Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bayar pajak (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi bayar pajak (IDN Times/Aditya Pratama)

Intinya sih...

  • Kronologi modus terbaru penipuan mengatasnamakan pajak

  • Ciri-ciri penipuan yang membedakan petugas asli dengan penipu

  • Tips terhindar dari penipuan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dalam setiap periode musim pelaporan pajak, biasanya kasus penipuan yang mengatasnamakan petugas Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengalami peningkatan cukup signifikan.

Mengutip situs resmi BCA, ada periode-periode kritis saat penipuan sering muncul. Pertama, Januari-Maret berupa peningkatan jumlah penipuan yang menyasar Wajib Pajak Orang Pribadi lantaran bertepatan dengan batas akhir pelaporan SPT pada 31 Maret.

Kemudian pada April, yakni peningkatan jumlah penipuan yang menyasar Wajib Pajak Badan (Perusahaan) karena batas akhir pelaporan SPT Badan adalah 30 April.

Pada masa transisi kebijakan, yakni saat ada pembaruan sistem atau data besar-besaran seperti implementasi sistem Coretax atau pemutakhiran data NPWP.

Kemudian pada periode akhir tahun yang biasanya muncul modus terkait tunggakan pajak atau ancaman penyitaan aset untuk mengejar target penerimaan negara pada akhir tahun.

1. Kronologi modus terbaru penipuan mengatasnamakan pajak

Ilustrasi penipuan dan penggelapan. (IDN Times/Aditya Pratama)

Seiring adanya peraturan baru tentang pelaporan pajak melalui Coretax, sekarang muncul modus operandi terbaru yang mengaku sebagai petugas pajak dengan dalih sinkronisasi dan verifikasi ulang data Coretax.

Berikut kronologi modus tersebut seperti dikutip dari situs resmi BCA:

  • Pelaku menelepon calon korban, mengaku sebagai petugas pajak. Untuk meyakinkan korban, pelaku menyebutkan detail alamat dan nomor NIK korban.

  • Pelaku menginformasikan adanya tugas untuk “melakukan sinkronisasi dan verifikasi data ulang atas pembaruan sistem Coretax” yang tidak dikenai biaya hanya perlu membayar biaya materai sebesar 10 ribu rupiah.

  • Lalu korban diminta untuk mengecek file PDF berisi data pajak milik korban yang dikirimkan via WhatsApp. Jika datanya benar korban diminta untuk merespons kebenaran data.

  • Pelaku menelpon via Whatsapp Call dan memandu korban untuk klik lambang titik 3 di kiri bawah layar HP, kemudian pilih “screen sharing”.

  • Lalu diminta melakukan transfer biaya materai sebesar Rp10 ribu ke nomor rekening yang diberikan. Tujuannya agar si penipu bisa mengetahui user ID dan password mobile banking korban.

  • Pelaku mengirimkan pesan WhatsApp berisi tautan yang menyerupai Google Play Store dan meminta nasabah mengunduh aplikasi Coretax. Pelaku beralasan bahwa aplikasi tersebut merupakan versi terbaru yang wajib diinstal untuk verifikasi data.

  • Motif tersebut bertujuan untuk mendapatkan approval remote access agar pelaku dapat melihat, merekam dan mengontrol perangkat milik korban secara remote.

Beberapa saat kemudian, korban menyadari ada beberapa transaksi yang terjadi dan saldo rekeningnya berkurang.

2. Ciri-ciri penipuan

ilustrasi bayar pajak (IDN Times/Aditya Pratama)

Beberapa poin berikut membedakan petugas asli dengan penipu:

Domain email dan web: DJP hanya menggunakan email dengan domain @pajak.go.id dan situs resmi pajak.go.id

Tidak Ada tautan / file .APK: DJP tidak pernah mengirimkan link atau file instalasi aplikasi melalui WhatsApp.

Pembayaran pajak: Pembayaran hanya dilakukan menggunakan Kode Billing melalui bank persepsi/kantor pos, bukan transfer ke rekening pribadi atas nama perorangan (termasuk bayar materai).

Layanan mandiri: Pembaruan data dilakukan secara mandiri melalui portal resmi atau kantor pajak terdekat, bukan dipandu via telepon pribadi.

3. Tips terhindar dari penipuan

Ilustrasi Kring Pajak (Website/pajak.go.id)

Nah, jika kamu menerima kontak mencurigakan, segera ambil tindakan berikut ini:

  • Jangan membalas pesan atau mengikuti instruksi di telepon. Segera blokir nomor tersebut.

  • Jangan pernah mengunduh file atau mengklik tautan yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.

  • Selalu jaga kerahasiaan data pribadi perbankan kamu untuk alasan apapun.

  • Bagi pengguna Android bisa mematikan fitur accessibility and assistance, dan install antivirus yang baik agar handphone kamu terlindungi.

  • Hubungi layanan resmi Kring Pajak 1500200 atau datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdekat.

  • Jika mendapatkan informasi terkait BCA yang meragukan, segera hubungi Halo BCA di 1500888 atau via aplikasi haloBCA.

Editorial Team