Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi showroom motor (Pexels/Gustavo Fring)
Ilustrasi showroom motor (Pexels/Gustavo Fring)

Intinya sih...

  • Akumulasi bunga bisa melebihi harga motor

  • Risiko negatif ekuitas akibat depresiasi harga kendaraan

  • Beban perawatan mesin muncul sebelum cicilan lunas

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Godaan cicilan ringan sering kali menjadi magnet bagi calon pembeli motor yang ingin tetap menjaga gaya hidup tanpa harus mengorbankan pengeluaran bulanan secara drastis. Penawaran tenor panjang hingga empat atau lima tahun terlihat seperti solusi ajaib yang membuat motor impian terasa sangat terjangkau bagi siapa saja yang memiliki penghasilan tetap.

Namun, di balik angka angsuran yang rendah tersebut, terdapat risiko finansial yang mengintai dan sering kali tidak disadari hingga masa kredit berjalan setengah jalan. Tenor yang terlalu lama bukan sekadar soal durasi pembayaran, melainkan sebuah kontrak yang bisa mengikat kebebasan finansial dan menurunkan nilai aset kendaraan secara signifikan.

1. Akumulasi bunga yang membengkak melebihi harga unit

ilustrasi showroom motor (pexels.com/Gustavo Fring)

Masalah utama yang jarang diperhatikan oleh pengambil tenor panjang adalah total bunga yang harus dibayarkan kepada lembaga pembiayaan. Secara matematis, semakin lama durasi pinjaman, semakin besar pula bunga majemuk yang dibebankan kepada debitur. Jika dihitung secara total, harga motor yang diambil dengan tenor empat tahun bisa membengkak hingga hampir dua kali lipat dari harga tunainya, membuat pembeli sebenarnya membayar dua motor namun hanya mendapatkan satu unit.

Banyak pembeli hanya terpaku pada selisih angsuran bulanan yang terlihat kecil, misalnya hanya berbeda beberapa ratus ribu rupiah antara tenor tiga tahun dan empat tahun. Padahal, jika selisih tersebut dikalikan dengan total bulan, jumlahnya sangat fantastis dan merugikan secara finansial. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk investasi atau kebutuhan masa depan justru habis hanya untuk membayar jasa pinjaman yang sebenarnya bisa diminimalisir dengan pengambilan tenor yang lebih singkat dan realistis.

2. Risiko negatif ekuitas akibat depresiasi harga kendaraan

ilustrasi menghitung dengan kalkulator (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sepeda motor adalah aset yang mengalami penyusutan nilai atau depresiasi dengan sangat cepat, terutama di tahun-tahun awal pemakaian. Ancaman terbesar bagi pengambil tenor panjang adalah kondisi negative equity, di mana nilai pasar motor bekas tersebut turun lebih cepat daripada sisa utang yang harus dilunasi ke pihak leasing. Kondisi ini sangat berbahaya jika terjadi keadaan darurat yang mengharuskan pemilik menjual motornya untuk mendapatkan uang tunai.

Sering kali ditemukan kasus di mana seseorang ingin menjual motor yang sudah dicicil selama dua tahun, namun harga jual motor tersebut bahkan tidak cukup untuk menutup sisa utang di perusahaan pembiayaan. Akibatnya, pemilik motor tidak mendapatkan uang sepeser pun dan justru harus menambah uang sendiri untuk melunasi utang agar dokumen kendaraan bisa keluar. Tenor panjang menciptakan ilusi kepemilikan, padahal secara finansial, utang yang tersisa masih jauh melampaui nilai guna kendaraan yang mulai menua.

3. Beban perawatan mesin yang muncul sebelum cicilan lunas

ilustrasi mesin motor mati (freepik.com/bublikhaus)

Sepeda motor yang sudah memasuki usia pakai di atas tiga tahun mulai memerlukan perawatan besar, seperti penggantian ban, aki, hingga komponen mesin yang mulai aus. Bagi mereka yang mengambil tenor sangat panjang, beban biaya perawatan berat ini akan muncul saat kondisi dompet masih tercekik oleh tagihan angsuran bulanan. Situasi ini menciptakan tekanan finansial ganda; pemilik harus membayar cicilan untuk barang yang kondisinya sudah tidak lagi prima dan mulai sering masuk bengkel.

Kondisi ini sering kali memicu rasa frustrasi karena pengemudi merasa masih membayar "motor baru" padahal motor tersebut sudah terasa seperti "motor tua". Kepuasan emosional saat pertama kali membeli akan hilang dan digantikan oleh rasa jenuh terhadap tagihan yang tak kunjung usai. Memilih tenor yang lebih pendek, meskipun angsurannya terasa sedikit lebih berat di awal, akan memberikan kebebasan lebih cepat dan memastikan bahwa saat motor mulai memerlukan perawatan besar, status kendaraannya sudah lunas sepenuhnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team