Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Sindrom Get-There-itis, Pembunuh Biker di Ujung Perjalanan
ilustrasi naik motor (pexels.com/Khoa Võ)
  • Sindrom get-there-itis membuat pengendara motor kehilangan kewaspadaan saat mendekati tujuan karena dorongan psikologis untuk segera sampai, sehingga risiko kecelakaan meningkat di akhir perjalanan.
  • Lonjakan dopamin menjelang garis akhir menciptakan rasa percaya diri palsu dan menurunkan refleks tubuh, membuat pengendara cenderung memacu kendaraan lebih cepat tanpa memperhatikan kondisi fisik maupun lingkungan.
  • Ritual istirahat terakhir 30–50 kilometer sebelum tujuan disarankan untuk mereset fokus otak, mengurangi efek dopamin, dan menjaga kesadaran agar perjalanan berakhir dengan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada banyak orang naik motor jauh dan capek, tapi bahaya justru datang saat mereka hampir sampai. Kadang otak senang karena mau tiba, jadi orang lupa hati-hati dan malah ngebut. Badan sudah lelah tapi tetap dipaksa jalan. Itu bisa bikin celaka. Supaya aman, sebaiknya berhenti dulu, istirahat, minum air, lalu lanjut pelan-pelan lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menghadirkan sisi positif melalui penjelasan ilmiah yang membantu pengendara memahami mekanisme psikologis di balik kelelahan dan dorongan impulsif menjelang akhir perjalanan. Dengan menguraikan strategi “istirahat terakhir”, tulisan ini menonjolkan bahwa keselamatan dapat ditingkatkan lewat kesadaran diri dan kebiasaan sederhana yang memulihkan fokus serta menjaga kewaspadaan hingga tiba di tujuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perjalanan jauh menggunakan sepeda motor sering kali menyisakan cerita melelahkan yang menguras energi fisik dan mental. Namun, statistik menunjukkan bahwa momen paling krusial dan mematikan dalam sebuah petualangan roda dua bukanlah di tengah belantara jalur lintas provinsi, melainkan justru saat roda kendaraan sudah mendekati wilayah tujuan akhir.

Dalam dunia penerbangan, terdapat sebuah istilah psikologis bernama get-there-itis, yaitu obsesi berlebihan untuk segera mencapai titik tujuan hingga mengabaikan berbagai tanda bahaya di sekitar. Fenomena psikologis inilah yang sering kali menjadi pembunuh senyap bagi para pemotor yang tidak menyadari bahwa kewaspadaan mereka justru merosot tajam menjelang garis finish.

Berikut adalah ulasan mengenai bahaya sindrom ini serta taktis pencegahannya demi keselamatan berkendara.

1. Jebakan dopamin saat otak merasa perjalanan hampir usai

ilustrasi touring naik motor (pexels.com/Zaur Takhgiriev)

Secara psikologis, tubuh manusia bereaksi secara unik ketika menyadari bahwa perjalanan panjang akan segera berakhir, misalnya saat papan penunjuk jalan menunjukkan jarak tujuan tersisa kurang dari 50 kilometer lagi. Pada momen ini, otak secara otomatis merilis hormon dopamin karena adanya rasa lega dan antisipasi bahwa kenyamanan rumah atau tempat tujuan sudah berada di depan mata.

Celakanya, lonjakan dopamin ini menciptakan ilusi optik dan mental yang berbahaya bagi pengendara motor. Pemotor cenderung menurunkan tingkat kewaspadaan secara drastis karena merasa sudah menguasai medan jalanan urban yang mulai familier. Rasa lelah yang menumpuk selama berjam-jam seolah sirna seketika, digantikan oleh dorongan impulsif untuk memutar selongsong gas lebih dalam agar bisa sampai beberapa menit lebih cepat, tanpa memedulikan penurunan drastis pada refleks tubuh.

2. Mengabaikan alarm tubuh demi ego waktu beberapa menit

Ilustrasi Touring (Pexels.com/Ene Marius)

Ketika sindrom get-there-itis menguasai pikiran, akal sehat pengendara sering kali lumpuh oleh ego. Gejala fisik seperti mata yang mulai perih, leher kaku, atau hilangnya konsentrasi akibat dehidrasi berat diabaikan begitu saja dengan dalih tanggung karena jarak yang tersisa hanya tinggal hitungan menit perjalanan lagi.

Keputusan menolak berhenti ini sering kali berujung fatal karena jalur di 50 kilometer terakhir biasanya merupakan area perkotaan yang padat dengan karakteristik lalu lintas yang jauh lebih dinamis dan acak. Pemotor yang mengantuk dalam kondisi otopilot ini dipaksa berhadapan dengan penyeberang jalan, kendaraan yang berbelok mendadak, atau kemacetan arus lokal. Kombinasi antara fisik yang kelelahan ekstrem dan kecepatan motor yang sengaja ditingkatkan menjadi resep sempurna terjadinya kecelakaan fatal di sisa akhir perjalanan.

3. Melawan sindrom dengan ritual istirahat terakhir sebelum sampai tujuan

ilustrasi pengendara motor yang sedang touring (pexels.com/Nishant Aneja)

Taktik paling efektif untuk memutus rantai psikologis yang mematikan ini adalah dengan sengaja membangun sebuah ritual baru, yaitu melakukan "istirahat terakhir" justru di zona rawan 30 hingga 50 kilometer sebelum tiba di tujuan. Begitu melihat papan penunjuk jalan bahwa jarak sudah semakin dekat, cari tempat aman seperti pom bensin atau kedai kopi pinggir jalan untuk menepi selama minimal 15 menit.

Gunakan waktu jeda ini untuk mematikan mesin, meluruskan kaki, membasuh muka dengan air dingin, dan meminum air putih dalam jumlah cukup. Ritual sederhana ini berfungsi untuk mereset kembali fokus otak dan menurunkan ketegangan saraf akibat dorongan dopamin yang menggebu-gebu. Dengan memaksa tubuh beristirahat sejenak di fase kritis ini, kesadaran penuh pengendara akan kembali terjaga, sehingga sisa perjalanan yang tinggal sedikit dapat ditempuh dengan kepala dingin hingga benar-benar sampai di rumah dengan selamat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article