Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ada Jeda Eskalasi, Kapal Pertamina Ditarget Segera Keluar Selat Hormuz
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Pemerintah terus berkomunikasi intensif agar dua kapal Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz bisa segera keluar seiring adanya jeda eskalasi konflik di Timur Tengah.
  • Indonesia tidak bergantung penuh pada minyak mentah dari Timur Tengah, karena hanya sekitar 20–25 persen kebutuhan nasional yang melewati Selat Hormuz.
  • Pemerintah telah mengamankan pasokan minyak mentah pengganti dari Amerika dan negara Afrika, sementara stok LPG tetap aman karena sumbernya berasal dari Australia dan AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah masih melakukan komunikasi intensif untuk menangani dua kapal Pertamina yang terdampak eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Bahlil berharap kapal Pertamina yang tertahan di kawasan Selat Hormuz dapat segera teratasi dengan adanya jeda eskalasi konflik alias gencatan senjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran di kawasan tersebut dalam dua pekan ke depan.

"Lagi dilakukan komunikasi yang intens terkait dengan dua kapal itu. Insya Allah doain bisa cepat. Dengan redanya ada jeda dua minggu daripada eskalasi di Timur Tengah mudah-mudahan bisa cepat selesai," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

1. RI tak bergantung impor minyak mentah dari Timur Tengah

Kapal tanker PT Pertamina International Shipping (PIS). (dok. PIS)

Kebutuhan Indonesia terhadap pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz hanya terbatas pada minyak mentah (crude oil). Dia menegaskan Indonesia tidak pernah mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari wilayah Timur Tengah.

Menurut datanya, jumlah minyak mentah yang didatangkan melalui jalur Selat Hormuz hanya berkisar antara 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan nasional.

"Total yang kita ambil dari Selat Hormuz untuk crude, kita kan enggak pernah impor BBM jadi dari Timur Tengah, dari Middle East. Yang ada itu tinggal crude-nya saja, crude-nya itu sekitar 20 sampai 25 persen," tuturnya.

2. Pemerintah sudah temukan pemasok pengganti

ilustrasi kapal tanker Pertamina International Shipping (dok. PIS)

Untuk mengantisipasi gangguan di Timur Tengah, Bahlil menyatakan pemerintah telah berhasil mengamankan pasokan minyak mentah pengganti dari beberapa negara lain.

Indonesia kini mulai beralih mengambil pasokan dari As, serta sejumlah negara di Afrika seperti Angola dan Nigeria. Dengan adanya alternatif tersebut, dia memastikan kondisi stok minyak mentah saat ini dalam posisi aman.

"Kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain. Jadi kita Insya Allah sudah clear lah Insya Allah aman," ujar Bahlil.

3. Pasokan LPG tidak terdampak konflik di Timur Tengah

Kapal pengangkut LPG Pertamina. (dok. Pertamina)

Mengenai ketersediaan liquefied petroleum gas (LPG), Bahlil menegaskan gangguan di Selat Hormuz tidak memberikan pengaruh terhadap stok nasional. Sebab, sumber impor LPG Indonesia saat ini berasal dari Australia, AS, dan beberapa negara lainnya.

"Kalau LPG enggak ada urusannya sama Selat Hormuz karena kita sudah ambil dari Australia, dari Amerika, dan beberapa negara lain ya," kata dia.

Editorial Team