Mobil Listrik Pakai Ban Konvensional, Ini Efek Buruknya

Kendaraan listrik dirancang dengan spesifikasi teknis yang sangat berbeda dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal. Salah satu komponen yang sering dianggap remeh namun memiliki peran vital dalam menyalurkan tenaga adalah ban, yang sebenarnya membutuhkan teknologi khusus untuk menangani karakteristik unik mesin elektrik.
Mengganti ban khusus kendaraan listrik dengan ban biasa mungkin terlihat sebagai solusi penghematan biaya dalam jangka pendek. Namun, keputusan ini membawa konsekuensi serius terhadap kenyamanan, keamanan, hingga jarak tempuh maksimal yang dapat dicapai oleh kendaraan, karena ban standar tidak dipersiapkan untuk menghadapi beban kerja ekstrem yang dihasilkan oleh motor listrik.
1. Penurunan jarak tempuh akibat hambatan gulir yang tinggi

Salah satu keunggulan utama ban khusus kendaraan listrik adalah rendahnya nilai hambatan gulir atau rolling resistance. Ban ini dirancang menggunakan senyawa karet khusus yang memungkinkan mobil meluncur lebih jauh dengan energi minimal. Ketika mobil listrik dipasangi ban biasa, hambatan gulir akan meningkat secara signifikan, yang secara langsung menyebabkan konsumsi daya baterai menjadi lebih boros untuk menempuh jarak yang sama.
Kehilangan efisiensi ini sangat terasa pada kendaraan listrik karena baterai memiliki kepadatan energi yang terbatas dibandingkan tangki bahan bakar cair. Penggunaan ban biasa dapat memangkas jarak tempuh maksimal hingga 10 persen atau lebih, tergantung pada jenis ban yang dipilih. Bagi pengemudi yang sering melakukan perjalanan jarak jauh, penurunan efisiensi ini tentu merugikan karena frekuensi pengisian daya di stasiun pengisian umum akan menjadi lebih sering dari yang seharusnya.
2. Usia pakai ban yang lebih pendek akibat beban berat dan torsi instan

Mobil listrik memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada mobil konvensional sekelasnya karena adanya paket baterai yang masif. Ban biasa tidak dirancang dengan struktur dinding samping (sidewall) yang cukup kuat untuk menopang beban statis dan dinamis kendaraan listrik secara terus-menerus. Akibatnya, ban biasa akan lebih cepat mengalami deformasi dan keausan yang tidak merata, yang pada akhirnya memperpendek usia pakai komponen tersebut.
Selain faktor beban, motor listrik menghasilkan torsi maksimal secara instan begitu pedal gas diinjak. Hentakan tenaga yang mendadak ini memberikan tekanan gesek yang luar biasa besar pada permukaan ban. Ban khusus kendaraan listrik memiliki konstruksi tapak yang lebih kaku dan senyawa karet yang lebih tahan gesek untuk menangani torsi tersebut. Tanpa spesifikasi tersebut, ban biasa akan mengalami pengikisan tapak yang sangat cepat, bahkan dalam beberapa kasus, ban bisa habis dua kali lebih cepat dibandingkan jika digunakan pada mobil bensin biasa.
3. Meningkatnya kebisingan di dalam kabin dan gangguan kenyamanan

Salah satu fitur paling menyenangkan dari mobil listrik adalah kesenyapan kabinnya karena tidak ada suara ledakan mesin. Namun, ketiadaan suara mesin membuat suara putaran ban di atas aspal menjadi jauh lebih terdengar jelas. Ban khusus kendaraan listrik biasanya dilengkapi dengan lapisan busa peredam di bagian dalam atau pola tapak khusus untuk meminimalkan suara kebisingan jalan (road noise).
Jika menggunakan ban biasa, suara raungan ban saat melaju di kecepatan tinggi akan masuk ke dalam kabin tanpa hambatan. Hal ini tentu merusak pengalaman berkendara yang tenang dan mewah yang seharusnya menjadi nilai jual utama mobil listrik. Selain masalah suara, ban biasa mungkin tidak memberikan tingkat kestabilan pengereman yang optimal bagi mobil listrik yang berat, sehingga aspek keselamatan saat melakukan manuver darurat menjadi lebih berisiko bagi pengemudi dan penumpang.


















