Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Begini Reaksi Kimia Powerbank Saat Ditinggal di Mobil yang Terpapar Panas
ilustrasi parkir mobil (pexels.com/Jens Mahnke)
  • Meninggalkan powerbank di mobil panas bisa memicu reaksi kimia berbahaya akibat suhu ekstrem yang membuat baterai litium tidak stabil dan berpotensi meledak.
  • Panas tinggi menyebabkan cairan elektrolit menguap, menimbulkan tekanan gas, kebocoran korosif, serta oksidasi yang merusak struktur internal baterai secara permanen.
  • Sistem proteksi elektronik powerbank dapat gagal saat terpapar suhu di atas 60°C, membuat reaksi panas tak terkendali hingga memicu kebakaran dalam waktu singkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Meninggalkan perangkat elektronik seperti powerbank di dalam kabin mobil yang terparkir di bawah terik matahari merupakan tindakan yang sangat berisiko. Suara ledakan atau kebakaran kendaraan yang dipicu oleh perangkat pengisi daya portabel ini bukan sekadar mitos, melainkan konsekuensi logis dari kegagalan stabilitas komponen kimia di dalamnya akibat paparan suhu ekstrem.

Interior mobil yang tertutup rapat dapat mengalami efek rumah kaca, di mana suhu ruangan melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan suhu udara di luar. Dalam kondisi lingkungan yang sangat panas, sel baterai di dalam powerbank mengalami tekanan termal yang hebat, memicu serangkaian kegagalan sistemik yang dapat berakhir dengan kerusakan permanen hingga ancaman keselamatan nyawa.

1. Proses ketidakstabilan termal pada sel baterai litium

ilustrasi parkir mobil (pexels.com/Arlind D)

Hampir seluruh powerbank modern menggunakan baterai jenis litium-ion atau litium-polimer yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu di atas 45°C. Saat mobil terpapar panas matahari, suhu di atas dasbor atau di dalam laci penyimpanan bisa mencapai 60°C hingga 70°C. Panas yang tinggi ini memicu proses kimia yang disebut dengan thermal runaway, di mana suhu di dalam sel baterai meningkat secara mandiri dan tidak terkendali.

Pada tahap awal, panas berlebih menyebabkan cairan elektrolit di dalam baterai mulai menguap dan menghasilkan gas. Tekanan gas yang meningkat di dalam ruang sempit sel baterai inilah yang membuat fisik powerbank terlihat membengkak atau kembung. Jika suhu terus naik, lapisan pemisah (separator) antara kutub positif dan negatif di dalam baterai bisa meleleh, mengakibatkan hubungan arus pendek internal yang menghasilkan panas ribuan derajat dalam hitungan detik.

2. Risiko kebocoran cairan elektrolit dan oksidasi

ilustrasi powerbank (freepik.com/pvproductions)

Selain risiko ledakan, paparan panas yang ekstrem dapat merusak segel pelindung baterai dan menyebabkan kebocoran cairan elektrolit. Cairan ini bersifat sangat korosif dan mudah terbakar jika bereaksi dengan oksigen di udara bebas. Kebocoran kimia ini tidak hanya merusak komponen sirkuit internal powerbank itu sendiri, tetapi juga dapat mengeluarkan bau menyengat yang beracun jika terhirup oleh manusia di dalam ruang kabin yang sempit.

Oksidasi yang terjadi akibat panas juga mempercepat degradasi elektroda di dalam baterai. Hal ini menjelaskan mengapa powerbank yang sering ditinggalkan di dalam mobil panas akan mengalami penurunan kapasitas daya secara drastis atau bahkan mati total meskipun fisiknya tidak meledak. Kerusakan pada tingkat molekuler ini bersifat permanen, sehingga perangkat tidak akan pernah bisa menyimpan daya secara optimal kembali dan justru menjadi bom waktu jika tetap dipaksakan untuk digunakan.

3. Kegagalan sistem proteksi sirkuit elektronik

ilustrasi powerbank (pexels.com/Evan Mahmud Shuvo)

Setiap powerbank berkualitas biasanya dilengkapi dengan papan sirkuit pelindung atau Battery Management System (BMS) yang berfungsi memutus arus saat terjadi panas berlebih. Namun, paparan panas eksternal yang ekstrem dari lingkungan kabin mobil dapat merusak komponen semikonduktor pada papan sirkuit tersebut sebelum sistem proteksi sempat bekerja. Komponen elektronik seperti kapasitor dan resistor pada powerbank murah sering kali tidak tahan terhadap suhu di atas 60°C.

Ketika sistem pengaman elektronik ini lumpuh akibat panas, tidak ada lagi penghalang bagi baterai untuk terus memproduksi panas melalui reaksi kimia internalnya. Kondisi ini diperparah jika powerbank ditinggalkan dalam keadaan terhubung dengan kabel pengisi daya atau sedang mengisi daya perangkat lain. Arus listrik yang mengalir menciptakan panas tambahan, mempercepat proses ledakan yang dapat menghanguskan seluruh interior mobil hanya dalam hitungan menit.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team