ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)
Efek lain dari kurang tidur adalah perubahan emosi. Pengendara menjadi lebih mudah marah, tidak sabar, dan cenderung ceroboh. Dalam perjalanan panjang, emosi yang tidak stabil dapat memicu keputusan berisiko, seperti memacu motor secara agresif atau memaksakan diri meski kondisi tubuh sudah tidak fit.
Risiko paling berbahaya adalah microsleep, yaitu kondisi tertidur singkat tanpa disadari selama beberapa detik. Microsleep bisa terjadi meski mata terlihat terbuka. Saat touring motor, kondisi ini sangat berisiko karena dalam hitungan detik pengendara bisa keluar jalur atau kehilangan kendali sepenuhnya.
Lalu, berapa tidur minimal sebelum touring motor? Idealnya, pengendara mendapatkan tidur berkualitas selama 7 hingga 9 jam pada malam sebelum perjalanan. Jika sulit mencapai durasi tersebut, tidur minimal 6 jam masih dianggap batas aman, meski tetap disarankan untuk menambah waktu istirahat melalui tidur siang singkat sebelum berangkat.
Selain durasi, kualitas tidur juga penting. Usahakan tidur lebih awal, hindari kafein berlebihan, dan kurangi penggunaan gawai sebelum tidur. Saat touring, lakukan istirahat setiap 2–3 jam untuk meregangkan tubuh dan memulihkan fokus. Dengan tubuh yang cukup istirahat, perjalanan touring tidak hanya lebih nyaman, tetapi juga jauh lebih aman.