Penjualan EV Lesu, Toyota Tunda Pembangunan Pabrik Baterai di Jepang

- Rencana investasi besar yang kembali ditunda
- Dampak penurunan penjualan terhadap strategi global
- Tetap berinvestasi, namun lebih selektif
Toyota Motor Corporation kembali mengambil langkah hati-hati di tengah fluktuasi pasar kendaraan listrik global. Raksasa otomotif asal Jepang ini memutuskan untuk menunda pembangunan pabrik baru baterai mobil listrik yang semula akan dibangun di Prefektur Fukuoka, Jepang. Keputusan tersebut mencerminkan sikap realistis Toyota dalam menghadapi permintaan pasar EV yang belum sepenuhnya stabil.
Penundaan ini bukan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, pada Maret lalu, Toyota juga sempat menunda rencana yang sama karena penurunan permintaan mobil listrik di berbagai negara. Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa proyek ini tidak dibatalkan, hanya ditunda hingga kondisi pasar dinilai lebih mendukung. Toyota tetap berkomitmen terhadap pengembangan kendaraan elektrifikasi, namun memilih langkah yang terukur agar investasi besar yang dikeluarkan tidak berakhir sia-sia.
1. Rencana investasi besar yang kembali ditunda

Toyota telah mengeluarkan dana sekitar 6 miliar yen atau setara Rp648,8 miliar untuk pembelian lahan di kawasan industri timur laut Fukuoka. Berdasarkan perjanjian, perusahaan berencana memulai pembangunan pabrik dalam waktu tiga tahun setelah akuisisi lahan tersebut. Namun, karena tren penjualan EV global yang melambat, rencana ini kembali tertunda.
Awalnya, produksi di pabrik baterai ini dijadwalkan dimulai pada tahun 2028, tetapi jadwal baru hingga kini belum diumumkan. Gubernur Fukuoka dan Presiden Toyota, Koji Sato, telah mengonfirmasi penundaan tersebut. Mereka menilai bahwa langkah ini perlu dilakukan untuk menyesuaikan strategi bisnis dengan kondisi pasar yang belum stabil. Toyota ingin memastikan bahwa ketika pabrik benar-benar beroperasi, permintaan pasar sudah cukup kuat untuk menyerap kapasitas produksinya.
2. Dampak penurunan penjualan terhadap strategi global

Penundaan ini bertepatan dengan laporan keuangan terbaru Toyota, yang menurunkan target penjualan EV global sebesar 10 persen dari proyeksi sebelumnya. Dari rencana semula menjual 277.000 unit EV hingga akhir Maret 2026, kini target itu disesuaikan menjadi lebih rendah. Meski begitu, Toyota tetap mempertahankan ambisinya untuk mencapai 1,5 juta unit penjualan EV global pada 2026, tergantung pada perkembangan pasar.
Secara total, penjualan EV Toyota selama sembilan bulan pertama tahun 2025 memang naik 20,6 persen menjadi 117.031 unit, tetapi angka tersebut masih jauh dari ekspektasi awal. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mobil listrik belum sepenuhnya siap untuk pertumbuhan cepat, terutama di tengah tantangan seperti harga tinggi, infrastruktur pengisian daya yang terbatas, dan kekhawatiran konsumen soal jarak tempuh.
3. Tetap berinvestasi, namun lebih selektif

Meskipun proyek di Jepang tertunda, Toyota tidak menghentikan investasinya di sektor kendaraan listrik. Perusahaan tetap berencana membuka pabrik baru di Shanghai, China, pada tahun 2027, untuk memproduksi mobil listrik merek Lexus, termasuk model LF-ZC dan LF-ZL yang sebelumnya diperkenalkan sebagai konsep.
Toyota menilai, membangun pabrik baru tanpa kepastian permintaan bisa menjadi langkah berisiko karena berpotensi membuat fasilitas produksi menganggur atau bekerja di bawah kapasitas optimal. Oleh karena itu, mereka memilih strategi bertahap: memperkuat riset dan pengembangan baterai, meningkatkan efisiensi model hybrid, dan menunggu waktu yang tepat untuk ekspansi besar di sektor EV. Langkah ini menunjukkan bahwa Toyota tetap berkomitmen pada elektrifikasi, tetapi dengan prinsip kehati-hatian yang menjadi ciri khas perusahaan tersebut.



















