Kebiasaan mengganti pelumas mesin mobil hanya dengan berpatokan pada angka odometer atau jarak kilometer yang tertera di panel instrumen masih tertanam kuat di benak sebagian besar pemilik kendaraan. Banyak orang merasa sangat aman selama angka di spidometer belum menyentuh batas kelipatan lima ribu atau sepuluh ribu kilometer untuk menjadwalkan servis rutin ke bengkel. Pemahaman konvensional ini terus dipertahankan tanpa menyadari adanya variabel kondisi jalanan yang telah berubah secara drastis di area perkotaan.
Bagi kendaraan yang sehari-hari harus membelah rute padat dan sering terjebak kemacetan parah, indikator jarak tempuh sudah tidak lagi akurat menjadi tolok ukur kesehatan pelumas. Mesin yang dipaksa bekerja keras dalam kondisi statis menuntut penyesuaian jadwal perawatan yang jauh lebih cepat daripada panduan standar. Jika metode perawatan lama ini tetap dipaksakan, risiko kerusakan fatal akibat penurunan kualitas pelumas akan mengintai jantung mekanis kendaraan secara perlahan dari dalam.
