 127,0, naik dari 123,5 pada Desember 2025. Keyakinan tersebut didorong oleh menguatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing tercatat sebesar 115,1 dan 138,8, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 111,4 dan 135,6. Optimisme konsumen ini mencerminkan daya beli yang relatif terjaga, sehingga berpotensi mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, termasuk pembelian makanan dan minuman berbuka puasa secara daring selama Ramadan.
Kehadiran media sosial dan aplikasi pesan instan membuat transaksi takjil menjadi lebih praktis. Pembeli cukup memilih menu, melakukan pemesanan, lalu menunggu pesanan diantar ke rumah. Pola ini dinilai efisien, terutama di tengah kesibukan Ramadan. Berikut adalah tiga pola yang bisa ditangkap dari fenomena tren jualan takjil secara daring.
