Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mencampur Pertalite dan Pertamax Bisa Menghasilkan Oktan Baru?
Ilustrasi mengisi bensin (Pexels/Andrea Piacquadio)
  • Mencampur Pertalite dan Pertamax tidak menciptakan oktan baru karena aditif kimia keduanya saling merusak, justru menurunkan kualitas bahan bakar.
  • Perbedaan titik didih kedua bahan bakar menyebabkan pembakaran tidak merata, memicu endapan karbon yang bisa merusak piston dan katup mesin.
  • Pencampuran menurunkan efisiensi mesin serta meningkatkan risiko kerusakan, sehingga disarankan memakai satu jenis bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang mencampur bensin Pertalite dan Pertamax supaya mobilnya lebih kuat dan hemat. Tapi ternyata itu tidak bikin bensin baru, malah bisa bikin mesin rusak. Campuran dua bensin itu bisa bikin kotoran di dalam mesin dan bikin tenaga mobil jadi lemah. Sekarang orang disarankan pakai satu jenis bensin saja biar mesin tetap sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kebiasaan mencampur dua jenis bahan bakar minyak yang berbeda kadar oktan sering kali dilakukan dengan harapan bisa mendapatkan performa mesin yang lebih baik secara ekonomis. Banyak pemilik kendaraan yang meyakini bahwa penggabungan ini akan melahirkan jenis bahan bakar baru dengan nilai oktan di angka pertengahan.

Asumsi tersebut sekilas terlihat sangat logis jika hanya dihitung menggunakan rumus matematika sederhana di atas kertas. Namun, dari sudut pandang ilmu kimia dan teknis otomotif, tindakan mengoplos cairan bahan bakar ini justru menyimpan risiko buruk yang dapat merugikan kesehatan mesin kendaraan dalam jangka panjang.

1. Tidak menghasilkan oktan baru

ilustrasi isi bensin (pexels.com/Engin Akyurt)

Secara matematis, banyak orang mengira bahwa mencampur pertalite beroktan 90 dan pertamax beroktan 92 dengan perbandingan 1:1 akan menghasilkan oktan 91. Perhitungan linear tersebut sayangnya tidak berlaku dalam dunia kimia cairan hidrokarbon. Setiap jenis bahan bakar minyak telah dirancang oleh kilang pengolahan dengan formulasi senyawa aditif yang sangat spesifik dan mengikat satu sama lain.

Ketika kedua cairan yang berbeda karakteristik ini disatukan di dalam tangki, senyawa aditif dari masing-masing bahan bakar justru akan saling bertabrakan dan merusak. Senyawa detergen pembersih dan zat antipenguapan yang tertanam di dalam pertamax akan menjadi tidak stabil karena terkontaminasi oleh komponen pertalite. Alih-alih mendapatkan nilai oktan baru yang seimbang, proses pencampuran ini justru berpotensi menurunkan kualitas struktur kimia bahan bakar secara keseluruhan.

2. Dampak buruk pengendapan sisa kimia terhadap kebersihan ruang bakar

Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Setiap tingkatan bahan bakar minyak memiliki kemampuan penguapan dan titik didih yang berbeda-beda sesuai dengan peruntukan rasio kompresi mesin. Pertamax dirancang untuk tahan terhadap tekanan tinggi sebelum dibakar oleh percikan api busi, sementara pertalite memiliki titik bakar yang jauh lebih rendah. Percampuran kedua zat ini akan menciptakan senyawa hibrida tiruan yang tidak memiliki titik didih homogen atau seragam saat disemprotkan oleh injektor.

Ketidakseragaman titik didih ini menyebabkan proses pembakaran di dalam silinder mesin menjadi tidak merata dan meninggalkan banyak sisa partikel yang tidak terbakar. Sisa cairan yang gagal meledak tersebut lama-kelamaan akan menguap dan berubah menjadi tumpukan kerak karbon yang keras di atas permukaan piston dan payung katup. Akumulasi kerak kotoran ini dalam jangka panjang akan memicu gejala mesin mengelitik atau detonasi dini yang dapat merusak dinding silinder.

3. Penurunan efisiensi performa mesin dan solusi perawatan sirkulasi bahan bakar

ilustrasi mekanik sedang cek mesin mobil (pexels.com/Sergey Meshkov)

Efek domino dari rusaknya formula aditif akibat pengoplosan bahan bakar ini adalah merosotnya tingkat efisiensi konsumsi energi kendaraan. Mesin akan terasa lebih berat saat berakselerasi karena komputer mobil harus terus menyesuaikan waktu pengapian akibat mendeteksi ketidakstabilan kualitas bahan bakar. Tindakan mencampur bensin ini pada akhirnya tidak akan menghemat biaya pengeluaran, melainkan justru menambah beban biaya perbaikan akibat kerusakan komponen internal.

Langkah paling bijak untuk menjaga keandalan mesin adalah dengan konsisten memilih satu jenis bahan bakar yang paling sesuai dengan buku panduan pabrikan. Jika kendaraan memiliki spesifikasi mesin kompresi tinggi, maka pengisian tangki secara penuh menggunakan pertamax merupakan pilihan mutlak yang tidak boleh ditawar. Melalui kedisiplinan dalam menggunakan bahan bakar yang homogen, sistem injeksi akan selalu bersih dan performa kendaraan akan tetap terjaga pada tingkat yang paling optimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article