Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Jalan Basah Bikin Mobil Sulit Nanjak?

Screen Shot 2025-08-29 at 4.51.08 PM.png
ilustrasi tanjakan (unsplash.com/Stephen Cook)
Intinya sih...
  • Hilangnya gaya gesek statis akibat pelumasan air
  • Perpindahan beban ke belakang yang memperburuk selip roda depan
  • Intervensi sistem kontrol traksi yang membatasi tenaga
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kondisi jalan menanjak yang dibasahi air hujan menciptakan tantangan ganda bagi sistem mekanis kendaraan dan hukum fisika yang bekerja pada ban. Ketika permukaan aspal menjadi licin, koefisien gesek yang dibutuhkan untuk melawan gaya gravitasi menurun drastis, sehingga seringkali tenaga mesin yang besar pun tidak cukup untuk membawa kendaraan mencapai puncak.

Interaksi antara karet ban dan permukaan jalan yang terganggu oleh lapisan air menyebabkan distribusi tenaga tidak terserap secara optimal ke aspal. Akibatnya, roda cenderung berputar di tempat atau mengalami selip, yang pada akhirnya menghentikan momentum maju kendaraan dan menempatkan pengemudi dalam situasi yang cukup berisiko.

1. Hilangnya gaya gesek statis akibat pelumasan air

Ilustrasi tanjakan (Pexels/Kalei Engleman)
Ilustrasi tanjakan (Pexels/Kalei Engleman)

Tanjakan membutuhkan gaya gesek statis yang jauh lebih besar dibandingkan jalan datar karena mesin harus bekerja ekstra melawan gaya tarik bumi yang menarik massa kendaraan ke belakang. Pada aspal kering, pori-pori jalan memberikan cengkeraman mikroskopis yang kuat bagi ban. Namun, air hujan bertindak sebagai pelumas yang mengisi celah-celah aspal tersebut, menciptakan lapisan antara yang sangat licin.

Dalam kondisi ini, traksi yang tersedia seringkali berada di bawah batas ambang gaya yang diperlukan untuk mendorong kendaraan naik. Meskipun mesin menghasilkan torsi yang cukup, ban tidak memiliki tumpuan yang kokoh untuk menolak ke belakang agar mobil bisa terdorong ke depan. Hal ini menjelaskan mengapa mobil seringkali hanya bisa menderu keras namun tetap diam di tempat atau bahkan perlahan merosot saat mencoba menanjak di tengah hujan.

2. Perpindahan beban ke belakang yang memperburuk selip roda depan

Mazda CX-60 dapat dengan mudah melibas tanjakan ekstrem Sitinjau Lauik (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Mazda CX-60 dapat dengan mudah melibas tanjakan ekstrem Sitinjau Lauik (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Pada mobil dengan sistem penggerak roda depan (Front Wheel Drive/FWD), masalah jalan basah menjadi jauh lebih sulit. Saat berada di tanjakan, pusat gravitasi kendaraan secara alami berpindah ke sumbu roda belakang. Fenomena ini mengurangi tekanan vertikal pada roda depan yang seharusnya menjadi tumpuan utama untuk menarik mobil ke atas.

Ketika tekanan pada roda penggerak berkurang sementara permukaan jalan sangat licin akibat air, maka wheelspin atau putaran roda liar tidak dapat dihindari. Dengan tinggi badan 170 cm dan berat 74 kg, posisi duduk pengemudi pun memberikan kontribusi pada distribusi beban, namun pada tanjakan yang curam, pergeseran massa kendaraan secara keseluruhan jauh lebih dominan. Tanpa beban yang cukup menekan ban ke aspal basah, tenaga dari transmisi hanya akan terbuang menjadi energi panas melalui gesekan sia-sia di permukaan air.

3. Intervensi sistem kontrol traksi yang membatasi tenaga

ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)
ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)

Kendaraan modern umumnya dilengkapi dengan fitur Traction Control System (TCS) yang dirancang untuk mencegah ban selip. Saat mendeteksi roda berputar lebih cepat daripada kecepatan kendaraan yang sebenarnya di tanjakan basah, sistem komputer akan segera mengambil tindakan. Komputer mungkin akan mengurangi suplai bahan bakar ke mesin atau menerapkan pengereman ringan pada roda yang selip tersebut.

Meskipun sistem ini sangat baik untuk menjaga stabilitas dan mencegah mobil melintir ke samping, pada tanjakan yang sangat licin, intervensi TCS seringkali justru membuat mobil kehilangan momentum. Pemotongan tenaga mesin yang terlalu agresif menyebabkan mobil kekurangan daya dorong untuk mengatasi kemiringan jalan. Alhasil, mobil seolah-olah kehilangan "napas" di tengah tanjakan karena sistem elektronik berusaha keras mencari cengkeraman yang memang hampir tidak ada di atas permukaan jalan yang basah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Jangan Anggap Sepele, Kesalahan Parkir Ini Bisa Merugikan Mobilmu!

16 Jan 2026, 13:10 WIBAutomotive