Kenapa Ban Jenis All-Terrain Lebih Cepat Terkikis di Jalan Tol?

- Komposisi material karet yang lebih lunakBan AT dirancang dengan karet lunak untuk medan kasar, tapi di jalan tol, karetnya cepat terkikis akibat gesekan dengan aspal panas dan kasar.
- Efek deformasi blok tapak pada kecepatan tinggiBlok tapak ban AT mengalami pergerakan lentur saat melaju di atas 80 km/jam, menciptakan panas internal tambahan dan mempercepat penipisan tapak ban.
- Distribusi beban dan luas area kontak yang terbatasBan AT memiliki area kontak terfragmentasi sehingga tekanan tinggi hanya pada puncak blok tapak, meningkatkan proses abrasi di jalan tol.
Ban jenis All-Terrain (AT) sering kali menjadi pilihan utama bagi pemilik kendaraan SUV atau kabin ganda karena tampilannya yang gagah dan kemampuannya melahap medan semi off-road. Namun, penggunaan ban dengan blok tapak besar ini pada permukaan jalan tol yang rata dan keras sering kali membawa konsekuensi berupa laju keausan yang jauh lebih cepat dibandingkan ban jalan raya biasa.
Keandalan ban AT di atas tanah dan kerikil tidak serta-merta berubah menjadi ketahanan di atas aspal panas jalur bebas hambatan. Ada mekanisme fisika dan komposisi material yang bekerja secara berlawanan ketika ban dengan desain agresif ini dipaksa bekerja pada kecepatan tinggi di permukaan jalan yang monoton dan bersifat abrasif.
1. Komposisi material karet yang lebih lunak

Produsen ban merancang ban AT dengan senyawa karet (compound) yang cenderung lebih lunak dibandingkan ban Highway Terrain (HT). Karakteristik lunak ini sengaja dibuat agar ban memiliki fleksibilitas tinggi untuk mencengkeram permukaan jalan yang tidak rata, seperti batu atau tanah liat. Di medan kasar, kelunakan ini adalah keunggulan, namun di jalan tol, hal ini menjadi kelemahan utama.
Permukaan aspal jalan tol memiliki tingkat abrasif yang sangat tinggi, terutama saat suhu permukaan jalan meningkat akibat terik matahari. Karet ban AT yang lunak akan lebih cepat terkikis seperti penghapus pensil saat bergesekan dengan aspal yang panas dan kasar. Pada kecepatan tinggi, gesekan tersebut menghasilkan energi panas yang lebih besar, sehingga molekul karet menjadi lebih tidak stabil dan lebih mudah terlepas dari blok tapak utama.
2. Efek deformasi blok tapak pada kecepatan tinggi

Ciri khas ban AT adalah memiliki blok tapak yang tinggi, renggang, dan dalam untuk keperluan evakuasi lumpur atau air. Saat melaju di jalan tol dengan kecepatan stabil di atas 80 km/jam, blok-blok tapak yang tinggi ini mengalami fenomena yang disebut sebagai tread squirm atau pergerakan lentur pada blok ban. Blok ban yang tinggi cenderung menekuk atau bergeser secara mikroskopis saat menerima beban gravitasi dan gaya sentrifugal.
Pergerakan atau "goyangan" pada setiap blok tapak ini menciptakan panas internal tambahan di dalam struktur ban. Akibatnya, area tepi setiap blok tapak akan mengalami pengikisan yang tidak rata atau yang sering disebut dengan feathering. Semakin cepat kendaraan melaju di jalan tol, semakin besar frekuensi deformasi blok tersebut, yang secara langsung mempercepat penipisan kedalaman tapak ban jauh sebelum masa pakai yang diperkirakan.
3. Distribusi beban dan luas area kontak yang terbatas

Berbeda dengan ban jalan raya yang memiliki permukaan kontak (contact patch) yang lebar dan rata, ban AT memiliki area kontak yang lebih terfragmentasi karena adanya celah-celah besar antar blok. Hal ini menyebabkan beban kendaraan tidak tersebar secara merata ke seluruh permukaan ban, melainkan terkonsentrasi hanya pada puncak-puncak blok tapak saja.
Konsentrasi beban pada area yang lebih sempit ini meningkatkan tekanan pada setiap inci persegi karet yang menyentuh aspal. Tekanan yang tinggi dibarengi dengan gesekan konstan di jalan tol membuat proses abrasi terjadi lebih intensif pada titik-titik tumpu tersebut. Tanpa adanya perawatan rutin seperti rotasi ban yang terjadwal, ban AT yang sering digunakan di jalan tol akan menunjukkan gejala keausan tidak merata yang dapat memicu getaran pada kemudi dan menurunkan tingkat kenyamanan berkendara.

















