Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ongkos Logistik Internasional Terancam Naik Imbas Kisruh Venezuela-AS

Ongkos Logistik Internasional Terancam Naik Imbas Kisruh Venezuela-AS
Ilustrasi pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara (dok. Pelindo)
Intinya Sih

  • Kenaikan biaya logistik internasional terancam akibat kisruh AS-Venezuela.

  • Importir perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan impor di tengah ketidakpastian global.

  • Eksportir Indonesia disarankan untuk memperkuat supply chain resilience dan meninjau kembali klausul kontrak ekspor.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Eskalasi ketegangan geopolitik global kembali meningkat menyusul serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dan kelancaran rantai pasok global.

Situasi ini terjadi di tengah upaya Indonesia memperluas diversifikasi pasar ekspor, khususnya ke kawasan Amerika Selatan melalui berbagai inisiatif kerja sama perdagangan.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi menilai, kendati konflik tersebut tidak berdampak langsung terhadap jalur perdagangan Indonesia–Amerika Selatan, potensi dampak lanjutan (secondary impact) tetap perlu diwaspadai.

"Gangguan geopolitik di negara produsen energi berisiko memicu volatilitas harga minyak global yang pada akhirnya berdampak pada biaya bahan bakar dan ongkos logistik internasional," ujar Setijadi, dikutip Kamis (8/1/2026).

1. Jadwal pengiriman juga bisa terdampak kisruh AS-Venezuela

Aktivitas di Terminal Petikemas Tanjung Priok, Jakarta Utara
Aktivitas di Terminal Petikemas Tanjung Priok, Jakarta Utara (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Kenaikan biaya bunker dan penyesuaian surcharge pelayaran berpotensi meningkatkan biaya freight pada rute lintas Pasifik maupun rute dengan transit di hub utama global.

Kondisi ini juga dapat menekan daya saing harga produk ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas manufaktur dan produk bernilai tambah menengah yang sensitif terhadap biaya logistik. Selain faktor biaya, Setijadi menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan global juga berpotensi memengaruhi reliabilitas jadwal pengiriman.

"Penyesuaian rute pelayaran, konsolidasi muatan, hingga perubahan port of call oleh perusahaan pelayaran dapat memperpanjang lead time dan meningkatkan ketidakpastian pasokan ke pasar Amerika Selatan, termasuk ke negara tujuan utama seperti Peru dan Brasil," tutur dia.

2. Importir bakal lebih berhati-hati ambil keputusan

ilustrasi ekspor-impor
ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Dari sisi permintaan, Setijadi mencermati kecenderungan pembeli di kawasan tersebut untuk bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan impor.

"Importir cenderung memperketat klausul kontrak, meminta fleksibilitas jadwal pengiriman, serta menuntut jaminan kontinuitas pasokan di tengah meningkatnya ketidakpastian global," kata dia.

Menghadapi kondisi tersebut, Setijadi pun menekankan kepentingan penguatan supply chain resilience bagi eksportir Indonesia. Diversifikasi rute pengiriman dan mitra logistik menjadi langkah awal untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur atau satu penyedia jasa pelayaran.

3. Rekomendasi bagi eksportir Indonesia

Ekspor
Aktivitas ekspor Sumsel (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Setijadi juga merekomendasikan agar eksportir secara proaktif meninjau dan menyesuaikan klausul kontrak ekspor, khususnya yang berkaitan dengan jadwal pengiriman, mekanisme penyesuaian biaya logistik, serta pengaturan force majeure. Langkah ini dinilai Setijadi pening untuk menjaga keberlanjutan hubungan bisnis dengan buyer di tengah dinamika global yang cepat berubah.

Selain itu, eksportir Indonesia perlu meningkatkan perencanaan persediaan dan manajemen lead time, termasuk mempertimbangkan buffer stock atau safety time untuk kontrak berulang. Strategi ini bertujuan menjaga service level dan kepercayaan pasar, meskipun terjadi gangguan pada sistem transportasi internasional.

Setijadi pun menegaskan, eskalasi geopolitik global tidak seharusnya menghambat agenda diversifikasi pasar ekspor Indonesia ke Amerika Selatan.

"Dengan strategi logistik yang adaptif, komunikasi yang transparan dengan mitra dagang, serta penguatan manajemen risiko rantai pasok, Indonesia justru berpeluang memperkuat posisi sebagai mitra dagang yang handal dan kompetitif di kawasan tersebut," tutur Setijadi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More