Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi influencer (pexels.com/Blue Bird)
ilustrasi influencer (pexels.com/Blue Bird)

Intinya sih...

  • 54 persen Millennial dan Gen Z melaporkan penipuan finansial di media sosial

  • Banyak anak muda kesulitan menavigasi risiko keuangan daring

  • Ancaman berbahaya media sosial terhadap literasi keuangan anak muda

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Di era yang penuh dengan keterlibatan media sosial dalam segala hal saat ini, influencer atau pemengaruh punya peran dalam pengambilan keputusan setiap pengikutnya. Tak terkecuali untuk urusan finansial.

Pemengaruh saat ini kerap menjadi patokan dalam urusan keuangan pengikutnya, tetapi hal itu justru menimbulkan banyak risiko berbahaya terutama ketika saran soal keuangan yang diberikan tidak terverifikasi, cenderung emosional, dan dikomersialisasikan.

1. Penipuan bertemakan finansial di media sosial

ilustrasi penipuan (IDN Times/Aditya Pratama)

Di dalam survei Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 yang dirilis bertepatan dengan gelaran Indonesia Summit 2025 disebutkan, pada kemudahan akses tersebut hadir kerentanan, sebab saat ini 54 persen generasi Millennial dan Gen Z Indonesia melaporkan setidaknya satu penipuan bertemakan finansial di media sosial.

"Penipuan itu ada banyak macam jenisnya, mulai dari skema investasi palsu hingga influencer endorsement yang menyesatkan. Paparan yang semakin meningkat ini menandakan kesenjangan kepercayaan yang semakin lebar, terutama dalam lanskap digital saat pemengaruh keuangan seringkali memiliki kekuatan persuasif yang lebih besar daripada lembaga tradisional," tulis laporan IMGR 2026, Rabu (27/8/2025).

2. Banyak anak muda sulit menavigasi risiko keuangan daring

Ilustrasi penipuan dan penggelapan. (IDN Times/Aditya Pratama)

Meskipun fasih berinternet, banyak anak muda Indonesia kesulitan dalam mengatur emosi dan berpikir kritis guna menavigasi risiko keuangan daring.

Data di dalam IMGR 2026 menyebutkan, hanya 37 persen Millennial dan Gen Z yang merasa yakin mengenali penipuan keuangan. Kemudian cuma 28 persen Millennial dan Gen Z yang secara konsisten memverifikasi saran dari pemengaruh atau kreator konten.

Hal tersebut tentunya menyoroti kesenjangan krusial, yang bukan hanya akses ke perangkat keuangan, melainkan literasi keuangan yang lebih mendalam—yang dibangun di atas skeptisisme, kebijaksanaan, dan kesadaran emosional.

3. Ancaman berbahaya media sosial terhadap literasi keuangan anak muda

ilustrasi literasi keuangan (pexels.com/KaboomPics)

Literasi keuangan saat ini bukan lagi hanya tentang memahami angka, melainkan tentang memahami motif, emosi, dan mekanisme di balik apa yang muncul di linimasa.

Bagi generasi yang tumbuh dalam ekonomi on-demand, platform digital telah menjadi sumber utama pengetahuan keuangan. Dari kiat penganggaran di TikTok hingga kiat investasi di Instagram Reels, Millennial dan Gen Z semakin beralih ke kreator konten, bukan lembaga tradisional untuk mendapatkan panduan dalam mengelola keuangan mereka.

Pergeseran ini telah mendemokratisasi pendidikan keuangan, tetapi juga membuka pintu bagi risiko-risiko baru. Tanpa pengawasan regulasi, saran menyesatkan, strategi yang terlalu disederhanakan, dan promosi investasi yang agresif dapat menyebar tanpa terkendali membuat audiens muda rentan terhadap bahaya.

IDN menggelar Indonesia Summit 2025, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "Theme: Thriving Beyond Turbulence Celebrating Indonesia's 80 years of purpose, progress, and possibility". IS 2025 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2025 diadakan pada 27 - 28 Agustus 2025 di Tribrata Dharmawansa, Jakarta. Dalam IS 2025, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei dilakukan pada Februari sampai April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z.

Survei ini menjangkau responden di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.

Editorial Team