Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mobil Listrik Lebih Tahan Menerjang Banjir: Mitos atau Fakta?

Screen Shot 2025-07-09 at 3.28.40 PM.png
ilustrasi banjir (pexels/Sveta K)
Intinya sih...
  • Standar perlindungan baterai terhadap infiltrasi airMobil listrik memiliki standar IP67 atau IP69 yang menjamin ketahanan baterai dan motor listrik terhadap air, serta minim risiko korsleting saat melewati genangan air.
  • Fitur keselamatan otomatis dan sensor kebocoran arusMobil listrik dilengkapi dengan sistem manajemen baterai canggih untuk mendeteksi gangguan, memutus aliran listrik dari baterai jika ada kebocoran arus atau masuknya air.
  • Batas toleransi dan risiko jangka panjang pasca banjirMeskipun lebih aman dari kerusakan mesin, mobil listrik tetap berisiko hanyut saat banjir, serta rentan terhadap korosi pada kom
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Beberapa hari terakhir ini media sosial ramai membicarakan mobil listrik yang mampu menerabas banjir di salah satu jalanan Jakarta. Mobil yang diketahui adalah Chery J6 tersebut tersebut melenggang santai melintasi banjir ketika mobil-mobil lain terpaksa berhenti karena genangan airnya terlalu tinggi untuk dilewati.

Banyak orang kemudian menganggap kalau mobil listrik lebih tahan menerjang banjir dibandingkan mobil bensin. Memang sih, mobil listrik dirancang sedemikian rupa untuk menghadapi berbagai kondisi ekstrim, termasuk genangan air yang mungkin merusak kendaraan konvensional. Tapi benarkah mobil listrik setahan itu menerjang banjir?

1. Standar perlindungan baterai terhadap infiltrasi air

Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)
Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)

Keamanan utama mobil listrik saat menerjang banjir terletak pada sertifikasi Ingress Protection (IP), biasanya pada level IP67 atau IP69. Standar ini menjamin bahwa paket baterai dan motor listrik tersegel rapat dari debu dan air, bahkan saat terendam pada kedalaman tertentu dalam durasi waktu yang telah ditentukan. Komponen tegangan tinggi pada mobil listrik tidak memiliki kontak langsung dengan lingkungan luar, sehingga risiko korsleting saat melewati genangan air sangat minimal.

Berbeda dengan mobil bensin yang memerlukan udara untuk proses pembakaran, mobil listrik beroperasi dalam sistem tertutup. Tidak adanya saluran udara masuk (intake) dan saluran pembuangan (exhaust) membuat mobil listrik tidak rentan terhadap fenomena water hammer. Kondisi tersebut terjadi ketika air masuk ke ruang bakar mesin bensin dan menyebabkan kerusakan fatal pada piston serta blok mesin, sesuatu yang mustahil terjadi pada motor listrik.

2. Fitur keselamatan otomatis dan sensor kebocoran arus

ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)
ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)

Selain segel fisik yang kuat, mobil listrik dilengkapi dengan sistem manajemen baterai yang sangat canggih untuk mendeteksi gangguan sekecil apa pun. Sensor khusus akan memantau isolasi arus listrik secara terus-menerus. Jika sistem mendeteksi adanya kebocoran arus atau masuknya air ke area sensitif, sirkuit utama akan segera memutus aliran listrik dari baterai ke seluruh kendaraan dalam hitungan milidetik.

Fitur ini memastikan bahwa bodi mobil dan air di sekitarnya tidak akan teraliri listrik yang membahayakan penumpang maupun orang di luar kendaraan. Secara teori, sistem proteksi ini jauh lebih responsif dibandingkan proteksi pada komponen elektronik mobil konvensional. Meski demikian, tetap harus diperhatikan bahwa komponen pendukung seperti sistem pengereman, kaki-kaki, dan fitur interior tetap memiliki batas toleransi terhadap air yang sama dengan mobil biasa.

3. Batas toleransi dan risiko jangka panjang pasca banjir

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Walaupun secara teknis lebih aman dari risiko kerusakan mesin mendadak, menerjang banjir tetap bukan tindakan yang disarankan bagi pemilik mobil listrik. Masalah utama yang sering muncul bukanlah sengatan listrik, melainkan daya apung kendaraan. Bobot baterai yang berat memang memberikan pusat gravitasi rendah, namun volume kabin yang kedap dapat membuat mobil kehilangan traksi dan hanyut jika arus air terlalu deras.

Setelah melewati banjir, risiko jangka panjang berupa korosi pada konektor dan komponen suspensi tetap membayangi. Air yang masuk ke celah-celah kecil dapat memicu karat yang merusak sistem mekanis seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, pemeriksaan menyeluruh di bengkel resmi tetap menjadi prosedur wajib setelah kendaraan dipaksa menembus genangan air yang cukup tinggi. Kesimpulannya, mobil listrik memang lebih tangguh terhadap risiko kerusakan mesin akibat air, namun kehati-hatian tetap menjadi kunci utama keselamatan di jalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Yamaha TMAX DIbanderol Rp455 Juta, Ini Daftar Keunggulannya!

25 Jan 2026, 13:05 WIBAutomotive