Mengapa ABS Penting di Tengah Banyaknya Kecelakaan Motor

- ABS sebagai penopang keselamatan: Penerapan ABS bertujuan meningkatkan stabilitas dan jarak pengereman, membantu pengendara mengendalikan kendaraan dengan lebih baik.
- Kesenjangan standar keselamatan di Indonesia: Teknologi pengereman seperti ABS masih identik dengan sepeda motor berkapasitas besar, padahal mayoritas kecelakaan dipicu oleh kegagalan fungsi pengereman.
- Kolaborasi dan teknologi sebagai kebutuhan mendesak: Isu keselamatan jalan belum menjadi agenda lintas sektor yang terintegrasi, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi non-pemerintah menjadi penting dalam membenahi tingginya angka kecelakaan lalu lintas.
Jakarta, IDN Times - Tingginya angka kecelakaan sepeda motor masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Sayangnya, di tengah pertumbuhan penjualan sepeda motor yang terus meningkat, standar keselamatan kendaraan belum sepenuhnya berkembang seiring kebutuhan.
Pengalaman India bisa menjadi contoh penting. Mulai 1 Januari 2026, negara tersebut akan mewajibkan sistem pengereman Anti-lock Braking System (ABS) untuk seluruh sepeda motor baru, tanpa memandang kapasitas mesin. Kebijakan ini menegaskan, keselamatan tidak boleh menjadi fitur eksklusif kendaraan berharga mahal.
1. ABS sebagai penopang keselamatan

Penerapan ABS bukan dimaksudkan untuk menggantikan peran pengendara, melainkan menjadi lapisan perlindungan tambahan ketika refleks manusia berada di batasnya. Sistem ini bekerja dengan mencegah roda terkunci saat pengereman mendadak, sehingga pengendara tetap memiliki kendali atas arah motor.
Founder TRAX (Traffic Accident Research & Prevention Society), Rajni Gandhi menegaskan, penerapan ABS secara menyeluruh bertujuan meningkatkan stabilitas dan jarak pengereman dalam berbagai kondisi.
“Perencanaan penerapan ABS pada seluruh sepeda motor ini supaya sistem ini dapat membantu pengendara mengendalikan kendaraan dengan lebih baik serta meningkatkan stabilitas dan jarak pengereman,” ujarnya dalam keterangan yang diterima IDN Times, dikutip Jumat (16/1/2026).
2. Kesenjangan standar keselamatan di Indonesia

Di Indonesia, teknologi pengereman seperti ABS masih identik dengan sepeda motor berkapasitas besar, sementara mayoritas pengguna mengendarai motor di bawah 150 cc. Padahal data Korlantas Polri menunjukkan sekitar 44 persen kecelakaan sepeda motor sepanjang 2024 dipicu oleh kegagalan fungsi pengereman.
Pemerintah sendiri tengah mengkaji revisi PP Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan untuk memasukkan adopsi standar keselamatan dan teknologi internasional, termasuk ABS. Namun, proses regulasi ini berjalan beriringan dengan tantangan besar berupa tingginya angka kecelakaan yang sudah terlanjur terjadi setiap tahun.
3. Kolaborasi dan teknologi sebagai kebutuhan mendesak

Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano menilai, isu keselamatan jalan di Indonesia belum sepenuhnya menjadi agenda lintas sektor yang terintegrasi. Menurutnya, upaya peningkatan perilaku pengguna jalan dan penguatan standar kendaraan masih kerap berjalan parsial.
“Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi non-pemerintah di India menjadi kekuatan penting dalam membenahi tingginya angka kecelakaan lalu lintas, hingga akhirnya melahirkan kebijakan yang konkret,” ungkapnya.
Studi Fakultas Teknik Universitas Indonesia bahkan menunjukkan penggunaan ABS berpotensi menekan kecelakaan sepeda motor hingga 24 persen. Dengan target penurunan fatalitas 50 persen pada 2030, penguatan kebijakan keselamatan berbasis teknologi tak lagi bisa ditunda.


















