Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Transmisi AT vs CVT Mobil: Mana Lebih Bandel dan Responsif?

ilustrasi orang memegang tuas transmisi (unsplash/will dutton)
ilustrasi orang memegang tuas transmisi (unsplash/will dutton)

Dunia otomotif modern menawarkan dua jenis sistem transmisi otomatis yang paling populer, yaitu Automatic Transmission (AT) konvensional dan Continuously Variable Transmission (CVT). Pemahaman mengenai perbedaan mendasar antara keduanya sangat penting bagi setiap pemilik kendaraan agar dapat menyesuaikan gaya berkendara dengan mekanisme yang ada di bawah kap mesin.

Meskipun keduanya bertujuan memberikan kemudahan tanpa perlu mengoperasikan pedal kopling manual, cara kerja internalnya sangatlah berbeda. Pemilihan jenis transmisi ini akan memengaruhi banyak aspek, mulai dari respons akselerasi saat mendaki tanjakan, efisiensi konsumsi bahan bakar harian, hingga kenyamanan seluruh penumpang selama perjalanan jauh di berbagai medan jalan.

1. Mekanisme perpindahan gigi dan penyaluran tenaga mesin

ilustrasi menggunakan transmisi mobil (pexels.com/Mateusz Dach)
ilustrasi menggunakan transmisi mobil (pexels.com/Mateusz Dach)

Perbedaan paling mendasar terletak pada cara kedua transmisi ini menyalurkan tenaga dari mesin ke roda. Transmisi AT konvensional bekerja menggunakan rangkaian roda gigi planet (planetary gear sets) dan pengubah torsi (torque converter). Sistem ini memiliki jumlah gigi yang tetap, misalnya 4, 5, atau 6 percepatan. Setiap kali berpindah gigi, terdapat jeda mekanis kecil yang sering kali dirasakan sebagai hentakan halus, yang bagi sebagian orang memberikan sensasi berkendara yang lebih dinamis dan bertenaga.

Sebaliknya, transmisi CVT tidak memiliki roda gigi fisik untuk mengatur rasio kecepatan. Sebagai gantinya, CVT menggunakan sepasang puli (pulley) yang dihubungkan oleh sabuk baja. Diameter puli ini dapat berubah secara fleksibel mengikuti putaran mesin, sehingga menciptakan rasio gigi yang tidak terbatas. Hasilnya, perpindahan kecepatan terasa sangat halus tanpa ada hentakan sama sekali karena tidak ada proses berpindah dari satu gigi ke gigi lainnya secara bertingkat.

2. Respons berkendara dan performa di medan tanjakan

Screen Shot 2025-08-29 at 4.51.08 PM.png
ilustrasi tanjakan (unsplash.com/Stephen Cook)

Dalam menghadapi medan yang menantang seperti tanjakan terjal, kedua transmisi ini menunjukkan karakter yang kontras. Transmisi AT umumnya lebih disukai untuk beban berat karena sifat roda giginya yang kaku dan kuat dalam menahan torsi besar. Saat mobil membutuhkan tenaga ekstra, sistem AT akan melakukan downshift dengan cepat, memberikan dorongan instan yang terasa padat. Hal ini memberikan rasa percaya diri lebih bagi pengemudi saat membawa beban penuh dengan bobot penumpang yang mencapai 74 kg atau lebih.

Transmisi CVT cenderung memberikan respon yang lebih linear dan tenang. Saat pedal gas ditekan di tanjakan, jarum RPM akan naik dan tertahan di posisi tertentu sementara kecepatan mobil bertambah secara perlahan tapi pasti. Bagi yang belum terbiasa, suara mesin mungkin akan terdengar meraung tanpa adanya perubahan suara perpindahan gigi. Namun, CVT modern telah dilengkapi dengan simulasi perpindahan gigi secara elektronik untuk memberikan sensasi yang mirip dengan transmisi konvensional guna mengurangi rasa canggung saat berakselerasi.

3. Efisiensi bahan bakar dan biaya perawatan jangka panjang

Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Dari sisi ekonomi, CVT sering kali menjadi pemenang dalam hal efisiensi bahan bakar. Karena kemampuannya menjaga mesin tetap pada titik putaran optimal secara terus-menerus, pemborosan energi dapat diminimalisir, terutama pada rute perkotaan yang padat. CVT memastikan mesin tidak bekerja lebih keras dari yang diperlukan, sehingga setiap tetes bensin digunakan seefektif mungkin untuk menggerakkan kendaraan.

Namun, dalam hal daya tahan jangka panjang dan biaya perbaikan, transmisi AT konvensional sering dianggap lebih unggul oleh para mekanik. Struktur roda gigi yang kokoh membuat AT lebih tahan banting terhadap penyiksaan atau gaya berkendara yang agresif. Sementara itu, komponen sabuk baja pada CVT memiliki masa pakai tertentu dan jika terjadi kerusakan, biaya penggantian sabuk atau sabuk baja tersebut biasanya jauh lebih mahal dan kompleks dibandingkan dengan servis rutin pada girboks otomatis biasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Mau Kredit Mobil Bekas? Waspadai Jebakan Financial Ini!

14 Jan 2026, 20:05 WIBAutomotive