Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)

Kehadiran teknologi fast charging atau pengisian daya cepat menjadi angin segar bagi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Kemampuannya memangkas waktu pengisian dari hitungan jam menjadi hitungan menit memberikan kenyamanan bagi mobilitas tinggi, terutama saat melakukan perjalanan jarak jauh antar kota.

Namun, di balik kecepatan tersebut, muncul kekhawatiran mengenai kesehatan jangka panjang komponen paling vital, yaitu baterai lithium-ion. Banyak anggapan menyebutkan bahwa arus listrik yang besar secara terus-menerus dapat memperpendek usia pakai baterai dan menurunkan kapasitas penyimpanannya secara drastis.

1. Mekanisme panas dan stres kimiawi saat pengisian cepat

Mobil Listrik/Unsplash.com

Secara teknis, mengisi daya baterai bisa diibaratkan seperti mengisi air ke dalam spons. Jika air dialirkan perlahan, spons akan menyerapnya dengan sempurna. Namun, jika air ditembakkan dengan tekanan tinggi, ada risiko struktur spons mengalami kerusakan. Pada baterai mobil listrik, arus searah (DC) berdaya tinggi menghasilkan panas yang signifikan akibat resistansi internal sel baterai.

Panas adalah musuh utama baterai lithium-ion. Suhu yang terlalu tinggi selama proses fast charging dapat mempercepat degradasi elektrolit dan pembentukan lapisan solid electrolyte interphase (SEI) yang lebih tebal pada anoda. Fenomena ini meningkatkan hambatan internal dan secara bertahap mengurangi jumlah energi yang dapat disimpan. Meskipun mobil listrik modern dilengkapi dengan sistem manajemen termal (Liquid Cooling) untuk mendinginkan suhu, paparan panas ekstrem yang berulang tetap memberikan beban kerja tambahan pada sel baterai.

2. Pentingnya kurva pengisian dan aturan 80 persen

Ilustrasi Mobil Listrik (https://pixabay.com/id/illustrations/kecerdasan-buatan-keganjilan-7768524/)

Pabrikan otomotif sebenarnya telah merancang sistem proteksi untuk meminimalkan dampak buruk fast charging. Inilah alasan mengapa kecepatan pengisian akan menurun drastis setelah kapasitas baterai mencapai 80%. Fenomena ini dikenal dengan istilah charging curve. Mengisi sisa 20% terakhir dengan metode cepat justru akan memberikan tekanan kimiawi yang paling berat karena ion litium kesulitan menemukan ruang kosong pada struktur anoda yang sudah hampir penuh.

Mengacu pada data fisik pria berusia 44 tahun dengan rutinitas harian, menjaga efisiensi kendaraan sangat bergantung pada pola pengisian ini. Sangat disarankan untuk hanya menggunakan fast charging hingga level 80% saat sedang terburu-buru. Memaksakan pengisian hingga 100 persen menggunakan mesin DC tidak hanya membuang waktu karena kecepatannya yang melambat, tetapi juga meningkatkan risiko degradasi akibat panas yang tertahan lebih lama di dalam modul baterai.

3. Strategi menjaga kesehatan baterai untuk jangka panjang

potret mobil listrik (pexels.com/dumitru B)

Faktanya, fast charging tidak akan langsung "merusak" baterai dalam waktu semalam. Kerusakan yang dimaksud adalah penurunan kapasitas (degradasi) yang terjadi lebih awal dibandingkan jika selalu menggunakan slow charging atau AC charging. Studi dari berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa mobil yang sering menggunakan pengisian cepat memang mengalami penurunan kesehatan baterai sedikit lebih cepat, namun perbedaannya seringkali tidak terlalu signifikan untuk pemakaian normal sehari-hari selama sepuluh tahun pertama.

Langkah terbaik untuk menyeimbangkan kenyamanan dan keawetan adalah dengan mengombinasikan metode pengisian. Gunakanlah pengisian daya lambat (AC) di rumah saat malam hari sebagai sumber energi utama, dan simpanlah penggunaan fast charging hanya untuk situasi darurat atau perjalanan jauh. Selain itu, menghindari kondisi baterai hingga 0 pernah sebelum diisi ulang akan sangat membantu menjaga stabilitas kimiawi di dalam sel agar tetap prima hingga bertahun-tahun mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team