Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Terobosan Baterai Solid-State: CATL Siapkan Revolusi Energi di 2027
Ilustrasi CATL. (catl.com)
  • CATL mengumumkan paten baru untuk menstabilkan elektrolit sulfida pada baterai all-solid-state, dengan target produksi skala kecil dan standar nasional Tiongkok pada tahun 2027.
  • Perusahaan menandatangani kerja sama senilai 66 miliar yuan dengan Guangdong Jiayuan Technology guna menjamin pasokan foil tembaga penting bagi produksi baterai padat masa depan.
  • Tantangan utama mencakup peningkatan skala sel hingga 60Ah serta biaya tinggi yang masih 3–5 kali lipat dari baterai lithium-ion, membuat fokus awal diarahkan ke sektor drone dan robotika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Raksasa baterai asal Tiongkok, CATL, baru saja mempublikasikan paten terbaru yang menjadi langkah krusial dalam mengatasi ketidakstabilan elektrolit sulfida pada baterai all-solid-state. Inovasi ini dirancang untuk mendukung target produksi skala kecil pada tahun 2027, bertepatan dengan rencana pemerintah Tiongkok merilis standar nasional teknologi ini.

Baterai masa depan ini menjanjikan kerapatan energi mencapai 500 Wh/kg, jauh melampaui kemampuan baterai lithium-ion konvensional saat ini. Dengan fokus pada material katoda baru, perusahaan berupaya mengubah prototipe laboratorium menjadi sel kelas otomotif yang siap diintegrasikan ke dalam kendaraan listrik generasi terbaru.

1. Inovasi paten untuk stabilitas elektrolit sulfida

Ilustrasi CATL. (catl.com)

Berdasarkan data dari carnewschina.com, paten dengan nomor PCT/CN2025/086345 ini berfokus pada metode persiapan material aktif elektroda positif yang spesifik. Teknologi ini bertujuan memitigasi kegagalan kontak antarmuka yang selama ini menjadi kelemahan utama kimia berbasis sulfida. Saat ini, tingkat kematangan teknologi perusahaan berada pada level 4, dengan ambisi mencapai level 7 atau 8 pada tahun 2027 mendatang.

Kepala Ilmuwan CATL, Wu Kai, secara konsisten menekankan pentingnya peta jalan yang terukur dalam pengembangan ini. Menurutnya, target jangka pendek perusahaan adalah memproduksi prototipe sel 60Ah kelas otomotif yang stabil. "Scientific challenges have been largely resolved (tantangan ilmiah sebagian besar telah terpecahkan)," lapor pihak perusahaan, meski mereka mengakui bahwa hambatan rekayasa teknik masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

2. Strategi rantai pasok dan komitmen foil tembaga

Ilustrasi CATL. (catl.com)

Sebagai bagian dari persiapan industrialisasi, CATL telah menandatangani perjanjian kerangka kerja sama dengan Guangdong Jiayuan Technology pada akhir 2025. Perjanjian senilai 66 miliar yuan ini menjamin kapasitas pasokan foil tembaga sebanyak 626.000 ton untuk periode 2026-2028. Foil tembaga khusus ini sangat vital sebagai kolektor arus anoda, baik untuk jalur baterai semi-padat maupun padat sepenuhnya.

Langkah pengamanan infrastruktur material ini menunjukkan transisi CATL dari sekadar riset menjadi produksi massal. Meskipun pengiriman pada tahun 2025 masih tergolong kecil, pemesanan kapasitas raksasa ini memberikan pesan jelas kepada pesaing global seperti Toyota dan Samsung. Strategi ganda ini—mengamankan wilayah intelektual sekaligus infrastruktur fisik—menjadi fondasi utama CATL dalam memenangkan perlombaan teknologi baterai masa depan.

3. Tantangan rekayasa teknis dan realitas biaya

Ilustrasi CATL. (catl.com)

Hambatan terbesar yang dihadapi para insinyur adalah meningkatkan skala sel dari sampel 20Ah menjadi sel 60Ah kelas otomotif. Tidak seperti baterai cair, tumpukan solid-state sulfida membutuhkan kompresi tonase tinggi yang konstan untuk menjaga kontak antar lapisan. Para ahli menggambarkan lapisan keramik ini serupa "ubin batu tulis yang dipoles," bersifat padat namun rapuh, sehingga memerlukan desain casing yang sangat kaku.

Selain kerumitan mekanis, faktor biaya tetap menjadi ganjalan utama bagi adopsi massal. Saat ini, sel solid-state sulfida dibanderol 3 hingga 5 kali lebih mahal daripada baterai lithium-ion biasa. Oleh karena itu, CATL memposisikan penggunaan awal teknologi ini pada sektor drone dan robotika, di mana kepadatan energi jauh lebih krusial dibandingkan kesetaraan harga pasar. Perusahaan juga menepis rumor mengenai mobil listrik berjarak tempuh 2.000 km di tahun 2027, dan memilih tetap fokus pada penyempurnaan unit kelas pilot.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team