Fitur Full Self-Driving Tesla Kini Gak Lagi Gratis!

Tesla secara resmi mengubah strategi bisnis teknologi kemudi otonom mereka dengan menerapkan sistem berlangganan wajib. Keputusan ini menandai berakhirnya opsi pembelian permanen untuk fitur canggih yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama pabrikan milik Elon Musk tersebut.
Langkah berani ini mulai berlaku efektif setelah pertengahan Februari mendatang, di mana akses ke fitur mengemudi mandiri hanya bisa dinikmati melalui biaya bulanan. Perubahan ini membawa angin baru sekaligus tantangan bagi para pengguna setia Tesla dalam mengelola anggaran perawatan kendaraan pintar mereka.
1. Transformasi model bisnis menuju sistem langganan eksklusif

CEO Tesla, Elon Musk, telah mengonfirmasi bahwa perusahaan akan menghentikan penjualan paket Full Self-Driving (FSD) secara putus atau sekali bayar setelah tanggal 14 Februari 2026. Ke depannya, satu-satunya cara bagi pemilik kendaraan untuk mencicipi kemampuan teknologi kemudi otomatis ini adalah melalui mekanisme langganan bulanan. Berdasarkan informasi dari situs resmi Tesla, biaya yang dipatok adalah sebesar 99 dolar AS atau setara dengan kurang lebih Rp1,6 juta per bulan.
Keputusan ini mencerminkan ambisi Tesla untuk menciptakan pendapatan berulang (recurring revenue) dari perangkat lunak mereka. Meskipun sistem langganan sudah tersedia sebelumnya bagi mereka yang tidak membeli paket FSD di awal, peniadaan opsi beli permanen menunjukkan pergeseran total dalam cara perusahaan mendistribusikan teknologi mereka ke tangan konsumen.
2. Perbandingan biaya dengan kompetitor di pasar otomotif

Jika dibandingkan dengan para pesaingnya di industri mobil pintar, harga langganan Tesla tergolong cukup tinggi. Sebagai ilustrasi, Rivian menawarkan fitur Autonomy+ dengan tarif yang hanya separuh dari harga Tesla, yakni sekitar Rp843 ribu per bulan. Rivian bahkan masih menyediakan opsi pembelian sekali bayar bagi pelanggan yang enggan terikat tagihan rutin setiap bulannya.
Tidak hanya kalah bersaing secara harga dengan Rivian, Tesla juga menghadapi tekanan dari Ford dengan sistem Blue Cruise dan General Motors (GM) melalui Super Cruise. GM bahkan memberikan layanan gratis selama tiga tahun pertama untuk pembelian kendaraan baru sebelum akhirnya mengenakan biaya sekitar Rp674 ribu per bulan. Perbedaan harga yang cukup mencolok ini menempatkan Tesla pada posisi premium, di mana pengguna harus merogoh kocek lebih dalam demi menikmati ekosistem teknologi yang ditawarkan Musk.
3. Analisis nilai ekonomi bagi pengguna jangka panjang

Meskipun terlihat mahal, model berlangganan ini memiliki sisi ekonomis yang bergantung pada durasi kepemilikan kendaraan. Sebelumnya, Tesla mematok harga sekitar Rp134 juta untuk paket FSD permanen. Dengan tarif langganan Rp1,6 juta per bulan, biaya total pembelian sekali bayar tersebut setara dengan hampir tujuh tahun penggunaan rutin. Artinya, bagi pemilik yang berencana mengganti mobil dalam waktu kurang dari lima tahun, sistem langganan justru bisa jauh lebih menguntungkan secara finansial.
Namun, pengguna perlu memperhatikan kebijakan ketat yang diterapkan Tesla. Layanan langganan FSD ini bersifat non-tunai dan tidak dapat dikembalikan (non-refundable). Jika seorang pengguna merasa tidak puas setelah membayar, mereka tidak bisa meminta uang kembali dan hanya dapat membatalkan langganan untuk periode berikutnya, sementara fitur tetap aktif hingga masa penagihan berakhir. Transaksi ini dapat dilakukan secara praktis melalui aplikasi di ponsel pintar atau langsung melalui sistem infotainment di dalam kabin mobil.
Apakah Anda ingin saya membuat tabel perbandingan harga langganan FSD Tesla dengan merek pesaing lainnya agar lebih mudah dibaca?


















