ilustrasi ekspor dan impor (pexels.com/Aan Amrin)
Jika ditelisik lebih rinci, daftar produk paling banyak diimpor Indonesia dari Venezuela menunjukkan ketimpangan nilai yang cukup mencolok. Dua komoditas teratas menyerap hampir seluruh nilai impor, sementara produk lainnya hanya menyumbang porsi yang sangat kecil. Data ini menegaskan bahwa struktur impor Indonesia dari Venezuela masih sangat terbatas dan belum beragam.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan sepanjang 2025, berikut sepuluh produk Venezuela yang paling banyak diimpor Indonesia:
Sayuran kacang-kacangan kering: sekitar 6,9 juta dolar Amerika atau sekitar Rp107 miliar
Biji kakao: sekitar 6,1 juta dolar Amerika atau sekitar Rp95 miliar
Bubuk kakao murni tanpa tambahan gula: sekitar 777 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp12 miliar
Aluminium mentah dalam bentuk paduan: sekitar 246,5 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp3,8 miliar
Kacang tanah kupas, tidak disangrai atau dimasak: sekitar 40,75 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp631 juta
Kabel listrik berisolasi jenis koaksial dan sejenisnya: sekitar 14,9 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp231 juta
Karet divulkanisir berupa sabuk konveyor atau transmisi: sekitar 454 dolar Amerika atau sekitar Rp7 juta
Pakaian renang wanita atau anak perempuan nonrajut: sekitar 288 dolar Amerika atau sekitar Rp4,4 juta
Segel dari karet non-seluler: sekitar 258 dolar Amerika atau sekitar Rp4 juta
Segel mekanis: sekitar 89 dolar Amerika atau sekitar Rp1,3 juta
Komposisi tersebut menegaskan bahwa produk paling banyak diimpor Indonesia dari Venezuela masih didominasi bahan pangan dan bahan mentah bernilai tambah rendah. Meski beberapa produk manufaktur tercatat dalam daftar, nilainya sangat kecil dan belum mencerminkan pergeseran struktur perdagangan. Dengan kondisi ini, Venezuela masih berperan sebagai pemasok pinggiran bagi Indonesia, bukan mitra strategis utama dalam rantai pasok nasional.
Secara keseluruhan, pola impor Indonesia dari Venezuela sepanjang 2025 memperlihatkan hubungan dagang yang asimetris dan terbatas. Indonesia mengimpor produk pangan dan bahan mentah dalam jumlah kecil, sementara ekspor Indonesia ke Venezuela justru didominasi barang bernilai tambah lebih tinggi. Kondisi ini menempatkan Venezuela sebagai pemasok pinggiran, bukan penyangga utama rantai pasok Indonesia.