Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pasar Kendaraan Listrik Global Lesu: Penjualan Merosot 11 Persen
mobil listrik hyundai (pexels.com/Hyundai motor group)
  • Penjualan kendaraan listrik global turun 11 persen pada awal 2026, dipicu anjloknya pasar Tiongkok dan Amerika Utara akibat berakhirnya insentif serta perubahan kebijakan emisi.
  • Konsumen makin sensitif terhadap harga di tengah ekonomi tak pasti, membuat penjualan global hanya sedikit di atas satu juta unit dan menekan nilai aset produsen besar hingga miliaran dolar.
  • Eropa mencatat pertumbuhan 21 persen sementara produsen Tiongkok agresif berekspansi ke Asia, Australia, dan Eropa untuk menutupi penurunan tajam di pasar domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia otomotif global sedang menghadapi tantangan serius pada awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru, angka penjualan kendaraan listrik di seluruh dunia mengalami penurunan yang cukup signifikan, memicu kekhawatiran di kalangan produsen dan investor.

Merosotnya permintaan ini terutama dipicu oleh kondisi pasar di negara-negara besar yang selama ini menjadi penyokong utama tren kendaraan ramah lingkungan. Pergeseran kebijakan dan sensitivitas harga menjadi faktor penentu yang mengubah peta persaingan industri ini.

1. Penurunan drastis di pasar Tiongkok dan Amerika Utara

potret mobil listrik (Pexels.com/Kindel Media)

Tiongkok, yang selama ini menyandang status sebagai pasar kendaraan listrik terbesar di dunia, mencatatkan rapor merah pada Februari 2026. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) dan plug-in hybrid di negara tersebut anjlok hingga 32 persen secara tahunan, dengan total unit di bawah 500.000. Angka ini merupakan penurunan terdalam yang dialami Tiongkok sejak awal pandemi COVID-19 pada tahun 2020 silam.

Kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan terjadi di Amerika Utara. Pasar di wilayah tersebut menyusut hingga 35 persen, menandai penurunan selama lima bulan berturut-turut. Faktor utamanya adalah berakhirnya program insentif pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat sejak September tahun lalu. Selain itu, usulan pelonggaran standar emisi karbon oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Donald Trump turut melemahkan niat konsumen untuk beralih ke teknologi listrik.

2. Konsumen semakin sensitif terhadap harga

mobil listrik sedang di charge (pexels.com/Kindel media)

Di tengah ketidakpastian ekonomi, perilaku konsumen mulai bergeser secara nyata. Manajer Data dari lembaga konsultan Benchmark Mineral Intelligence (BMI), Charles Lester, mengungkapkan bahwa harga kini menjadi variabel paling krusial bagi calon pembeli. Penurunan total penjualan global menjadi hanya sedikit di atas satu juta unit pada dua bulan pertama tahun ini mencerminkan bahwa kendaraan listrik masih dianggap sebagai barang mewah yang sensitif terhadap daya beli.

Melemahnya permintaan global ini membawa dampak finansial yang luar biasa bagi raksasa otomotif. Sejumlah produsen yang memiliki ketergantungan besar pada pasar Amerika Serikat bahkan harus menelan pil pahit dengan penurunan nilai aset hingga lebih dari 70 miliar dolar AS. Tanpa adanya subsidi atau perang harga yang lebih kompetitif, laju pertumbuhan kendaraan listrik diprediksi akan terus melambat hingga pertengahan tahun ini.

3. Sinyal positif dari Eropa dan ekspansi produsen Tiongkok

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Mike Bird)

Meskipun gambaran global terlihat suram, pasar Eropa masih menunjukkan sedikit titik terang. Kawasan ini berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 21 persen pada Februari 2026. Walaupun laju pertumbuhan ini melambat jika dibandingkan dengan performa tahun lalu, pasar Eropa terbukti lebih tangguh dalam mempertahankan minat masyarakat terhadap mobilitas berkelanjutan.

Di sisi lain, wilayah luar pasar utama justru melonjak drastis sebesar 78 persen. Kenaikan ini didorong oleh strategi agresif produsen mobil listrik asal Tiongkok yang mulai "mengungsi" ke pasar luar negeri akibat persaingan domestik yang terlalu berdarah. Mereka memperluas jangkauan ke Asia, Australia, hingga pelosok Eropa. Ekspansi ini menjadi strategi kunci bagi perusahaan seperti BYD dan Zeekr untuk menutupi penurunan volume di pasar lokal mereka sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team