Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ini Respons Otak dan Mata Saat Ngebut 120 Km/Jam, Yakin Gak Bahaya?
ilustrasi naik motor (pexels.com/Alejandro Cely Follow)
  • Saat motor melaju di atas 120 km/jam, mata mengalami efek pandangan terowongan sehingga sudut pandang menyempit drastis dan risiko tidak melihat bahaya dari samping meningkat.
  • Otak kesulitan memproses informasi visual dengan cepat karena perubahan lingkungan terjadi dalam milidetik, menyebabkan keterlambatan reaksi terhadap kondisi jalan yang berubah mendadak.
  • Kecepatan tinggi memicu lonjakan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, membuat jantung berdetak cepat serta menurunkan kemampuan otak menilai jarak dan mengambil keputusan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang yang naik motor kencang banget sampai 120 kilo per jam bisa bikin otak dan mata kerja keras sekali. Mata jadi susah lihat ke samping, cuma bisa lihat lurus ke depan. Otak juga lambat mikir karena semuanya bergerak cepat. Jantung berdetak cepat dan badan tegang, jadi bisa bahaya kalau ada hal mendadak di jalan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Berkendara dengan sepeda motor dalam kecepatan tinggi sering kali memicu adrenalin yang membuat sebagian orang merasa tertantang. Sensasi melesat cepat di jalan raya memberikan kepuasan tersendiri bagi para pencinta kecepatan. Namun, di balik kesenangan sesaat tersebut, ada proses biologis yang sangat berat yang harus ditanggung oleh organ tubuh, terutama otak dan indra penglihatan.

Saat motor melaju menyentuh atau melewati angka 120 kilometer per jam, tubuh manusia sebenarnya dipaksa untuk bekerja melampaui batas kemampuan alaminya. Otak dan mata harus berkolaborasi dengan ekstra keras untuk memproses informasi lingkungan sekitar yang berubah dalam hitungan milidetik. Memahami apa yang terjadi pada kedua organ vital ini sangat penting untuk menyadari risiko besar yang mengintai saat memacu kendaraan terlalu kencang.

1. Penyempitan sudut pandang mata atau efek pandangan terowongan

ilustrasi naik motor (pexels.com/cnrdmroglu Follow)

Pada saat manusia berjalan kaki atau berkendara santai, mata normal memiliki sudut pandang perifer yang luas hingga mencapai sekitar 180 derajat. Sudut pandang yang lebar ini memungkinkan pengendara untuk melihat objek di sisi kiri dan kanan jalan dengan jelas, seperti kendaraan lain, pejalan kaki, atau rambu lalu lintas. Kemampuan ini menjaga kewaspadaan lingkungan tetap berada dalam kondisi yang optimal.

Namun, ketika kecepatan motor meningkat drastis hingga di atas 120 kilometer per jam, sudut pandang perifer tersebut akan menyusut secara ekstrem menjadi hanya sekitar 30 derajat saja. Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai efek pandangan terowongan atau tunnel vision, di mana mata hanya mampu fokus pada satu titik jauh di depan. Akibatnya, objek atau bahaya yang datang mendadak dari arah samping sama sekali tidak akan terlihat oleh pengendara.

2. Keterlambatan otak dalam memproses informasi visual

ilustrasi naik motor (pexels.com/Juan Carlos Duran Follow Donate)

Mata berfungsi sebagai kamera yang menangkap gambar, sementara otak bertindak sebagai prosesor yang menerjemahkan gambar tersebut menjadi sebuah pemahaman situasi. Pada kecepatan 120 kilometer per jam, sepeda motor bergerak sejauh kurang lebih 33 meter hanya dalam waktu satu detik saja. Kecepatan pergerakan objek yang sangat masif ini menuntut otak untuk bekerja tanpa henti dalam menyaring stimulus visual yang masuk.

Masalahnya, otak manusia memiliki batasan kecepatan dalam mengolah data visual dan mengambil keputusan taktis. Ketika motor melaju terlalu kencang, otak akan mengalami jeda pemrosesan atau lag karena informasi yang masuk berubah terlalu cepat sebelum sempat dicerna dengan sempurna. Kondisi ini membuat pengendara sering kali terlambat menyadari adanya lubang di jalan atau kendaraan yang mengerem mendadak di depan.

3. Lonjakan hormon stres memicu jantung berdetak lebih cepat

ilustrasi naik motor sendirian (pexels.com/Shrinidhi Holla)

Menyadari situasi pergerakan yang sangat cepat, otak otomatis akan mendeteksi kondisi tersebut sebagai sebuah ancaman keselamatan atau mode bertahan hidup. Bagian otak yang bernama amigdala akan langsung memerintahkan kelenjar tubuh untuk membanjiri aliran darah dengan hormon adrenalin dan kortisol. Lonjakan hormon ini secara instan memicu detak jantung yang lebih cepat dan ketegangan otot yang tinggi.

Meskipun hormon stres ini bertujuan untuk meningkatkan refleks tubuh secara instan, efek sampingnya justru bisa mengaburkan logika berpikir yang jernih. Dalam kondisi tegang akibat kecepatan tinggi, kemampuan otak untuk melakukan penilaian jarak dan kecepatan objek lain akan menurun drastis. Akibatnya, pengendara cenderung mengambil keputusan yang ceroboh atau melakukan tindakan refleks yang salah saat menghadapi situasi darurat di jalan raya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article