Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ekspor dan impor
ilustrasi ekspor dan impor (pexels.com/Thomas Parker)

Intinya sih...

  • Total impor sekitar 14 juta dolar Amerika atau sekitar Rp217 miliar

  • Komoditas pangan mendominasi struktur impor dari Venezuela.

  • Sayuran, kacang-kacangan, dan biji kakao menjadi komoditas utama yang diimpor Indonesia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Hubungan dagang Indonesia dan Venezuela kerap luput dari sorotan karena volumenya relatif kecil dibandingkan mitra dagang utama lainnya. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, total impor Indonesia dari Venezuela tercatat sekitar 14 juta dolar Amerika atau sekitar Rp217 miliar. Angka tersebut turun lebih dari 30 persen secara tahunan, di tengah kondisi geopolitik dan ekonomi Venezuela yang masih bergejolak.

Meski demikian, data perdagangan menunjukkan pola yang cukup konsisten terkait komoditas yang masuk ke Indonesia. Impor dari Venezuela tidak tersebar merata, melainkan sangat terpusat pada beberapa produk tertentu. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Venezuela bukan pemasok strategis bagi industri hulu nasional, melainkan pemasok ceruk untuk kebutuhan spesifik, terutama sektor pangan.

1. Impor Indonesia dari Venezuela masih berskala kecil dan terpusat

ilustrasi ekspor dan impor (pexels.com/freestocks.org)

Secara nilai, impor Indonesia dari Venezuela tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan total impor nasional. Dengan nilai sekitar 14 juta dolar Amerika atau sekitar Rp217 miliar sepanjang 2025, Venezuela tercatat sebagai negara asal impor ke-105 bagi Indonesia. Posisi ini menegaskan bahwa Venezuela belum memiliki peran signifikan dalam struktur perdagangan luar negeri Indonesia.

Selain itu, struktur impornya juga sangat terpusat. Hampir seluruh nilai impor Indonesia dari Venezuela hanya berasal dari dua kelompok komoditas utama. Akibatnya, kinerja impor menjadi rentan terhadap fluktuasi satu atau dua produk saja. Jika permintaan atau pasokan salah satu komoditas melemah, nilai impor secara keseluruhan langsung ikut tertekan.

2. Komoditas pangan mendominasi struktur impor dari Venezuela

ilustrasi ekspor dan impor (pexels.com/Tom Fisk)

Produk pangan menjadi tulang punggung impor Indonesia dari Venezuela. Kelompok sayuran dan kacang-kacangan kering, seperti kacang hijau dan kacang urad, mencatat nilai impor sekitar 6,9 juta dolar Amerika atau sekitar Rp107 miliar sepanjang 2025. Komoditas ini banyak digunakan sebagai bahan pangan dan relatif mudah diperdagangkan karena tidak memerlukan teknologi tinggi maupun pembiayaan kompleks.

Selain itu, biji kakao juga menjadi komoditas utama yang diimpor Indonesia dari Venezuela. Nilainya mencapai sekitar 6,1 juta dolar Amerika atau sekitar Rp95 miliar, baik dalam bentuk mentah maupun yang telah disangrai. Kakao tersebut masuk ke rantai pasok industri makanan dan minuman di Indonesia. Dominasi produk pangan ini menunjukkan bahwa hubungan dagang Indonesia–Venezuela lebih didorong oleh kebutuhan konsumsi, bukan kebutuhan industri berat atau manufaktur.

3. Produk Paling Banyak Diimpor Indonesia dari Venezuela

ilustrasi ekspor dan impor (pexels.com/Aan Amrin)

Jika ditelisik lebih rinci, daftar produk paling banyak diimpor Indonesia dari Venezuela menunjukkan ketimpangan nilai yang cukup mencolok. Dua komoditas teratas menyerap hampir seluruh nilai impor, sementara produk lainnya hanya menyumbang porsi yang sangat kecil. Data ini menegaskan bahwa struktur impor Indonesia dari Venezuela masih sangat terbatas dan belum beragam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan sepanjang 2025, berikut sepuluh produk Venezuela yang paling banyak diimpor Indonesia:

  1. Sayuran kacang-kacangan kering: sekitar 6,9 juta dolar Amerika atau sekitar Rp107 miliar

  2. Biji kakao: sekitar 6,1 juta dolar Amerika atau sekitar Rp95 miliar

  3. Bubuk kakao murni tanpa tambahan gula: sekitar 777 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp12 miliar

  4. Aluminium mentah dalam bentuk paduan: sekitar 246,5 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp3,8 miliar

  5. Kacang tanah kupas, tidak disangrai atau dimasak: sekitar 40,75 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp631 juta

  6. Kabel listrik berisolasi jenis koaksial dan sejenisnya: sekitar 14,9 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp231 juta

  7. Karet divulkanisir berupa sabuk konveyor atau transmisi: sekitar 454 dolar Amerika atau sekitar Rp7 juta

  8. Pakaian renang wanita atau anak perempuan nonrajut: sekitar 288 dolar Amerika atau sekitar Rp4,4 juta

  9. Segel dari karet non-seluler: sekitar 258 dolar Amerika atau sekitar Rp4 juta

  10. Segel mekanis: sekitar 89 dolar Amerika atau sekitar Rp1,3 juta

Komposisi tersebut menegaskan bahwa produk paling banyak diimpor Indonesia dari Venezuela masih didominasi bahan pangan dan bahan mentah bernilai tambah rendah. Meski beberapa produk manufaktur tercatat dalam daftar, nilainya sangat kecil dan belum mencerminkan pergeseran struktur perdagangan. Dengan kondisi ini, Venezuela masih berperan sebagai pemasok pinggiran bagi Indonesia, bukan mitra strategis utama dalam rantai pasok nasional.

Secara keseluruhan, pola impor Indonesia dari Venezuela sepanjang 2025 memperlihatkan hubungan dagang yang asimetris dan terbatas. Indonesia mengimpor produk pangan dan bahan mentah dalam jumlah kecil, sementara ekspor Indonesia ke Venezuela justru didominasi barang bernilai tambah lebih tinggi. Kondisi ini menempatkan Venezuela sebagai pemasok pinggiran, bukan penyangga utama rantai pasok Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team