Kenapa Aspal Basah Bikin Torsi Mobil Gak Maksimal?

- Penurunan koefisien gesek dan hilangnya traksi mekanis
- Efek aquaplaning yang memutus distribusi tenaga
- Peningkatan beban kerja sistem transmisi dan diferensial
Kondisi jalanan setelah hujan seringkali dianggap remeh oleh sebagian besar pengemudi, padahal permukaan aspal yang basah secara signifikan mengubah dinamika mekanis antara ban dan permukaan jalan. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan aspek keselamatan, tetapi juga sangat memengaruhi kemampuan mesin dalam menyalurkan tenaga secara efisien ke permukaan tanah melalui sistem penggerak.
Ketika genangan air tipis menyelimuti jalan, koefisien gesek akan menurun drastis sehingga distribusi tenaga dari mesin tidak lagi terserap sepenuhnya oleh aspal. Akibatnya, potensi torsi maksimal yang seharusnya mendorong mobil maju justru terbuang sia-sia dalam bentuk putaran roda yang tidak terkendali, atau yang lebih dikenal dengan istilah wheelspin.
1. Penurunan koefisien gesek dan hilangnya traksi mekanis

Torsi adalah gaya puntir yang dihasilkan mesin untuk memutar roda dan menggerakkan beban kendaraan. Agar torsi ini efektif, dibutuhkan daya cengkeram atau traksi yang kuat antara karet ban dan permukaan jalan. Pada kondisi kering, aspal memberikan friksi yang cukup bagi ban untuk "menggigit" permukaan jalan. Namun, air berfungsi sebagai pelumas yang mengurangi gesekan tersebut secara drastis.
Saat pengemudi menginjak pedal gas pada jalan basah, mesin mungkin menghasilkan torsi puncak pada angka yang sama dengan kondisi kering. Namun, karena rendahnya koefisien gesek, ban tidak mampu menahan gaya puntir tersebut. Alih-alih berubah menjadi percepatan linear (gerak maju), tenaga tersebut berubah menjadi energi kinetik rotasi yang berlebihan pada roda, sehingga mobil terasa kehilangan tenaga atau mengalami hambatan saat akan berakselerasi.
2. Efek aquaplaning yang memutus distribusi tenaga

Salah satu kendala terbesar saat berkendara di jalan basah adalah risiko aquaplaning atau hydroplaning. Fenomena ini terjadi ketika lapisan air menumpuk di depan ban lebih cepat daripada kemampuan berat kendaraan untuk menyingkirkannya. Akibatnya, terbentuk lapisan tipis air di antara ban dan aspal yang menyebabkan ban benar-benar melayang dan tidak menyentuh permukaan jalan sama sekali.
Dalam kondisi ini, hubungan mekanis antara mesin dan jalan terputus total. Meskipun transmisi mengirimkan torsi besar ke poros roda, tidak ada media yang menyalurkan gaya tersebut ke tanah. Bagi kendaraan modern yang dilengkapi dengan sistem kontrol traksi (TCS), komputer akan mendeteksi hilangnya cengkeraman ini dan secara otomatis membatasi keluaran tenaga mesin atau melakukan pengereman pada roda tertentu. Hal inilah yang membuat pengemudi merasa torsi mobil menjadi loyo dan tidak responsif saat melintasi genangan air.
3. Peningkatan beban kerja sistem transmisi dan diferensial

Jalanan yang basah juga memberikan beban kerja yang tidak konsisten pada sistem penggerak. Seringkali, satu roda mendapatkan traksi sementara roda lainnya berada di atas genangan air. Ketidakseimbangan ini memaksa komponen diferensial bekerja lebih keras untuk membagi distribusi torsi agar mobil tetap stabil dan tidak melintir.
Ketidakteraturan beban ini menyebabkan penyaluran tenaga menjadi terputus-putus (stuttering). Energi yang seharusnya digunakan untuk mendorong massa kendaraan justru habis terserap oleh gesekan internal pada sistem transmisi dan intervensi sistem elektronik keamanan mobil. Hasil akhirnya adalah penurunan efisiensi mekanis secara keseluruhan, di mana tenaga yang dirasakan di kabin jauh di bawah spesifikasi teknis yang tertera di atas kertas.


















