Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
2 Negara ASEAN Ini Masuk 10 Besar Pemilik Utang Terbesar di Dunia
ilustrasi utang (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Singapura menempati posisi ketiga dunia dengan total utang 347 persen terhadap PDB, didorong oleh utang pemerintah, korporasi, dan rumah tangga yang tinggi.
  • Malaysia berada di posisi ke-10 dunia dengan rasio utang 224 persen terhadap PDB, dipicu oleh tingginya utang rumah tangga dan pembiayaan agresif sektor bisnis.
  • Indonesia memiliki rasio utang relatif rendah sebesar 79 persen terhadap PDB, jauh di bawah Singapura dan Malaysia, menunjukkan kondisi fiskal yang lebih terkendali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kuartal IV-2025

Visual Capitalist merilis data Global Debt Monitor dari Institute of International Finance (IIF) yang menunjukkan dua negara ASEAN, Singapura dan Malaysia, masuk daftar 10 besar pemilik utang terbesar di dunia.

kini

Singapura menempati posisi ketiga dengan total utang 347 persen terhadap PDB, sementara Malaysia berada di posisi ke-10 dengan rasio 224 persen. Indonesia tercatat memiliki rasio utang jauh lebih rendah, yakni 79 persen terhadap PDB.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dua negara ASEAN, yaitu Singapura dan Malaysia, masuk dalam daftar 10 besar negara dengan total utang terbesar di dunia pada kuartal IV tahun 2025.
  • Who?
    Singapura dan Malaysia tercatat memiliki rasio utang tertinggi di kawasan ASEAN berdasarkan laporan Global Debt Monitor dari Institute of International Finance (IIF) yang dirilis oleh Visual Capitalist.
  • Where?
    Data mencakup kondisi ekonomi global dengan fokus pada kawasan Asia Tenggara, khususnya Singapura dan Malaysia sebagai negara yang menempati posisi teratas dalam daftar tersebut.
  • When?
    Laporan ini merujuk pada periode kuartal IV tahun 2025, dengan publikasi data dilakukan baru-baru ini oleh Visual Capitalist.
  • Why?
    Tingginya aktivitas bisnis, pembiayaan korporasi, serta strategi fiskal di kedua negara mendorong peningkatan rasio utang hingga melampaui rata-rata global.
  • How?
    Singapura mencatat total utang sebesar 347 persen terhadap PDB, sedangkan Malaysia mencapai 224 persen terhadap PDB; keduanya terdiri dari kombinasi utang rumah tangga, korporasi, dan pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dua negara di Asia Tenggara punya utang yang sangat besar. Namanya Singapura dan Malaysia. Singapura ada di urutan ketiga di dunia, dan Malaysia di urutan kesepuluh. Utang mereka banyak karena bisnis dan belanja pemerintah. Indonesia utangnya lebih kecil. Sekarang banyak negara juga punya utang tinggi karena ekonomi dunia lagi susah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Data yang menunjukkan Singapura dan Malaysia masuk daftar sepuluh besar pemilik utang terbesar di dunia dapat dilihat sebagai cerminan dari dinamika ekonomi yang aktif di kawasan ASEAN. Tingginya rasio utang kedua negara ini berkaitan dengan pembiayaan korporasi, ekspansi bisnis, serta strategi fiskal yang menandakan keberanian mereka menjaga pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - ASEAN ternyata memiliki dua negara yang masuk daftar 10 besar pemilik utang terbesar di dunia pada kuartal IV-2025. Bukan Indonesia atau Thailand, melainkan Singapura dan Malaysia. Data tersebut dirilis Visual Capitalist berdasarkan laporan Global Debt Monitor dari Institute of International Finance (IIF).

Menariknya, dua negara ini justru dikenal sebagai ekonomi yang relatif stabil di Asia Tenggara. Namun, tingginya aktivitas bisnis, pembiayaan korporasi, hingga strategi fiskal membuat rasio utang mereka melonjak jauh di atas rata-rata global.

1. Singapura tempati posisi ketiga negara paling banyak utang di dunia

ilustrasi utang (IDN Times/Nathan Manaloe)

Singapura menjadi negara ASEAN dengan total utang terbesar sekaligus menempati posisi ketiga dunia. Total utangnya mencapai 347 persen terhadap PDB. Singapura hanya unggul dari Hong Kong dan Jepang di posisi pertama serta kedua sebagai negara dengan utang terbesar di dunia.

Angka itu bahkan lebih tinggi dibanding Amerika Serikat (AS), China, maupun Korea Selatan. Adapun komposisi utang Singapura terdiri dari utang rumah tangga 45 persen PDB, utang korporasi 130 persen PDB, dan utang pemerintah 172 persen PDB

Besarnya utang pemerintah Singapura pun menjadi sorotan. Namun, Visual Capitalist menjelaskan negara-negara maju memang banyak mengalami lonjakan utang akibat stimulus ekonomi, belanja industri, hingga kebutuhan pertahanan setelah pandemik COVID-19.

2. Malaysia kalahkan Inggris soal rasio utang

Ilustrasi utang (IDN Times/Nathan Manaloe)

Malaysia juga mengejutkan karena jadi negara kedua di ASEAN yang masuk posisi ke-10 dunia dengan total utang sebesar 224 persen terhadap PDB. Angka itu lebih tinggi dibanding Inggris dan hanya sedikit di bawah Italia.

Rincian utang Malaysia meliputi utang rumah tangga sebesar 70 persen PDB, utang korporasi 88 persen PDB, dan utang pemerintah 66 persen PDB.

Tingginya utang rumah tangga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong posisi Malaysia masuk daftar 10 besar tersebut. Selain itu, sektor bisnis di negara tersebut juga cukup agresif memanfaatkan pembiayaan utang untuk ekspansi.

3. Indonesia jadi salah satu negara dengan utang rendah di ASEAN

Ilustrasi utang. (IDN Times/Aditya Pratama)

Berbeda dengan Singapura dan Malaysia, Indonesia justru memiliki rasio total utang yang jauh lebih rendah. Total utang Indonesia tercatat 79 persen terhadap PDB.

Rinciannya terdiri dari utang rumah tangga sebesar 15 persen PDB, utang korporasi sebesar 24 persen PDB, dan utang pemerintah sebesar 40 persen PDB.

Dengan angka tersebut, Indonesia berada jauh di bawah Singapura (347 persen PDB), Malaysia (224 persen PDB), Thailand (223 persen PDB), hingga Vietnam (161 persen PDB) dalam hal total rasio utang.

Sementara itu, Visual Capitalist juga mencatat lonjakan utang global saat ini dipicu kondisi ekonomi dunia yang penuh tekanan. Banyak negara masih menjalankan defisit besar, sedangkan rumah tangga dan perusahaan menghadapi biaya pinjaman yang makin mahal akibat suku bunga tinggi dan ketidakpastian ekonomi global.

Editorial Team