Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi knalpot motor (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)
ilustrasi knalpot motor (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)

Intinya sih...

  • Desain silencer dan ruang resonansi memengaruhi karakter suara knalpot, dengan sekat yang lebih sedikit pada knalpot racing menghasilkan suara yang lebih keras.

  • Material knalpot seperti stainless steel atau titanium memberikan resonansi suara yang berbeda, misalnya titanium menghasilkan suara yang lebih nyaring dan tajam.

  • Kapasitas mesin dan setelan pembakaran juga mempengaruhi suara knalpot, dengan mesin ber-CC besar menghasilkan suara yang lebih dalam dan menggelegar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi para pencinta otomotif, suara knalpot sering jadi hal yang khas dan bahkan menjadi identitas motor atau mobil tertentu. Ada yang suaranya halus, ada yang menggelegar, bahkan ada pula yang cenderung cempreng. Perbedaan suara ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari desain, teknologi, dan material yang digunakan dalam sistem pembuangan kendaraan.

Karena itu, setiap produsen merancang knalpot dengan karakter suara berbeda, tergantung kebutuhan motor atau mobil tersebut. Lalu, apa saja faktor yang membuat suara knalpot bisa bervariasi?

1. Desain silencer dan ruang resonansi

ilustrasi knalpot motor (pexels.com/Javier Aguilera)

Silencer atau peredam suara merupakan bagian paling berpengaruh dalam menentukan karakter suara knalpot. Komponen ini memiliki ruang resonansi yang dirancang khusus untuk meredam atau memperkuat getaran suara dari gas buang. Pada knalpot standar, silencer dibuat lebih rapat dengan banyak sekat agar suara terdengar halus dan tidak mengganggu.

Sebaliknya, pada knalpot racing atau aftermarket, desain silencer cenderung lebih terbuka dengan sekat lebih sedikit. Hasilnya, suara gas buang terdengar lebih keras dan menggelegar. Bentuk pipa, panjang silencer, hingga diameter lubang keluaran juga memengaruhi nada suara yang dihasilkan.

2. Material dan ketebalan knalpot

ilustrasi knalpot motor (pexels.com/Dmitry Ovsyannikov)

Bahan yang digunakan untuk membuat knalpot juga punya pengaruh besar pada karakter suara. Knalpot standar biasanya menggunakan baja ringan dengan lapisan pelindung agar tahan panas dan karat. Material ini menghasilkan suara yang cenderung kalem.

Sementara itu, knalpot racing kerap memakai material khusus seperti stainless steel, titanium, atau bahkan karbon. Bahan-bahan ini lebih ringan dan kuat, sekaligus memberikan resonansi suara yang berbeda. Titanium misalnya, dikenal menghasilkan suara yang lebih nyaring dan tajam, sedangkan baja tebal cenderung membuat suara lebih berat dan bulat.

3. Kapasitas mesin dan setelan pembakaran

ilustrasi knalpot motor (pexels.com/Rahul Soni)

Selain desain knalpot, faktor lain yang menentukan suara adalah kapasitas mesin dan setelan pembakaran. Mesin ber-CC besar dengan kompresi tinggi otomatis menghasilkan tekanan gas buang lebih kuat, sehingga suaranya terdengar lebih dalam dan menggelegar. Itulah sebabnya suara motor sport 250cc jelas berbeda dengan motor bebek 125cc, meskipun sama-sama memakai knalpot standar.

Setelan pembakaran yang kaya bahan bakar juga bisa membuat suara knalpot lebih “ngebas” atau bahkan menghasilkan letupan saat deselerasi. Di dunia balap, karakter suara ini kerap dianggap sebagai ciri khas yang membedakan satu motor dengan motor lainnya.

Suara knalpot ternyata bukan hanya soal gaya, tetapi juga cerminan dari desain, material, dan kapasitas mesin kendaraan. Knalpot standar dibuat agar nyaman dan ramah lingkungan, sementara knalpot racing lebih menonjolkan performa dan karakter suara. Jadi, kalau kamu mendengar suara knalpot berbeda di jalan, ketahuilah bahwa di baliknya ada kombinasi teknis yang dirancang khusus untuk mencapai karakter tertentu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team